Saya politikus? Ha..ha..ha.. saya lebih suka disebut sastrawan mbeling yang memotret situasi di sekitar saya dalam bentuk tulisan....
Welcome to my blog, anyway!

Search This Blog

Friday, April 21, 2006

MILIS & BLOG; FENOMENA BARU DI DUNIA MEDIA

Usia Milis sudah setua usia keberadaan Internet. Bahkan milis dulu adalah cikal-bakal Internet. Milis adalah sebuah kelompok pengguna Internet yang menyatukan diri dalam sebuah minat, misalnya diskusi politik, penggemar sebuah merek kendaraan, perdagangan, bisnis, hingga sebuah komunitas perumahan. Sebuah server digunakan milis untuk mendistribusikan posting yang dikirimkan seorang anggota ke seluruh anggota milis secara otomatis. Ada milis yang dikelola oleh moderator atau juga yang tidak. Sekarang membuat sebuah milis adalah pekerjaan yang amat mudah, karena banyak provider yang menyediakan secara gratis fasilitas untuk membuat milis di Internet. Salah satunya adalah perusahaan Yahoo.com.

Dulu ketika Internet pertama kali masuk ke Indonesia, ada sebuah milis yang amat terkenal, Indonesia-L, yang dikelola oleh John McDougal. Milis ini adalah kelompok diskusi mengenai Indonesia. Di milis ini banyak tulisan kritis yang dibuat oleh orang-orang yang bersebrangan dengan Pemerintahan Soeharto waktu itu. Ada yang menggunakan nama samaran ada juga yang terang-terangan menyebut jatidirinya, seperti George Aditjondro. Sekarang milis seperti itu tidak lagi laku, karena hampir semua media bisa menulis atau menampilkan apa saja.

Saat ini hampir semua yang memiliki akses Internet adalah anggota sebuah milis, bahkan ada yang anggota dari beberapa milis sekaligus.

Sedangkan Blog adalah kependekan dari Weblog. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997 untuk menyebut website pribadi yang selalu diupdate secara teratur. Website ini juga berisi link ke website lain yang dianggap menarik dan diberi komentar-komentar. Namun kemudian arti Blog berkembang menjadi “catatan pemikiran” seseorang di Internet. Blog bisa disebut juga sebagai Diary Online yang berada di Internet.

Sejarah Blog mungkin dimulai pada Agustus 1999 di sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab yang meluncurkan layanan Blogger.com. Layanannya memungkinkan siapapun yang meski hanya memiliki pengetahuan minim tentang HTML dapat membuat Blog secara gampang dan gratis. Sebulan sebelumnya pada bulan Juli 1999, Pitas juga telah meluncurkan layanan membuat Blog gratis. Namun Blogger.com lah yang telah membuat Blog menjadi booming. Setelah itu banyak bermunculan provider Blog lainnya bermunculan, hingga sejak saat itu Blog kian hari kian bertambah dan masing-masing memiliki fokusnya sendiri. Ada yang tentang hal-hal yang spesifik ada juga tentang hal-hal yang umum dan bercampur-baur. Ada yang tentang menjadi orang tua yang baik, hobi menonton film, topik politik, kesehatan, sex, olahraga, buku komik dan macam-macam lagi.

Seorang penulis Blog, Rabecca Blood menulis bahwa setelah ia membuat Blog-nya ada dua efek samping yang terjadi yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Pertama ia menemukan kembali minatnya semenjak ia mulai membuat Blog. Dan hal kedua yang lebih penting, ia mulai lebih menghargai cara pandangnya sendiri. Ketika setiap harinya ia mengupdate Blog-nya ia mulai mempertimbangkan opini dan ide-idenya dengan lebih hati-hati dan ia mulai merasakan bahwa perspektifnya adalah unik dan penting untuk disuarakan.

Blog umumnya menerima komentar atau masukan terhadap tulisan yang tersaji di sebuah Blog. Oleh karena itu Blog bersifat interaktif dan membentuk komunitas yang saling me-link-kan Blog mereka masing-masing. Sifat interaktif ini adalah salah satu faktor yang membuat sebuah Blog cepat populer. Blog tidak seperti media konvensional yang bersifat satu arah melainkan sebuah media di mana suara semua orang mendapat tempat, walau belum tentu berharga. Blog adalah kebalikan dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan. Blog adalah perkembangan lebih lanjut dari media massa ke media komunitas yang interaktif. Sebuah Blog akan mendapat sorotan ketika berisi tulisan-tulisan yang sedang aktual dan bagus. Sorotan akan berhenti jika Blog itu tidak lagi berisi tulisan aktual dan bagus.

Blog nampaknya tidak akan menggantikan fungsi media cetak dan media elektronik lainnya, tetapi Blog akan menjadi sebuah media baru yang bakal digandrungi oleh sebagian kecil pengguna Internet. Sebagaimana media lainnya, ada Blog yang isinya bisa dipercaya, ada juga yang berisi sampah. Ada yang penuh moral ada yang penuh pornografi. Ada yang tentang hal-hal yang spesifik ada juga tentang hal-hal yang umum dan bercampur-baur.

Belum lama ini beberapa Blog, seperti Blog Priyadi dan Blog Anti Anne Ahira juga blog saya sendiri http://jojor.blogspot.com/ , http://antianneahira.blogspot.com/ , http://priyadi.net/archives/2004/09/10/anne-ahira-bukanlah-pahlawan membongkar modus “pengeruk uang masyarakat” melalui Internet oleh seseorang atau sekolompok orang yang menyebut dirinya atau kelompoknya dengan nama Anne Ahira.

Setelah hampir 2 tahun beroperasi, akhirnya kegiatan Anne Ahira ditutup pada bulan Agustus 2005 dengan alasan yang kurang masuk akal. Padahal sebagaimana kegiatan MLM, apalagi di Internet, ada masa jenuh, yaitu masa untuk menutup bisnis, di mana bau busuk semakin tercium oleh masyarakat dan tidak ada lagi orang yang bisa diajak bergabung, dan terutama pengelola MLM sudah memperoleh untung dan kebanyakan anggotanya buntung….

Sebuah Koran besar seperti Kompas dan beberapa radio swasta bahkan telah ditunggangi Anne Ahira untuk dijadikan tempat berpromosi untuk mengeruk uang dari calon korban-korbannya. Akibat “ditungganginya” Kompas oleh Anne Ahira, muncul kritikan pedas dari beberapa Blog dan milis untuk Kompas sebagai menyajikan wawancara tanpa daya kritis. Sayangnya serangan balik Kompas justru menambah hilangnya kredibilitas Kompas dengan membuat tulisan yang amat dangkal dengan mengatakan bahwa penulis di Internet (di milis atau Blog) sebagai monyet nakal yang seenaknya mempermainkan orang (baca tulisan Benny Chandra di http://bennychandra.com/2005/05/03/cara-kompas-menghadapi-kritik atau tulisan Priyadi di http://priyadi.net/archives/2005/05/03/satria-kepencet-whistleblower-anonimitas-dan-kompas/ ).

Dalam tulisan Kompas yang berjudul “Tendangan Milis”, disebutkan milis sebagai sebuah media di Internet (termasuk Blog) sebagai media yang tidak kredibel dalam menganalisis persoalan yang sedang dihadapi. Padahal Milis dan Blog terbukti kredibel dalam menganalisis masalah Anne Ahira pada bulan Agustus 2005. Mestinya Kompas tidak membiarkan ada wartawannya yang tidak bisa atau tidak mampu analitis dalam melihat media baru (milis dan Blog) di Internet. Bukankah tidak semua media cetak juga bisa disebut kredibel atau tidak semua media elektronik bisa disebut kredibel. Tetapi ada yang kredibel, bukan?

Kompas menyebut sebab tidak kredibelnya media Internet sebagai ditulis oleh orang yang anonim. Padahal media cetak pun sering anonim. Lihat contoh skandal WaterGate di Amerika yang memanfaatkan sumber yang anonim. Jadi tentu bukan anonim atau tidaknya sebuah media menjadi kredibel, tetapi isinya….

Kasus Anne Ahira adalah satu contoh, bagaimana media baru di Internet (blog dan milis) memiliki fungsi di masyarakat. Pengguna Internet di Indonesia tergolong kecil jika dibandingkan dengan pengguna Internet di negara-negara lainnya. Bayangkan jika akses Internet sudah seperti kemampuan memiliki telepon selular di kota-kota besar, apakah peran Milis dan Blog akan lebih besar lagi untuk menjadi media alternatif ?

Tuesday, April 19, 2005

RAMAI-RAMAI TERJUN BEBAS DI STASIUN TV LOKAL

KONSEP MEMBANGUN TV LOKAL
DARI PENGALAMAN MASYARAKAT AMERIKA

Musim durian telah tiba, demikian ungkapan yang bisa menggambarkan munculnya TV lokal di berbagai kota di Indonesia. Awalnya di satu tempat, lalu di tempat lain hingga di berbagai tempat. Namun demikian hanya beberapa yang menjual durian enak. Demikian juga hanya akan ada beberapa TV lokal yang bagus, baik dari segi tontonan atau dari segi bisnis.

Jika kita membaca buku-buku mengenai industri pertelevisian, misalnya hasil survey di Amerika yang berjudul Broadcasting in Amerika, maka mengamati dunia pertelevisian kita amat menarik karena pertelevisian kita bagai mengulang sejarah pertelevisian di Amerika. Kita memang tidak bisa melepaskan diri dari pengalaman masyarakat Amerika dalam membangun industri TV-nya. Di sana lah pertama kali stasiun TV dibangun dan di sana pula industri TV terbentuk. Memang, industri TV di Indonesia tidak langsung belajar dari pengalaman Amerika, tetapi banyak persoalan yang dialami masyarakat Amerika dulu kini dialami oleh masyarakat Indonesia. Contohnya adalah bagaimana Undang-undang Siaran dibentuk.


Yang paling menarik adalah data mengenai profile penonton TV di Amerika menurut Broadcasting in America itu. Data ini menarik karena ikut membentuk programming di pertelevisian. Penonton TV di Amerika terbanyak adalah penonton dengan kelas C, D, dan E, bukan kelas A dan B, juga berpendidikan rendah atau gabungan keduanya. Kita memang hanya melihat beberapa program-program bagus dari Amerika, tetapi sesungguhnya banyak program yang amat tidak cerdas dan tidak mendidik yang ditayangkan di negara-negara maju.

Begitu juga menurut survey AC Nielsen terhadap penonton televisi di Indonesia, makin rendah tingkat pendidikannya, makin tinggi jam menonton televisinya. Sebagai contoh, sepanjang bulan Maret 2005, menurut survey AC Nielsen pada jam 18:00-22:00 penonton televisi di Indonesia adalah lebih banyak penonton dari kelas C, D, dan E.

Demikian juga makin rendah kelas ekonominya makin tinggi jam menonton televisinya. Hal ini mungkin bisa dipahami, karena dengan pendidikan yang tinggi orang lebih menyukai mengisi waktunya untuk kegiatan lain seperti, membaca dari berbagai media atau berbagai sumber informasi. Juga dengan pendidikan yang lebih tinggi, tingkat kelas ekonominya pun bertambah, sehingga orang-orang ini memiliki pilihan dalam melakukan kegiatan yang lain dibanding menonton televisi, misalnya melakukan kegiatan ke luar rumah, surfing di Internet, atau menonton Pay TV (seperti televisi Satelite), menonton film dari VCD/DVD atau mengerjakan kegiatan lain seperti yang bersifat hobby.

Profile penonton seperti ini terlihat di tayangan serial drama baik lokal maupun asing yang tidak mungkin disukai oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Film lepas untuk profile penonton seperti itu lebih banyak film action yang ceritanya menghina intelektual penontonnya, yang penting ada gedebak-gedubuk, dar-der-dor, bum atau esek-esek. Tayangan seperti itu pasti mendapatkan jumlah penonton yang tinggi jika dibandingkan dengan tontonan lain misalnya talkshow.

Meski begitu, bukan berarti tayangan-tayangan yang mendidik atau memuaskan intelektual penonton (yang tidak bisa memperoleh jumlah penonton yang tinggi itu) tidak bisa menjadi tayangan yang menguntungkan secara bisnis. Karena dengan marketing strategy yang tepat sebuah talkshow dengan rating hanya 1 atau 2 bisa dijual kepada pemasang iklan yang cocok berdasarkan profile penontonnya. Marketing strategy yang lainnya adalah menjual slot iklan berdasarkan Cost Per Million (CPM) yang tidak banyak diterapkan oleh stasiun TV sehingga banyak TV yang memaksakan diri untuk memiliki program dengan rating tinggi meski pun dengan menayangkan me too program (program sejenis atau yang meniru program dari stasiun lain yang sukses). Dengan rating rata-rata yang tinggi di jam prime time, sebuah stasiun TV akan lebih mudah membuat paket iklannya, yaitu cukup menjual slot iklan di prime time. Slot iklan di jam-jam lainnya cukup dijadikan bonus dalam menjual slot di prime time.

Memang, stasiun tv yang berusaha membidik kelas menengah atas akan cuma bisa memperoleh rating yang sesuai dengan marketnya, karena penonton dengan profile seperti itu memang sedikit jumlahnya di banding penonton dengan profile lainnya. Tapi tentu saja bukan berarti tidak bisa jualan, karena banyak marketing strategy yang bisa diterapkan oleh sebuah stasiun TV yang segmented.

Banyak stasiun TV lokal di Amerika yang didirikan karena hobby semata atau untuk membangun citra dari grup bisnis seorang pengusaha sebagaimana sekarang terjadi di Indonesia.

All of the earliest television stations were necessarily local stations. Most began in an "experimental" status, non-commercial and sporadically scheduled. Applications for early stations had come from a range of potential participants, but many of the first to become truly operational were owned by radio networks or broadcast equipment manufacturers with strong financial reserves; costs for construction and research-and-development were high, and revenues were low or non-existent for many years and much of the television industry was developed by those who could withstand continuing financial losses. Encyclopedy of Television (The Encyclopedia of Television, http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm ).

Meski demikian sebaiknya TV Lokal baru pada 3 tahun pertamanya berorientasi pada revenue sebagai orientasi utamanya, baru Station Identity sebagai orientasi keduanya sebagaimana yang dijelaskan di bawah ini. Jika ini disebut sebagai “konsep”, maka sebuah stasiun TV, misalnya, akan memperhitungkan tayangan yang akan dipasang berdasarkan berapa stasiun itu akan mendapat revenue, bukan terpaku pada station identity yang harus dipertahankan atau dibangun. Oleh karena itu stasiun TV yang memposisikan dirinya di segment yang lebih umum, bukan segment tertentu, akan lebih mudah melakukan manuver dalam business development strategy-nya. Meski demikian menurut Public Relations strategy, dibutuhkan public campaign yang menyatakan bahwa stasiun ini berorientasi pada kepentingan publik (misalnya).

Konsep membangun stasiun TV lokal ini dibawah ini diringkas dari buku Broadcasting in America. Konsep ini digambarkan berdasarkan department di sebuah stasiun TV yang paling penting beserta job description-nya. Di bawah ini adalah department yang penting menurut urutannya.

1. Research & Development  untuk merancang business development serta merancang brand (segmentasi) dan image.
i. Market Survey  audience profile:
a. Social Economic Status (Economic Class)
b. Sex (ini cukup penting dilihat dari kacamata pemasang iklan)
c. Age (ini juga penting dari kacamata pemasang iklan)
d. Education (paling belakang karena kadang meski berpendidikan tinggi tetapi SES-nya tinggi dan kurang dipandang penting oleh pemasang iklan)
ii. Market Survey  audience tendency terhadap program-program TV
iii. Major Audience Mapping  tiap-tiap jam bisa memiliki audience profile tertentu yang menonjol
iv. Menentukan Station Identity
v. Memberi rekomendasi dalam merancang programming untuk tiap-tiap jam yang berbeda berdasarkan hari, seperti, hari kerja, sabtu dan minggu
vi. Memberi rekomendasi untuk pembentukan perilaku penonton (audience tendency)
vii. Mensupport department lain, misalnya Promotion Department, bagaimana merancang promotion strategy untuk membentuk brand image atau awareness di benak audience.

2. Programming  Merancang programming strategy
i. Menciptakan program yang bisa memiliki multiplier effect, seperti reality program
ii. Bekerja sama dengan Production Department untuk merancang Local Program
iii. Menentukan dan merencanakan program yang harus dibeli dari pihak luar
iv. Membangun kerjasama atau networking dengan pihak luar dalam hal programming
v. Merancang budget untuk membeli dan memproduksi program
vi. Bersama dengan R&D mengevaluasi programming setiap bulan sekali atau setiap periode waktu yang ditentukan
vii. Mengantisipasi setiap perubahan situasi rating dari setiap stasiun TV yang ada
viii. Bekerja sama dengan Promotion Department dan Marketing Department untuk program yang akan datang

3. Promotion  untuk memperoleh rating juga untuk membangun brand image dan awareness.
i. Merancang off-air event  penting untuk kota kosmopolitan seperti Jakarta
a. Untuk memikat target audience yang sudah ditentukan
b. Untuk membangun brand image dan awareness
c. Untuk mempertahankan brand awareness dengan melakukan kegiatan sosial, misalnya sebagai menjadi fasilitator untuk bantuan kemanusiaan pada saat terjadi bencana
d. Merancang promotion tools, seperti souvenir, sticker, T-shirt, topi, pen, payung dan lain-lain.
ii. Bekerja sama dengan Programming Department merancang on-air promotion
a. Program promotion  mengingatkan atau menginformasikan tentang program yang sudah ada atau yang akan ditayangkan
b. Merancang promotion untuk target audience tertentu, misalnya berdasarkan usia atau audience dari kelompok masyarakat tertentu
iii. Merancang promotion melalui semua media yang ada; cetak dan elektronik
iv. Bekerja sama dengan Marketing Department membangun relationship dengan pemasang iklan; agency dan advertiser
v. Melakukan pekerjaan Public Relations (jadi PR di bawah Promotion Department)
a. Merancang PR Strategy
b. Mengumpulkan dan mengelola informasi atau profile perusahaan, serta menerapkannya seperti:
 Vision
 Mission
 Short and long term business development and plans
c. Membuat company profiles dalam berbagai format
d. Melakukan Publication
i. Regular: - Membuat dan mengelola company website
- Mengelola newsletter, in-house magazine
ii. Irregular: - Menulis articles atau press release.
- Mendorong pihak lain atau penulis lain untuk menulis artikel atau membuat exposure tertentu yang bisa ikut mendorong business development
e. Company analyses atau SWOT analyses
f. Menjadi juru bicara untuk media and pihak lain (media relations and spokesperson)

4. Marketing  Membuat strategy untuk mendapatkan revenue secara maksimal meskipun perolehan rating-nya rendah
i. Merancang Comprehensive Brochure yang berisi mengenai company profile dan programming strategy hingga beberapa tahun ke depan. Juga ada gambaran mengenai audience profile dan perolehan rating dan projection-nya.
ii. Merancang paket iklan berdasarkan
a. Social Economic Status
b. Age
c. Sex
d. Education
e. Gabungan dari beberapa atau semua audience profile category di atas
iii. Merancang paket iklan berdasarkan waktu tayang; Early Morning (7:00-10:00 A.M.), Daytime (10:00 A.M.-6:00 P.M.), Early Fringe (6:00-7:00 P.M.), Prime Access (7:00-8:00 P.M.), Prime Time (8:00-11:00), Late Fringe (11:00-11:30 P.M.), Late Night (11:30 P.M.-12:30 A.M.), Overnight (12:30-7:00 A.M.)
iv. Merancang paket iklan berdasarkan program type
v. Merancang marketing strategy untuk mendapatkan pemasang iklan pada program-program yang memiliki rating rendah.
vi. Menentukan pemasang iklan potensial dan mempersuasi untuk beriklan
vii. Membangun relationship dengan pemasang iklan; agency dan advertiser

5. Management & Technical support

Semua pekerjaan di atas tidak ada artinya jika tanpa management atau administrative support, seperti Traffic Section untuk mengelola penayangan iklan. Semua pekerjaan tersebut harus ada sistem untuk mengevaluasi dan mempertahankannya.

Sebuah stasiun TV dengan programming yang baik saja belum cukup tanpa didukung oleh technical support yang baik pula. Tidak mungkin sebuah program yang baik akan ditonton jika terus menerus ada gangguan dalam siarannya, baik itu gambar atau suaranya. Begitu juga ketepatan waktu dalam setiap tayangan, pergantian dari satu program ke program lain. Jeda lebih dari 2 detik akan terasa amat lama di mata penonton yang bisa berakibat pindahnya penonton ke channel lainnya.


Jejak Ted Turner; TV Lokal Menjadi Raksasa CNN

Pada tahun 1975, teknologi satelit komunikasi Amerika sampai pada tahap di mana orang dapat memancarkan siaran TV. Pada tahun itu Time, Inc. yang telah mendirikan HBO menyiarkan pertandingan tinju antara Muhammad Ali-Joe Frazier yang didistribusikan melalui satelit ke berbagai stasiun TV dan sukses.

Terinspirasi dari kesuksesan siaran pertandingan tinju itu, Ted Turner, pendiri CNN, yang saat itu masih menjalankan Turner Communication yaitu bisnis billboard dan stasiun-stasiun radio, melihat peluang untuk beriklan di TV secara nasional hanya dari sebuah stasiun TV lokal kecil bernama WTBS di Atlanta (My Beef With Big Media, How government protects big media--and shuts out upstarts like me. By Ted Turner. http://www.washingtonmonthly.com/features/2004/0407.turner.html ).
Ted menyewa sebuah saluran satelit yang sama dengan HBO untuk menerima dan memancarkan siaran TV WTBS, lalu Ted menginformasikan kepada seluruh perusahaan Pay TV di Amerika, seluruh bahwa program dari siaran WTBS boleh dipancar-ulangkan secara gratis. Ratusan Pay TV yang ada saat itu kemudian mendapat tambahan program baru, sehingga WTBS kini memiliki jutaan pemirsa yang tentu saja juga menarik perhatian para pemasang iklan TV. The charge to the cable companies did not cover the WTBS's own costs, but the station was now able to set higher advertising rates because its audience was spread over the entire country (Cable Networks, The Encyclopedia of Television, http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm )

Sudah lebih dari 10 tahun pertelevisian Indonesia. Kritik terhadap tayangan televisi kita semakin kuat saja, bahkan Komisi Penyiaran Indonesia (http://www.kpi.go.id) yang sudah dibentuk ”rajin” melayangkan protes dan kritik tentang acara-acara yang bisa memiliki akibat buruk. Seminar dan diskusi pun sudah digelar untuk mempertanyakan arah pertelevisian kita. Namun kelihatannya pertelevisian kita bakal terus berjalan dengan “tayangan-tayangan yang disukai penonton” sebagaimana yang ditunjukkan oleh survey AC Nielsen dalam bentuk “rating tinggi”. Industri televisi sampai kini hanya tunduk pada “rating”. Hanya “rating turun” yang dapat membuat sebuah stasiun TV merubah tayangannya. Meski pun demikian sebuah stasiun TV bisa saja membentuk prilaku menonton pemirsanya melalui beberapa strategi.

Tayangan “setan-setanan” adalah contoh tayangan yang dapat memberikan rating yang cukup untuk membuat sebuah stasiun bisa “jualan” dan bertahan hidup. Beberapa waktu yang lalu Indul Daratista pernah dieksploitasi oleh hampir semua stasiun TV untuk memperoleh untung. Meski tayangan seperti itu tidak cerdas dan tidak mendidik, kebanyakan stasiun TVternyata memang harus bertahan hidup dengan cara seperti. Entah, sampai kapan situasi ini berubah atau diubah. Barangkali kehadiran TV-TV Lokal baru akan memberi peluang baru untuk adanya perubahan itu melalui persaingan antar stasiun TV yang semakin ketat.

Jojo Rahardjo
Pengamat dan Praktisi Multimedia

jojor@hotmail.com

Monday, November 01, 2004

PESAING LAYANAN DBS (DIRECT BROADCASTING SATELITE)

Media Indonesia, 11 Desember 1997
Oleh: JoJo Rahardjo, bekerja di stasiun TV

ASPACTEL atau Asia Pasific Telecommunication di arena PRJ banyak juga menampilkan perusahaan-perusahaan yang menyediakan infrastruktur multimedia di samping perusahaan penyedia layanan telekomunikasi. Beberapa perusahaan asing yang memproduksi kabel fibre optic muncul di arena ini untuk pertama kali di Indonesia. Menurut mereka pameran ini saat yang tepat untuk menjajagi pasar Indonesia. Memang, Indonesia kini tengah membentang jaringan telekomunikasi dengan menggunakan kabel serat optik. Pay TV yang disiarkan dengan cara pendistribusian lewat kabel pun sekarang marak ditawarkan oleh beberapa perusahaan.

Dari Pameran ini juga tersaji seluk-beluk penyiaran telivisi satelit, misalnya lewat stand PT. Pasifik Satelit Nusantara. Sayang Matahari Lintas Cakrawala pengelola televisi satelit Indovision tidak ikut dalam pameran ini.

Namun ada sistem baru dalam penyiaran TV dan komunikasi data yang teknologinya berkembang pesat di belahan bumi yang lain, terutama Amerika yang tidak muncul dalam pameran kali ini, yakni Wireless Cable. Cuma ada satu perusahaan di Indonesia yang sudah menawarkan teknologi ini untuk akses ke internet, yaitu Ratelindo dari Bakri Communication. Itu pun juga dengan kecepatan yang hanya 19.2 kbps. Layanan baru ini menarik karena di masa depan Ratelindo bisa menawarkan kecepatan yang lebih tinggi. Karena teknologi ini sangat prospektif saya ingin mengulasnya untuk mengiringi pameran yang sedang berlangsung hingga 3 Desember ini.

Wireless Cable TV atau Wireless Cable saja di Amerika juga disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar lebih dari dua milyar Dollar Amerika setahun. Wireless Cable lebih dikenal sebagai jenis perusahaan jasa yang menyediakan layanan siaran TV Bayar (Pay TV). Namun Wireless Cable memiliki layanan yang lebih luas seperti yang biasa ditawarkan oleh Direct Broadcasting Satelite (DBS), yakni juga untuk komunikasi data (internet atau file transfer) dan layanan interactive, Pay Per View atau Video on Demand. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis yang sekarang masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless Cable juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless Cable menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless Cable TV ini.

Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless Cable ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, Powertel, SK Telecom, Videotron, General Instruments dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan ini sekarang melayani lebih dari 250 perusahaan penyedia layanan Wireless Cable di 90 negara di seluruh dunia. Dari 90 negara itu tidak terdapat nama Indonesia. Demikian juga pada Pameran ASPACTEL ’97 baru-baru ini.
Satu perusahaan Wireless Cable pada tahun 1984 di Amerika sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Karena itu industri ini tumbuh begitu pesat. Pada 1997 ini Wireless Cable telah memiliki pelanggan berjumlah 9 juta pelanggan di 90 negara di dunia. Sementara itu pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) baru berjumlah 5,8 juta pelanggan.

Wireless Cable bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996). Wireless Cable dapat dijadikan sarana untuk meneruskan siaran TV satelit yang peralatannya penerimanya masih terasa mahal. Wireless Cable juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel fibre optic atau coaxial, seperti yang dilakukan Indovision beberapa waktu yang lalu di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia) yang kini belum terdengar lagi kabarnya. Namun sayangnya Sistem yang mahal, tidak praktis ini dan kelihatannya bakal ditinggalkan oleh Peter Gontha itu, sekarang juga digunakan oleh perusahaan Multimedia Nusantara yang baru saja berdiri untuk mendistribusikan kanal-kanal siaran TV-nya melalui kabel-kabel di beberapa daerah elite di Jakarta.

Layanan Baru yang Ditawarkan Wireless Cable TV

Satu stasiun Wireless Cable dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital. Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view atau video on demand), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat jalur telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).

Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression sudah menjadi standar yang digunakan untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak dan kualitas gambar dan suara yang tinggi. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Bahkan Satelit Cakrawarta telah diluncurkan tengah bulan Novembar lalu, rencananya awal tahun 1998 kanal yang tersedia akan bertambah menjadi 40 kanal. Setelah melalui DBS, TV dengan banyak kanal tahun lalu telah dicoba oleh satu perusahaan yang dikelola oleh Peter Gontha di beberapa perumahan di Jabotabek dengan menggunakan distribusi melalui kabel. Bulan Desember ini menyusul satu perusahaan lagi yaitu Multimedia Nusantara juga akan mendistribusikan 30 kanalnya lewat kabel.

Pada pameran Asia Pasific Telecommunication 29 November - 3 December 1997 di arena PRJ baru-baru ini, bahkan PT Pasifik Satelit Nusantara juga sedang berencana untuk menyediakan layanan siaran TV banyak channel seperti Indovision, yakni siaran DBS juga.

"It’s a great concern to me because the intent of the Telecommunications Reform Act of 1996 was to do what you’re doing, and that is to provide more competition". Demikian dikatakan oleh Senator John McCain pada 12 Agustus 1997 untuk menyambut 10 tahun Wireless Cable Association. Dari pernyataan itu nampak di Amerika persaingan dalam industri ini begitu perlu untuk didorong. Mereka percaya semakin banyak perusahaan yang terjun dan semakin banyak teknologi yang digunakan di Industri ini akan semakin baik layanan yang diterima pelanggan. Bagitu juga dengan Indonesia?

JoJo Rahardjo

Teknologi Wireless System untuk Membangun Industri Siaran TV di Indonesia

Media Indonesia, Kamis 15 Mei 1997
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV


Wireless System bisa membantu penetrasi lima TV swasta di Indonesia dengan biaya investasi yang lebih murah. Penetrasi yang luas (ke desa-desa) selain menjadi tambahan income dari iklan juga barangkali bisa menumbuhkan secara tidak langsung industri production house (rumah produksi). Acara-acara lokal bisa diproduksi dengan melibatkan, secara lebih jauh, sumber daya lokal di daerah-daerah (karena tersedia banyak kanal dengan murah). Jika ini terjadi industri siaran TV di Indonesia bisa diharapkan untuk berkembang seperti di Amerika yang acara produksi lokalnya bisa berkembang seperti acara yang diproduksi oleh sebuah network TV. Artinya proses produksi dari industri TV di Indonesia tidak akan terpusat di Jakarta saja, tetapi proses produksi juga terjadi di lokal daerah. Ini juga berarti mengurangi pengeluaran devisa negara karena membeli acara-acara dari luar. Dari persaingan antar lokal itu akan muncul acara lokal yang baik dan laku diekspor ke negara lain, seperti impor sinetron ke Indonesia dari negara-negara Asia, seperti Philipina, Singapore, Malaysia atau dari negara-negara Amerika Latin.

Paling tidak pada saat itu kita bisa bilang: nah, Indonesia sekarang sudah bisa menjual otaknya seperti negara-negara lain, tidak hanya mengobral sumber daya alamnya saja seperti hutan, emas dan lain-lain.

KOMPRESI DIGITAL

Setelah dibicarakan tentang apa dan bagaiamana wireless system, ada baiknya bila diketahui juga bagaimana sebenarnya gambar digital dibuat dan apa itu kompresi digital.

Pada dasarnya gambar analog dibagi dalam ratusan ribu elemen gambar (pixel) berbentuk segi empat sangat kecil. Setiap pixel memiliki kode angka untuk mengidentifikasikan warna, intensitasnya (tingkat keterangan cahaya) dan letaknya.
Contohnya kode 1110011 mengidentifikasikan sebuah pixel yang berada 4 kotak dari kiri, dan 3 kotak dari bawah, berwarna merah dan tingkat intensitas medium.

Jika seluruh pixel dari sebuah gambar telah seluruhnya di-convert (dicatat), gambar itu dapat diwakili dalam sebuah string berisi catatan yang terdiri dari karakter (1) dan nol (0). Sebagai gambaran mengenai besarnya string ini, biasanya setiap pixel membutuhkan delapan digit karakter 1 dan 0. Sebuah gambar dengan 300.000 pixel membutuhkan 2.400.000 bit (karakter 1 dan 0) atau 2.4 Megabit. Sebagai perbandingan, sebuah disket kecil cuma bisa menampung 1.5 Megabit informasi.

Ini merupakan sebuah informasi dengan data yang banyak sekali, terutama jika informasi ini adalah infomasi video (gambar bergerak) yang harus disimpan sebanyak 60 gambar atau frame setiap detik (rata-rata sebuah informasi video terdiri dari 60 frame per detiknya). Sehingga setiap detiknya harus disimpan sebanyak 140.000.000 bit atau 140 Megabit.

Namun dari 140 Megabit itu, banyak dari informasi dari sebuah frame yang sama dengan frame yang lain. Dengan membandingkan satu frame dengan frame lainnya didapatkan informasi dari pixel yang berbeda, sehingga hanya pixel yang berbeda yang dicatat. Pixel yang sama tidak dicatat dan akan muncul dengan bentuk yang tetap. Sehingga jumlah informasi dari satu detik video dapat dikurangi. Contoh paling mudah adalah gambar video dari sebuah pidato presiden. Kalau latar belakang dari presiden adalah sebuah dinding, maka informasinya akan tetap sama, sedangkan kepala, mata dan mulut presiden saja yang berubah-ubah. Pixel yang berubah-ubah inilah yang dicatat.

Terobosan teknologi digital compressed inilah yang membuat kita bisa menikmati video di CD ROM, Video Compact Disc. Sedangkan Wireless System, Digital Broadcast Satelite bisa mengirimkan lebih banyak gambar yang hasilnya adalah kemampuan memancarkan sekaligus puluhan bahkan ratusan channel (kanal) TV dan dengan kualitas yang luar biasa.

Jojo Rahardjo

WIRELESS SYSTEM, Teknologi Paling Aplikatif pada Industri Informasi.

Media Indonesia, Kamis, 1 Mei 1997
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV

Beberapa waktu yang lalu di harian ini saya menulis mengenai Era Pay TV di Indonesia (Media Indonesia tanggal 18 April 1996). Di dalamnya saya menggambarkan teknologi baru yang telah dikembangkan untuk memancarkan siaran TV dan juga sebagai sarana untuk data communication, yaitu Wireless System. Karena ekonomis, teknologi ini sekarang diakui telah mencatat sejarah baru sistem penyiaran TV di Amerika. Apalagi setelah disempurnakan dengan teknologi MPEG2 atau digital compression (lihat box) telah menjadikan Wireless System bisa memancarkan hingga sekaligus ratusan kanal dan dengan kualitas penerimaan yang tinggi.

Aplikasi untuk Industri TV di Indonesia

Jika diterapkan di Indonesia teknologi ini sebenarnya menjawab kebutuhan lima TV swasta Indonesia yang terus berlomba-lomba menambah areal liputan siarannya di daerah-daerah. Setiap stasiun TV swasta terus menambah jumlah stasiun relay di daerah-daerah, karena penetrasi yang luas menjadi penting untuk menjaring iklan sebanyak-banyaknya. Kendati stasiun relay kini dibangun dengan bekerja sama antar lima stasiun, satu stasiun relay membutuhkan investasi sebesar kira-kira lima milyar Rupiah. Belum ditambah dengan biaya pengoperasiannya setiap bulan. RCTI misalnya, berencana untuk memiliki 300 stasiun relay. Padahal dengan Wireless System biaya untuk membangun stasiun Wireless System cukup dengan USD 200.000.
Heartland Wireless Communications, Inc., yang mengaku perusahaan Pay TV dengan Wireless System terbesar di Amerika, hanya menawarkan USD 50 untuk mulai berlangganan yang termasuk didalamnya sewa peralatan dan biaya instalasi ditambah gratis iuran bulan pertama.

Wireless System

Wireless System yang di Amerika yang mulanya disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar dua milyar Dollar Amerika setahun. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis. Sekarang pun masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless System juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless System menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless System ini.

Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless System ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, dan General Instruments. Sedangkan Pasific Monolithics, yang terletak di jantung Lembah Silicon di Amerika adalah perusahaan yang terbesar dalam memproduksi peralatan Wireless System. Pasific Monolithics melayani lebih dari 150 perusahaan penyedia siaran Wireless System di 40 negara di seluruh dunia.

Wireless System sebenarnya sudah ada sejak tahun 1984 di Amerika. Waktu itu Wireless System sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Industri ini tumbuh begitu pesatnya sejak dihapuskannya pembatasan bagi Wireless System pada 1992 untuk ikut menyiarkan acara-acara top dari jaringan TV broadcast biasa. Dari hanya 200.000 pelanggan tiba-tiba tumbuh sebesar 250% menjadi 750.000 pelanggan pada akhir tahun 1994. Menurut Presiden Wireless Cable Association International, Andrew Kreig, Wireless System saat ini telah mencapai 5 juta pelanggan tersebar di 80 negara di dunia.

Wireless System adalah sistem yang paling ekonomis yang pernah dikembangkan untuk pemancaran siaran TV. Wireless System bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996, juga Mengukur Bisnis TV Digital Peter Gontha, SWA 5 Maret 1997). Wireless System menjawab mahalnya investasi yang dikeluarkan jaringan TV broadcast biasa untuk mendirikan sebuah satu stasiun relay di daerah supaya areal cakupannya meluas (seperti lima TV swasta di Indonesia). Atau Wireless System juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel coaxial, seperti yang dilakukan Indovision di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia).

Layanan Baru yang Bisa ditawarkan TV Swasta

Satu stasiun Wireless System dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital! Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat kabel telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).

Interactive TV sebenarnya sudah diaplikasikan oleh beberapa stasiun TV swasta Indonesia, namun untuk aplikasi yang sederhana yakni sebagai sarana bermain game, seperti Jitu, Gol Gol Gol dan lain-lain. Dengan Wireless System dapat disediakan interactive TV yang lebih menarik, yaitu menyediakan acara (biasanya film) yang bisa dipilih (pay-per-view). Pelanggan hanya akan membayar film yang dipesannya saja. Di Amerika, pay-per-view ini telah menurunkan pendapatan usaha rental film (Laser Disk dan Kaset) karena melalui pay-per-view, orang tidak perlu ke luar rumah untuk meminjam dan mengembalikan film dengan harga yang sama.

Untuk membangun Pay-per-view di Indonesia cukup bekerjasama dengan misalnya dengan DirecTV di Amerika yang telah memiliki perlengkapan pay-per-view. Film yang dipesan dapat ditransfer dari DirectTV melalui satelit kemudian dipancarkan ke rumah pemesan melalui Wireless. Kendati secara teknologi hal ini memungkinkan, namun di Indonesia barangkali pay-per-view ini akan terbentur pada soal peraturan, karena ini menyangkut soal serbuan "budaya asing" ke Indonesia yang sebenarnya juga sudah terjadi lewat serbuan "budaya asing" lewat Laser Disc, kaset dan terakhir lewat murahnya Video CD bajakan. Padahal lewat pay-per-view, "serbuan" ini lebih bisa dikontrol atau diseleksi dibanding menyeleksi dan mengontrolnya lewat rental dan pasar gelap.

Meski demikian Wireless System ini memiliki kekurangan, yaitu siarannya tidak boleh terhalang oleh gedung atau bukit untuk mendapatkan mutu siaran yang maksimal. Juga radius siarannya hanya 75 sampai 90 miles atau sekitar 130 km. Namun demikian kekurangan itu bisa diatasi dengan dengan peralatan repeater untuk memperbaiki siaran di daerah yang terhalang (daerah bayangan).

Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression (lihat box) sudah menjadi standar untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Nanti, setelah satelit Indostar diluncurkan, kanal yang tersedia dan kualitas akan bertambah lebih dari 19 kanal yang sekarang sudah tersedia. Indovision saat ini sebagai perusahaan siaran Pay TV lewat satelit (DBS) memang belum menjadi ancaman bagi lima TV swasta jika melihat target pemirsanya yang jauh berbeda. Juga besarnya harga peralatan penerima siaran Indovision (antena, receiver dan decoder). Meski demikian sebagai bisnis, Indovision adalah bisnis yang prospektif karena memang memiliki target penonton yang sangat jelas, yaitu golongan dengan status ekonomi menengah ke atas. Apalagi harga peralatan penerima siaran TV digital lewat satelit Indostar akan lebih murah dari yang tersedia sekarang.

Jojo Rahardjo