Saya politikus? Ha..ha..ha.. saya lebih suka disebut sastrawan mbeling yang memotret situasi di sekitar saya dalam bentuk tulisan....
Welcome to my blog, anyway!

Search This Blog

Friday, December 17, 2010

THE GHOST WRITER; MENGUNGKAP PERAN CIA DALAM MENYIAPKAN PARA PEMIMPIN DI SEBUAH NEGARA

European Film Awards baru saja berlangsung beberapa hari yg lalu, tanggal 4 Desember 2010 lalu. Film berjudul “The Ghost Writer” karya director Roman Polanski memborong beberapa awards sekaligus, yaitu best movie, director, actor and screenplay.

Ini movie yg layak ditonton. Saya sudah pernah membuat movie review tentang film ini yang saya tulis 8 May 2010 lalu di blog saya http://jojor.blogspot.com/2010_05_01_archive.html . Di bawah ini saya tuliskan kembali review itu dengan banyak penambahan. Film ini saya tonton awal May 2010 lalu. Meski hari Sabtu, kursi penonton waktu itu terisi tak sampai seperempatnya, tidak seperti film “2012” yang bahkan harus antri untuk 2 pertunjukan berikutnya. Film ini, sebagaimana yang sudah saya baca reviewnya, adalah tentang kebusukan politisi, meski bisa juga film ini dilihat sebagai tentang ghost writer (penulis sebuah memoirs, namun namanya tidak dicetak). Tokoh utama dalam film ini adalah mantan British Prime Minister, Adam Lang. Menurut movie review yang dibuat oleh BBC tokoh Adam Lang ini adalah gambaran dari mantan British Prime Minister yang asli, yaitu Tony Blair. Saya kemudian kembali menonton film ini melalui DVD setelah membaca film ini memborong beberapa award sekaligus awal Desember 2010 ini.

Film ini sangat bagus menggambarkan betapa busuknya kehidupan politisi. Namun jangan lupa, kisah bagaimana ghost writer bekerja di dalam film ini juga menarik. Apa yang muncul (terutama) di media tentang kehidupan seorang politisi ternyata adalah palsu. Adam Lang yang charming, cerdas dan suka berakting pada masa mudanya telah didorong oleh CIA untuk memasuki dunia politik di Inggris. Kegilaan dunia politik ini digambarkan film ini dengan mengungkap perekrut utama Adam Lang untuk masuk ke dunia politik ternyata adalah Ruth yang agen CIA dan ternyata pula kemudian sekaligus menjadi istri Adam Lang sepanjang hidupnya dan sekaligus orang yang terus mengarahkan Adam Lang untuk tetap berada di dunia politik.

Satu kepalsuan dan kepalsuan lain dari seorang politisi digambarkan melalui proses pembuatan memoirs Adam Lang yang ternyata lebih banyak menyembunyikan kisah hidup yang sebenarnya dari Adam Lang. Bahkan dalam memoirs itu nama Ruth, istri Adam Lang hanya disebut 2 kali. Tujuannya adalah untuk menyembunyikan peran agen CIA (yaitu Ruth, istri Adam) dari gambaran kehidupan Adam Lang. Namun karena penasaran, sang ghost writer berhasil mengetahui jaringan kerja intelejen antar 2 negara ini.

Tentu kisah seperti ini amat menarik, karena terjadi di negara mana saja, apalagi di negara berkembang. “Politik itu busuk” memang juga terasa di Indonesia dan menjadi pertanyaan yg terus bergaung, yaitu mengapa banyak kebijakan politik yang terasa menguntungkan Amerika atau Negara-negara besar lain.

Film ini pada bagian awal sudah bersikap sinis terhadap dunia politik. Digambarkan melalui dialog antara ghost writer dengan agent-nya, Rick. Ketika itu Rick bertemu ghost writer (selanjutnya disebut the ghost) untuk menawarkan sebuah project, yaitu membuat politician memoirs dari Adam Lang. the ghost merasa aneh, karena ia bukan seorang yg dekat dengan dunia politik.

The ghost: But you realize I know nothing about politics?

Rick: You’ve voted for him, didn’t you?

The ghost: Adam Lang? Of course I did. Everyone voted for him. He wasn’t a politician, he was a craze.

Rick: Well, there you go. Look, it’s a new ghost writer he needs, not another god damn politico.

Meski akan direkrut sebagai the ghost untuk sebuah politician memoirs, the ghost, tetap bersikap tidak seperti politician, the ghost digambarkan bersikap lugu namun sinis dalam pertemuan dengan publisher dan wakil dari Adam Lang, yaitu pengacaranya.

CEO Rhinehart publisher: Perhaps you can enlighten us and tell us what exactly you’re gonna bring to this project.

The ghost: Nothing.

Rick (the ghost agent): …laughing…

The ghost: No. I’m not gonna pretend to be someone I’m not. You have my CV.

Percakapan terus berlanjut,

The ghost: I don’t read political memoirs. Who does? And I gather you’ve spent $10 million on this book. How much of that are you gonna see back? Two? Three? It’s bad news for your shareholders. And it’s worse news for your client, Mr. Kroll (Adam Lang’s attorney).

The ghost: Adam Lang, he wants a place in history, not in the remainder tables.

Roy (Other CEO publisher): Oh, please….

The ghost: It’s because I know nothing about politics that I’ll ask the questions that get right to the heart of who Adam Lang is. And that is what sells autobiographies. Heart!

Rick (the ghost agent): Wow! That’s nicely done….

The ghost kembali menunjukkan keluguan dan sekaligus kesinisannya ketika membahas memoirs yg akan dibuat itu dengan Adam Lang. The ghost tidak sengaja menggambarkan kehidupan seorang Prime Minister dengan pertanyaan: “How does it feel to be so hated”?

The ghost: This is the kind of details we need in the memoirs.

Adam: I couldn’t put that in. People would think I was a complete idiot.

The ghost: No, not at all. No, this show what it’s like being Prime Minister. That’s what the readers want to know. How does it feel to run a country? How does it feel to be so cut off? How does it feel to be so hated?

Adam: Thanks a lot (tersinggung).

The ghost: And so loved (cepat-cepat the ghost meneruskan dengan kalimat ini).

Lalu cerita berlanjut ke situasi krisis. Berita di berbagai media telah menyudutkan Adam Lang sebagai war criminal karena telah melakukan sesuatu yg menguntungkan CIA di masa ketika ia menjadi British Prime Minister. Bahkan International Court sudah siap akan memeriksanya. Adam panik dan harus segera menyiapkan statement. Adam teringat pada Mike, the ghost sebelumnya yg telah tewas karena kecelakaan. Mike biasanya menyiapkan statement dalam situasi PR crisis ini. The ghost sekali lagi mengajukan pertanyaan sinis: “Then what exactly are you?”

Adam: This is when we need Mike.

Adam’s secretary: I'll write something.

Adam’s wife: Let him do it (maksudnya the ghost).

Adam’s wife: He's supposed to be the writer.

The ghost: Hang on a minute.

Adam: I should sound confident. Not defensive, that'd be fatal. But I shouldnt be cocky. No bitterness, no anger, and dont say Im pleased at this opportunity to clear my name or any balls like that.

The ghost: So, youre not defensive, but youre not cocky, youre not angry, but youre not pleased?

Adam: Thats it….

The ghost: Then what exactly are you?

Adam: …laughing…

Dalam sebuah pertemuan rahasia antara the ghost dengan mantan British Foreign Secretary, yang menjadi lawan Adam dan tentu sekaligus pencerca Adam mengatakan di bawah ini. Percakapan ini adalah mengenai bagaimana Adam direkrut oleh CIA pada saat ia masih sangat muda di tahun 1974 yg kemudian dengan cepat meluncurkan namanya di dunia politik berkat bantuan teman-teman CIA-nya.

“This is explains why Lang went into politics.

Everyone knows he didn’t have a political thought in his pretty little head.

This is why he rose so quickly, with a little help from his friends.

Name one decision Lang made in 10 years as Prime Minister which wasn’t in the interests of the USA?

Well, come on, it’s not a trick question.

Iraq, Middle East policy, Star Wars defense, buying American nuclear missiles, support of terrorist rendition.”

Bagian akhir film ini ditutup dengan sebuah kalimat:

“Lang’s wife, Ruth was recruited as a CIA agent by Proffesor Paul Emmett of Harvard University”. Kalimat itu menjadi penting karena menggambarkan bagaimana karir politik Adam Lang berawal dan sekaligus menjelaskan kebijakan-kebijakan politik luar negeri yang dibuatnya selama menjadi Prime Minister yg telah menguntungkan kepentingan Amerika.

Film ini penting sekali ditonton oleh semua orang, terutama para pemilih, bukan para politician, karena politician pasti membenci film ini. Jangan gampang tertipu oleh politician sebagus apa pun nampaknya atau citranya. Contoh itu sudah diberikan oleh SBY sejak tahun 2004 lalu hingga sekarang. Banyak orang mengira SBY adalah calon yang bagus untuk menjadi presiden Republik Indonesia. Sekarang semua orang kecewa. Bahkan yg mengejutkan dalam bocoran Wikileaks nama SBY disebut-sebut lebih disukai oleh Washington sebagai calon presiden di tahun 2004 lalu. Apakah SBY juga disupport oleh CIA melalui kakitangannya? Anda lebih tahu jawabannya.

Film ini juga membuat sebuah gambaran tentang bagaimana CIA sudah beroperasi puluhan tahun yg lalu untuk menyiapkan para pemimpin di negara-negara lain, termasuk Inggris. Calon yg sudah digarap puluhan tahun lalu ini pun akan memberikan sumbangsih yg besar pada kepentingan Amerika setelah ia terpilih menjadi, presiden, prime minister atau pemimpin apa saja di sebuah negera. Film ini adalah sebuah peringatan bagi kita tentang siapa saja di Indonesia yg sudah digarap oleh CIA melalui kakitangannya yang berada di mana-mana dan bisa menjadi siapa saja. Kita juga perlu waspada dengan orang-orang yang karirnya di dunia politik begitu cepat meroket dan siapa saja yang begitu cepat sukses dalam usahanya, terutama usaha yang bisa berkaitan dengan dunia politik.

Jojo Rahardjo.

http://jojor.blogspot.com/

facebook.com/deepthroatdeepthroat

Friday, November 26, 2010

HARI GURU DAN KELAS KHUSUS




Entah sudah berapa tahun ini terjadi, namun saya baru menyadarinya 3 tahun lalu.

Tiga tahun lalu, Putri (sebut saja begitu), anak seorang teman saya yg baru saja lulus SMP, memasuki sebuah SMA swasta di Jakarta yang dikelola oleh sebuah yayasan dari satu angkatan di TNI. Melalui sebuah test yang diadakan sekolah itu, Putri ternyata tergolong anak cerdas dan dinilai mampu mendapatkan pelajaran yang lebih banyak dan lebih sulit, sehingga ia ditawarkan untuk masuk ke kelas khusus di sekolah itu. Di kelas khusus itu, Putri dan teman-temannya akan memperoleh guru khusus, pelajaran khusus, cara belajar yang khusus, bahkan juga alat bantu khusus. Tidak itu saja, tetapi ia pun ditawarkan untuk mendapat potongan biaya sekolah hingga separuhnya. Tentu saja itu berita gembira bagi Putri dan keluarganya. Setelah hampir 3 tahun berlalu, ternyata test yang dilakukan sekolah itu cukup akurat, Putri berhasil terus berada di kelas khusus itu hingga di kelas 3.
Baguskah itu? Tentu bagi Putri dan teman-temannya yang di kelas khusus, privilege ini bukan masalah, bahkan bisa menjadi kebanggaan. Namun bagi teman-teman lain yang tidak di kelas khusus di sekolah itu, perbedaan perlakuan itu di sekolah yang sama tentu menjadi soal yang serius yang tidak mereka sadari. Sekolah dan orang tua seharusnya menjadi berkewajiban secara khusus berupaya untuk terus menerus memberikan kesadaran pada siswa yang berada di kelas biasa itu, bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh kelas biasa atau kelas khusus. Itu penting untuk diingatkan, agar mereka tidak mengalami syndrome rendah diri karena berada di kelas biasa.
Nilai bagus di sekolah memang bukan ukuran untuk menilai orang apalagi di masa depannya. Sebagai contoh, saya lulus SMA di era tahun 80-an dan beberapa tahun terakhir ini bertemu lagi dengan beberapa teman-teman lama dari masa SMA. Ternyata mereka yang dulu tergolong memiliki nilai-nilai bagus (saya tidak menyebut pintar) di sekolah, sekarang hanya sedikit sekali yang “berhasil” dalam hidupnya. Justru teman-teman yang memiliki nilai biasa, malah bisa “berhasil” sekarang. Tentu ini bukan sebuah kesimpulan tentang hubungan antara nilai di sekolah dengan tingkat berhasilan hidup di masa depan. Namun daripada membebani anak atau siswa dengan target nilai di sekolah yang tinggi, lebih baik membekali mereka dengan apa yang bakal mereka hadapi di masa depan, karena menghadapi masadepan ternyata tidak diajarkan di sekolah dulu hingga sekarang.
Kemudian, pertengahan tahun ini saya terkejut mendengar seorang teman lain bercerita, bahwa ia baru saja mendaftarkan anaknya di sebuah SMP Negeri di Jakarta, namun ia harus merogoh dalam-dalam kantongnya karena ia harus membayar ke sekolah itu hampir 5 juta Rupiah. Padahal seharusnya bersekolah di sekolah negeri seharusnya gratis. Ternyata setelah ia bercerita lebih jauh lagi, anaknya telah melalui sebuat test yang diadakan sekolah itu (padahal sebuah sekolah negeri dilarang melakukan test masuk) dan hasil test itu menggolongkan anaknya sebagai “anak pintar”, sehingga perlu masuk ke kelas khusus sebagaimana Putri 3 tahun lalu. Namun bedanya, di sekolah ini ada tambahan biaya sekolah, karena Pemerintah sebenarnya sudah menyediakan biaya bagi setiap anak, kecuali jika Sekolah mengadakan kegiatan atau program lain. Sehingga menurut sekolah ini, tentu diperlukan biaya tambahan untuk bisa menyelenggarakan kelas khusus yang katanya akan ada guru khusus, pelajaran khusus, metoda belajar khusus, bahkan hingga alat bantu khusus dan lain-lain yang khusus. Sayang sekolah itu nampaknya hanya sekedar mencari jalan untuk mengeruk uang dari siswa, karena nampaknya perlu sebuah audit keuangan terhadap program kelas khusus itu yang setelah hampir 6 bulan ini tidak menunjukkan hasil belajar yang menonjol. Contohnya pengajaran bahasa Inggris yang guru dan alat bantunya yang ternyata tidak khusus dan bahkan tidak menghasilkan prestasi yang menonjol.
Modus kelas khusus ini ternyata sudah marak di mana-mana, setidaknya di Jakarta saja. Padahal, selain modus ini adalah sebuah cara licin untuk mengeruk uang siswa, modus ini juga menghasilkan dampak yang tentu buruk bagi siswa lain di kelas biasa. Sayang pemerintah belum peduli dengan soal ini dan kebanyakan orang tua tidak cukup pintar untuk menghindari jebakan kelas khusus ini. Padahal juga, pemerintah sebenarnya tidak menghargai proses pendidikan di sekolah. Itu terlihat dari kebijakan Ujian Nasional, yang hanya menghargai 3 mata pelajaran saja. Mata pelajaran lain tidak berharga, apalagi proses belajarnya atau interaksi siswa dengan guru atau dengan siswa lainnya.
Mestinya orang tua belajar dari Seto Muljadi pakar mengenai anak yang tidak menyekolahkan anak-anaknya, tetapi memberikan program home schooling. Sayang Seto Muljadi tidak mau berperang dengan mitos yang sudah berurat-berakar di mana-mana, yaitu lembaga sekolah itu penting.
Selamat berhari guru! Semoga Indonesia tidak terus dipimpin oleh para sontoloyo baik yang di Istana maupun yang di Senayan atau di mana saja!
Jojo Rahardjo

Saturday, October 30, 2010

HATI-HATI DENGAN ASURANSI KENDARAAN JAYA PROTEKSI

Saya kecewa dengan Asuransi Jaya Proteksi. Klaim penggantian kaca jendela depan yang saya ajukan hari Senin siang 25 Oktober 2010 baru selesai hari ini, Sabtu 30 Oktober 2010 (No. Polis 02.01.10.018050).

Mungkin saya tidak keberatan jika saya diberitahu sejak awal, bahwa proses penggantian kaca yang begitu sederhana itu bisa memakan waktu 5 hari lebih. Namun tidak ada informasi mengenai itu, sehingga saya harus menghubungi berkali-kali cabang Jaya Proteksi yang di Kelapa Gading Boulevard dan bengkel Top Motor (rekanan Jaya Proteksi) di Sunter Kemayoran. Bahkan saya sudah mengirim 2 fax supaya saya menjadi jelas tentang kapan kendaraan saya ditangani. Kaca jendela adalah penting sekali pada sebuah kendaraan, sehingga saya berharap supaya bisa cepat ditangani. Sayang sekali, ternyata Jaya Proteksi ternyata tidak menerapkan standar penanganan klaim yang baik.

Kekecewaan saya semakin besar, karena pihak bengkel juga tidak terlihat mau kooperatif. Jika saya telpon, mereka seperti terganggu, padahal itu hak saya untuk menanyakan kapan kaca jendela saya akan tersedia, begitu juga kapan kaca film akan dipasang.

Saya sungguh tidak mengerti, bagaimana sebuah kordinasi begitu amat kacaunya (antara Jaya Proteksi, bengkel, dan supplier) untuk memasang sebuah kaca jendela dengan kaca filmnya? Klaim sudah saya ajukan hari Senin siang, dan hari Senin itu juga saya ke bengkel untuk memberikan surat (SPK?) dari Jaya Proteksi. Setelah menelpon berkali-kali, kaca jendela dipasang hari Kamis, sedangkan kaca film baru terpasang pada hari ini, Sabtu. Itu pun berkat komunikasi saya dengan pihak supplier (Ibu Nana, Toko Maju Mandiri kebetulan adalah supplier yang baik).

Selain merasa tidak nyaman, saya pun kehilangan banyak waktu, karena harus terus berkomunikasi dengan Jaya Proteksi dan Bengkel sepanjang hari Selasa hingga Jumat. Karena saya merasa dirugikan, maka saya harus mengingatkan orang-orang di berbagai media agar mempertimbangkan apa yang saya alami ketika memutuskan membeli asuransi kendaraan, terutama Jaya Proteksi.

Thursday, October 21, 2010

INFRASTRUKTUR DAN KORUPSI












Pagi ini kendaraan saya kembali tersungkur di sebuah lubang yang dalam. Suaranya keras sekali, braak! Lubang itu berada di jalan raya Cilincing menuju Cakung. Ini bukan yang pertama kalinya kendaraan saya tersungkur di lubang. Banyak lubang menganga di sepanjang jalan Cilincing-Cakung dan arah sebaliknya. Lubang ini juga membahayakan kendaraan roda dua. Sudah tak terhitung berita mengenai kecelakaan kendaraan roda yang menewaskan pengendaranya di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan jalan ini adalah jalur transportasi barang dari pelabuhan Tanjung Priok menuju jalan tol untuk menuju Jawa Barat, Tengah dan Timur. Artinya ini jalur yang penting untuk sebuah kegiatan ekonomi di pulau Jawa. Gilanya, lubang itu tidak hanya berada di jalan biasa, tetapi juga tidak terkecuali di jalan tol bebas hambatan Jakarta Outer Ring Road (JORR) TanjungPriok-PondokIndah-Bintaro. Padahal Toll JORR itu tidak gratis, malah selalu naik, meski sudah terlalu mahal. Lubang-lubang ini selain mengganggu kenyamanan, juga membahayakan truk-truk yang membawa beban sangat berat.

Saya sudah menulis beberapa tulisan mengenai ini. Begitu juga sudah tak terhitung orang yang menulis soal ini atau sudah tak terhitung media yang menjadikan ini sebagai tajuk utama atau laporan utama, baik di media cetak maupun elektronik. Namun ternyata demokrasi atau kebebasan berekspresi sekalipun tidak menjadikan infrastruktur di negeri ini menjadi lebih baik.

Andai saja, negeri ini memiliki presiden yang membenci korupsi dengan amat sangat, tentu lubang di jalan ini tidak akan ada. Kondisi infrastruktur yang tidak memadai ini, tentu disebabkan oleh korupsi yang berurat-berakar di negeri ini. Bagaimana mungkin presiden mau dan bisa memberantas korupsi , jika biaya kampanyenya berasal dari korupsi? Karena korupsi pasti saling kait mengkait. Jika yang di atas korupsi, maka yang di bawahnya pasti terkena cipratannya. Jika yang di bawah korupsi, maka yang di atas harus mendapat upeti. Korupsi itu pasti berjamaah, hingga mereka pun saling dukung-mendukung dan saling melindungi antar sesama koruptor. Begitu juga presiden yang lahir dari hasil korupsi, pasti pendukungnya adalah koruptor. Sebaliknya, mana mungkin presiden memberantas koruptor yang menjadi teman pendukungnya yang koruptor juga.

Saya jadi teringat pada Susno Duadji ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar beberapa tahun lalu. Meski banyak yang pesimis ketika ia meminta anak buahnya untuk menandatangani kontrak untuk tidak korupsi, namun saya melihatnya sebagai sebuah terobosan atau sebuah cara yang praktis namun sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi. Langkah Susno ini waktu itu, pasti membuatnya berada pada posisi sulit untuk melakukan korupsi, begitu juga anak buahnya.

Pemberantasan korupsi memang tidak bisa hanya dengan diam saja, menunggu atau mengandalkan sistem hukum yang ada, karena korupsi adalah sebuah perilaku yang berawal dari watak orang yang tersesat (dalam memandang kehidupan ini) yang saling menular hingga ukuran moral pun berubah di negeri ini. Seorang pemimpin dengan situasi seperti ini dituntut untuk mampu memberikan sangsi sosial dan sangsi moral kepada anak buahnya agar menjadi sistem anti korupsi yang tidak tertulis. Salah satu caranya adalah dengan berkoar-koar kepada anak buahnya bahwa korupsi adalah sebuah perbuatan yang sangsinya adalah pemecatan tanpa menunggu proses hukum. Langkah Susno ini tentu membuat orang terus mengukur tindakannya. Susno tentu bukan orang suci atau orang yang bersih dari segala kesalahan, namun sejarah akan mencatat, bahwa ia adalah salah satu orang yang mencoba memberantas korupsi secara sungguh-sungguh di negeri ini, tidak seperti presiden negeri ini yang personalitynya lebih mirip seorang banci.

Jadi kapan infrastruktur di Indonesi menjadi baik? Mana gua tau!

EAT PRAY LOVE, bukan The Stranger, bukan Last Tango in Paris, bukan pula The War of the Roses




Film ini tidak dibuka dengan pemandangan pantai atau tempat-tempat wisata dimana turis mancanegara banyak berkeliaran, tapi dibuka dengan pemandangan sawah-sawah di desa Ubud, sebuah tempat di pulau Dewata, Bali. ELizabeth Gilbert (Julia Roberts) nampak mengayuh sepeda di sebuah jalan kecil yang membelah sawah-sawah itu. Kemudian Julia Robert berhenti di depan sebuah rumah khas Bali dan memarkir sepedanya. Rumah itu berada di sebuah jalan kecil yang sepi dan bentuk pagar batu rumah itu sangat khas Bali, dengan gapura kecil dan undak-undakan. Di adegan ini saya menarik nafas panjang. Tiba-tiba saya juga ingin berada di sana, berada di suasana spiritual yang dulu pernah saya rasakan beberapa tahun yang lalu, berjalan di jalan-jalan kecil yang jauh dari keramaian wisatawan. Saya ingin lagi menatapi bagian pagar batu rumah-rumah Bali itu. Saya bahkan ingin menatapi undak-undakannya, menatapi kekhasannya. Saya suka detil pagar rumah orang Bali. Pagar batu itu membuat saya juga ingin lagi menatapi orang-orang Bali melakukan ritualnya di pagi hari.

Saya harus tegaskan, saya suka bagian awal dari film ini. Ini film kedua tentang penulis yang saya tonton di tahun 2010, setelah Ghost Writter. Meski demikian film ini bukan tentang profesi menulis, tetapi tentang "perjalanan spiritual" seorang penulis Amerika. Setelah ternganga dengan pemandangan desa Bali di bagian awal, saya kemudian berharap film ini akan terus bernuansa spiritual Bali seperti ini, bukan bernuansa Bali yang hiruk pikuk dengan wisatawan dari seluruh dunia yg bertelanjang baju di jalan-jalan Kuta. Namun, film ini lebih dari separuhnya bersetting di beberapa tempat di dunia, yaitu Amerika, Italy, India dan Bali. Bali menjadi bagian awal dan akhir film ini. Dua jempol saya berikan buat film ini karena bagus menyajikan pemandangan di Italy, India dan Bali. The scenery is breathtaking, karena mampu menonjolkan apa yang memang menjadi ciri khas kota-kota itu, misalnya pemandangan khas kota-kota di India yang kumuh namun melahirkan spiritualisme universal dan pemandangan gerakan tangan khas orang-orang Italy ketika berbicara.

Namun sayang menurut saya film ini gagal menggambarkan keterasingan Liz dari dunia yg seharusnya bisa menjadi miliknya. Film yang diangkat dari sebuah buku memoir (2006) berjudul sama oleh dan tentang ELizabeth Gilbert, bahkan ber-happy-ending. Sebuah ending yang klise (mungkin di memoirnya memang begitu). Liz di Bali digambarkan menemukan apa yang dicari dalam hidupnya, yaitu "balance". Namun nampaknya film ini memang hanya untuk memenuhi kerinduan penonton pada Julia Roberts ketika bermain di Pretty Woman, sedangkan saya berharap menonton Julia Roberts ketika bermain di Erin Brokovich.

Saya belum membaca memoirnya, namun sebaiknya film ini juga menonjolkan tentang keterasingan Liz yang tidak dapat dijelaskan. Mungkin untuk itu diperlukan seorang sutradara khusus. Ini memang bukan film untuk yang menyukai "spritualisme yang dalam" atau film yang penuh adegan konflik kejiwaan atau dialog-dialog spiritual.

Saya membayangkan film ini bisa lebih baik untuk saya jika film ini bisa menorehkan luka pada penontonnya. Luka yang membuat penonton tidak berhenti merenung-renung tentang makna hidupnya, namun kemudian di bagian akhir tidak juga menemukan apa yang dicarinya. Saya tentu berharap ini film tentang The Stranger (novel oleh Albert Camus, 1942) dalam versi popnya atau film seperti Last Tango in Paris (Marlon Brando, 1972). Bahkan sejauh yang saya ingat The War of the Roses (Michael Douglas, Kathleen Turner, and Danny DeVito, 1981) jauh lebih baik menggambarkan keterasingan istri terhadap suaminya.

Jojo Rahardjo

Wednesday, October 06, 2010

PLANET BUMI TERANCAM PETERNAKAN




Beberapa tahun terakhir ini, melalui Internet saya menemukan beberapa ajakan untuk menjadi vegetarian dalam rangka menyelamatkan planet Bumi ini, baik melalui email, blog, situs berita, maupun dari social networking. Awalnya tidak begitu saya pedulikan, namun akhirnya saya penasaran, apa hubungannya “menjadi vegetarian” dengan keselamatan planet Bumi, begitu saya bertanya-tanya. Di bawah ini adalah sebuah ringkasan dari berbagai tulisan mengenai itu.

Setelah sedikit Googling, saya cukup terkejut dengan apa yang telah dicapai umat manusia dalam mencukupi kebutuhan protein di dalam makanannya, terutama daging dari ternak hewan dan unggas. Jika dahulu kala manusia makan daging ternak hanya dari hewan dan unggas yang ada di sekitarnya, sekarang hewan dan unggas dipelihara di sebuah tempat yang tidak lagi mirip dengan peternakan hewan dan unggas, tetapi lebih mirip sebuah pabrik besar di mana hewan dan unggas dihasilkan, kemudian daging ternak ini dikirim berjuta-juta kilometer jauhnya melintasi lautan atau benua untuk dikonsumsi. Di pabrik itu tingkat kematian ternak sangat kecil, meski bukan berarti ternak itu sehat. Hewan dan unggas itu mendapat suntikan aneka obat atau hormon agar tetap hidup dan tumbuh amat cepat untuk dapat segera dipotong.

Yang juga mengejutkan adalah, jika dahulu kala hewan hanya makan dari tumbuhan yang tersedia di sekitarnya, sekarang jutaan hektar hutan di seluruh dunia yang seharusnya menjadi paru-paru dunia ditebang untuk dijadikan pertanian atau perkebunan yang hasil panennya diperuntukan bagi makanan ternak di berbagai belahan dunia yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah manusia yang mengkonsumsinya. Ternak yg jumlahnya milyaran ini tentu harus diberi makan. Silahkan bayangkan berapa luas pertanian atau perkebunan di planet Bumi ini yang harus disediakan untuk memberi makan ternak ini. Contohnya adalah, di Amerika Selatan, 400 juta hektar tanaman kedelai digunakan sebagai pakan hewan ternak, padahal seluruh manusia di planet Bumi ini hanya memerlukan 25 juta hektar saja untuk mendapatkan pasokan protein nabati. Penggunaan 1 hektar lahan yang hasilnya untuk untuk peternakan hanya menghasilkan 20 pon protein hewani, sedangkan jika kita menanam kedelai pada lahan yang sama besar maka dapat menghasilkan 356 pon protein nabati. Peternakan juga menguras secara besar-besaran sumber air kita yang berharga dan semakin tipis. Peternakan menggunakan 1.200 galon air hanya untuk menghasilkan 1 porsi daging sapi sedangkan 1 porsi makanan para vegetarian hanya membutuhkan 98 galon air.

METANA LEBIH BERBAHAYA DARIPADA CO2

Watch Magazine menyatakan bahwa peternakan saat ini menjadi penyebab terbesar global warming, setidaknya sebesar 51 persen. Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang.

Mereka berdua menghitung emisi industri ternak dari awal ke akhir mulai dari memproduksi pupuk, menanam tanaman pangan untuk hewan ternak sampai pemeliharaan, penjagalan, pengolahan, pendinginan, dan pengangkutan produk-produk hewani. Hasilnya, mereka menemukan bahwa industri peternakan menghasilkan 9 persen emisi karbon dioksida, 37 persen emisi metana, dan 67 persen emisi dinitrogen oksida. Tulisan ini juga menyatakan bahwa metana memiliki efek global warming 23 kali lebih besar daripada efek CO2 (karbon dioksida), sedangkan dinitrogen oksida memiliki efek global warming 296 kali lebih besar daripada karbon dioksida.

Dr. Kirk Smith dari Universitas Kalifornia, Berkley, AS bahkan telah mengatakan, bahwa jika dunia beralih ke ekonomi nol-karbon hari ini, planet ini tetap akan memanas hingga ke tingkat yang berbahaya. Selain itu, teknologi ramah lingkungan untuk menciptakan ekonomi nol-karbon saat ini masih sangat sedikit dan belum diterapkan secara luas. Dalam presentasinya kepada Dewan Sumber Daya Udara AS dari negara bagian California yang berjudul “Karbon pada Steroid, Kisah yang Tak Diungkapkan tentang Metana, Perubahan Iklim, dan Kesehatan”, Dr. Smith mengusulkan bahwa walaupun penanganan emisi karbon dioksida penting untuk jangka panjang, tetapi lebih penting lagi untuk mengurangi emisi metana dengan segera.

25 Tahun yang lalu, di pertemuan pertama yang diadakan di Rio pada KTT Bumi tentang Perubahan Iklim dinyatakan, bahwa CO2 adalah emisi yang menyebabkan global warming. Tentu itu masih benar hingga sekarang, bahkan emisi karbon bisa bertahan lama. Namun riset yang diterbitkan dalam Journal Science edisi Oktober 2009 menemukan bahwa ternyata metana menjadi penyebab global warming yang lebih besar dari yang diperhitungkan sebelumnya, karena CO2 dari bahan bakar fosil berinteraksi dengan aerosol atau partikel kecil di udara sehingga juga menghasilkan efek pendinginan.

Noam Mohr, dosen bidang fisika di Universitas New York, AS menjelaskan proses ini. Berdasarkan sejarah, semua sumber karbon dioksida juga mengeluarkan aerosol atau partikel kabut yang selama ini mendinginkan Bumi. Dan Dr. James Hansen yang dipandang sebagai pencetus teori global warming menunjukkan bahwa dua jenis emisi ini kurang lebih saling menetralisir. Jadi pada kenyataannya, kita tidak begitu mengalami efek global warming karena karbon dioksida selama ini. Jadi ketika kita membakar bahan bakar fosil, kita menghasilkan karbon dioksida yang memanaskan planet dan sekaligus aerosol yang mendinginkan planet. Dan jika kita menghitungnya maka efeknya menjadi sekitar nol. Jadi global warming yang terjadi sekarang disebabkan oleh sumber yang lain, yaitu metana.

Ternak memang bukan mobil, kendaraan atau sebuah pabrik yang menghasilkan polusi udara atau CO2, namun ternak sekarang menjadi ancaman teratas bagi planet Bumi atau lingkungan hidup manusia. Gara-gara industri peternakan di seluruh dunia, hewan ternak dibuat beranak-pinak sangat cepat sehingga menjadi ancaman terbesar terhadap lingkungan, hutan dan hingga iklim di Planet Bumi ini. Gas buangan dan pupuk dari kotoran ternak menghasilkan lebih dari sepertiga gas metana di atmosfir yang kontribusinya terhadap global warming 20 kali lebih cepat daripada kardondioksida yang dihasilkan oleh seluruh mesin-mesin di seluruh dunia yang berbahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara).

Bukan hanya itu, ternyata industri peternakan telah mengorbankan persediaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui kembali. Seekor hewan di sebuah peternakan ternyata membutuhkan banyak sekali air. Dibutuhkan 2500 gallon air untuk menghasilkan hanya 1 pon daging hewan ternak. Padahal kita hanya membutuhkan 29 gallon air untuk menghasilkan 1 pon tomat, dan 39 gallon air untuk 1 pon roti tawar.

Di Amerika, setengah dari penggunaan air dan 80% persen tanah pertanian di Amerika Serikat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri peternakan. Hampir semua perkebunan kacang kedelai dan separuh lebih hasil biji-bijian dunia digunakan untuk menjadi makanan ternak. Padahal ada 1 milyar penduduk yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi, serta 24 ribu anak-anak yang meninggal setiap hari karena kekurangan gizi dan kelaparan.

Simak juga ini: Planet bumi sebenarnya menyimpan metana beku dalam jumlah yang sangat besar yang disebut dengan methane hydrates atau methane clathrates. Methane hydrates banyak ditemukan di Kutub Utara dan Kutub Selatan, dimana suhu permukaan air kurang dari 0 derajat Celcius, atau dasar laut pada kedalaman lebih dari 300 meter dimana temperatur air ada di kisaran 2 derajat Celcius. Methane hydrates juga ditemukan di danau-danau yang dalam seperti danau Baikal di Siberia.

Global warming yang sekarang sedang terjadi telah membuat suhu es di Kutub Utara dan Kutub Selatan menjadi semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer. Padahal metana ini adalah emisi yang paling berperan menyebabkan global warming. Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku. Gas ini sekarang dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di Antartika yang runtuh. Bayangkan, betapa mengerikannya keadaan ini! Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer dan semakin memanaskan planet Bumi!

Ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global. Sekali terpicu, global warming ini tidak akan bisa dihentikan lagi. Gambaran ini adalah sebuah gambaran baru tentang kiamat di planet Bumi!

Sekarang para vegetarian aktif mengkampanyekan hal-hal berikut ini:

1 porsi DAGING SAPI membutuhkan lebih dari 1.200 galon air1 porsi DAGING AYAM membutuhkan 330 galon air1 hidangan VEGAN komplit dengan tahu, tempe (protein nabati), beras, dan sayur-mayur hanya membutuhkan 98 galon air

Dr. Mark Serreze, ilmuwan periset senior di Pusat Data Salju dan Es Nasional Amerika Serikat, dan Dr. Olav Orheim pimpinan Sekretariat Norwegia untuk Tahun Kutub Internasional menyatakan ada kemungkinan bahwa es di Laut Kutub Utara akan mencair di akhir musim panas 2012.

Anda boleh menyebut tulisan ini sebagai fantasi atau paranoid, namun tulisan ini adalah true science. Anda bisa mempelajarinya dengan melakukan sedikit Googling.

Dari berbagai sumber, antara lain:

http://suprememastertv.com/ina/SOS/

http://www.pemanasanglobal.net/faq/solusi-untuk-planet-dari-maha-guru-ching-hai.htm

http://bayivegetarian.com/?p=467http%3A%2F%2Fwww.kabarindonesia.com%2Fberita.php%3Fpil%3D4&jd=Menjadi+Vegan%2C+Solusi+Utama+Pemanasan+Global&dn=20100430201110

Thursday, June 24, 2010

ARIEL DAN SBY

Memberi hukuman pada pemeran video porno mirip artis terkenal itu adalah sebuah keharusan. Hukum memang terasa tidak adil bagi yang terkena hukuman, namun hukum dibuat salah satunya untuk mengancam orang lain agar takut melakukan perbuatan yang dilarang.

Kasus Ariel, Luna dan Cut Tari memang menggemparkan. Orang menyebut moralitas bangsa ini sudah rusak sekali, seolah-olah semua orang sudah melakukan sex bebas seperti dilakukan para pemeran video porno itu. Padahal saya yakin sekali, dari beberapa puluh tahun yang lalu hingga sekarang angka persentase orang yang melakukan sex bebas tetap sama. Teknologi video yang merambah hingga ponsel lah yang membuka tabir kehidupan sex bebas ini, sehingga seolah-olah angkanya bertambah, padahal sejak dulu kehidupan sex bebas juga ada tapi tidak terungkap.

Namun banyak orang benar untuk satu soal. Yaitu membuat video porno adalah perbuatan yang sangat salah, meski hanya untuk koleksi pribadi. Di zaman IT yang sudah begini canggih, boleh dibilang tidak ada lagi wilayah privacy. Video seperti itu disimpan di mana pun, apalagi di simpan di komputer, tentu mudah sekali untuk tersebar ke mana-mana. Sehinggga harus ditumbuhkan sebuah nilai moral baru, yaitu menyimpan video intim meski dengan pasangan sendiri yang syah adalah sebuah perbuatan yang dilarang. Video seperti ini memiliki daya rusak pada anak-anak yang belum ditanamkan ukuran-ukuran moral dengan kuat. Anak-anak tentu mudah meniru perbuatan-perbuatan seperti di dalam video itu yang seolah-olah hanya perbuatan biasa dan perbuatan yang normal dilakukan pasangan kekasih. Padahal mereka belum banyak tahu soal-soal lain yang berkaitan dengan perbuatan itu, misalnya soal kesehatan atau penyakit, soal reproduksi atau soal-soal emosional mereka di dalam hubungan mereka, bahkan soal-soal hukum.

Saya berpendapat, jika seorang presiden berkomentar soal video porno itu adalah sikap yang berlebihan. Saya juga heran, kok presiden ternyata seorang yang peka dan mudah malu gara-gara video porno itu. Bagi saya persoalan jalan raya dan lalulintas di Jakarta adalah persoalan yang lebih besar dan lebih memalukan dibanding soal video porno itu. Mestinya presiden jauh lebih peka dan merasa amat malu karena nggak mampu memperbaiki transportasi umum yang menyebabkan jalan raya menjadi macet dipenuhi mobil pribadi dan terutama motor. Situasi jalan raya sungguh menggambarkan kualitas pemerintahan. Banyak orang akhirnya memilih sebuah pilihan yang sebenarnya buruk, yaitu memilih moda transportasi motor roda dua, karena tidak ada transportasi umum yang memadai dan juga tidak memilih mobil karena akan terjebak di kemacetan. Namun, bukan memperbaiki sistem transportasi umum, pemerintah malah mencoba membatasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya termasuk membatasi penggunaan motor.

Sudah sering saya menulis soal jalan raya itu dan saya tidak akan bosan untuk menyebut lagi bahwa bangsa ini terlihat biadab di jalan raya karena pemerintahnya yang membentuk bangsa ini menjadi seperti itu.

Aneh!

Thursday, June 03, 2010

HOAX DAN COCACOLA


Baru-baru ini saya membaca di Internet sebuah berita yang bisa digolongkan sebagai hoax mengenai logo CocaCola. Menurut hoax itu logo CocaCola jika dibaca melalui cermin akan muncul tulisan dan huruf Arab yang "bisa" dibaca "La Muhammad, La Makkah" yang artinya No Muhammad, No Makkah. Hoax ini tentu laris manis untuk disebarkan dikalangan Muslim. Tulisan ini pun termasuk yang ikut menyebarkannya, namun justru untuk mengatakan bahwa itu hoax dan hanya orang yang tidak kritis saja yang percaya bahwa CocaCola berniat untuk melecehkan Nabi besar dan kota suci dari ummat Muslim.


Sangat mungkin hanya kebetulan. Bukankah ada sejarah CocaCola yang bisa dicari tahu. Dan biasanya omong kosong seperti ini akan hilang ditelan angin.... Orang-orang akan tetap meminum CocaCola....

Lebih baik menyebut CocaCola sebagai minuman yang tidak mengandung gizi dan sodanya nggak menguntungkan kesehatan. Bukan dengan menyebut dengan kisah hoax.

Saya pernah baca di sebuah artikel, ahli pemasaran CocaCola di masa-masa awal perusahaan itu, mengatakan kira-kira begini: "CocaCola adalah hanya sebuah air yang mengandung gula, bahan pewarna, soda dan rasa coca." Lalu katanya lagi, "Siapa yang mau meminum air seperti itu?" Tapi CocaCola diminum orang sejagat berkat citra yang diberikan para ahli pemasaran CocaCola, yaitu citra kehidupan yang nyaman, dinamis, muda, dan bergairah. Tentu itu sebuah upaya yang luar biasa cerdas dan giat. Apakah mungkin citra yang sudah tertanam bertahun-tahun dibenak orang di seantero jagat ini seperti layaknya sebuah "iman" yang tertanam di kepala sebuah pemeluk agama bisa dirubah sekejab hanya dengan sebuah hoax?

Thursday, May 20, 2010

ARUMI KABUR


Belum lama ini saya mengunjungi seorang kerabat yang sudah tua yang tinggal di Bandung. Di dalam tradisi Indonesia, ia disebut kakek saya dan ia berumur kira-kira lebih dari 85 tahun. Meski ia fasih berbahasa Sunda dan dipanggil Aki Tedja, namun sebenarnya ia tidak berasal dari Bandung. Ia hanya menghabiskan sisa sebagian besar umurnya di Bandung. Kisah Aki Tedja bermula puluhan tahun yang lalu, ketika ia masih remaja berumur 15 tahun. Menurut kisah yang disampaikan kepada saya oleh orang-orang yang lebih tua 1 generasi di atas saya, Aki Tedja meninggalkan rumahnya di Cirebon tanpa pamit dan tentu saja tanpa memberitahukan tujuannya. Aki Tedja sebenarnya lahir di Indramayu dengan nama Wartedja. Karena yatim piatu, ia dibesarkan oleh kerabatnya di Cirebon. Masih menurut cerita yang disampaikan oleh kerabat saya, Aki Tedja kabur setelah dimarahi oleh orang-orang yang membesarkannya. Sebenarnya ia hanya dimarahi, bukan dipukuli atau dianiaya, namun memang tidak gampang untuk memahami perasaan orang atau anak. Barangkali itu sebabnya Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA), bahkan mewajibkan orangtua atau wali anak untuk memberikan lingkungan yang sehat dan tepat untuk tumbuh dan berkembangnya anak. Puluhan tahun setelah Aki Tedja kabur, beberapa keponakannya yang dulu berumur sekitar 7 tahun menemukannya kembali di Bandung ketika Aki Tedja telah pensiun dari Angkatan Darat. Ternyata Aki Tedja kabur dan kemudian menjadi tentara. Mungkin kisah kaburnya Aki Tedja adalah kisah kaburnya seorang anak yang berakhir baik, bukan berakhir bencana. Aki Tedja tentu ketika remaja adalah seorang anak yang baik. Sebagai buktinya, banyak keponakannya yang merindukannya dan sekarang rajin mengunjunginya saat Aki Tedja kini telah uzur.

Siapa yang tidak pernah kabur dari rumah?

Dari pengamatan sekilas, barangkali 1 dari 10 orang yang saya kenal pernah kabur dari rumah ketika remaja. Penyebabnya rumit dan sering tidak terduga. Saya pun pernah kabur dari rumah. Penyebabnya sering karena perasaan tidak nyaman yang terjadi untuk waktu yang lama atau bertahun-tahun. Ketidakmampuan berkomunikasi yang baik antar anak dan orangtua membuat anak cenderung untuk berpikir bahwa tidak ada pilihan lain kecuali kabur. Orang tua cenderung bersikap memaksa untuk urusan tentang benar atau salah. Jarang orangtua mengakui kesalahan yang dibuatnya, sehingga anak pun cenderung untuk tidak mau disalahkan.

Kabur dari rumah adalah kisah klasik. Kisah yang sudah terjadi sejak dulu sekali. Begitu juga ketika Arumi kabur. Kisah Arumi yang baru berumur 16 tahun menjadi ramai karena Arumi memang seorang artis terkenal. Namun kisah Arumi kabur menjadi menarik bagi saya karena kaburnya Arumi berbeda dengan kaburnya remaja yang lain. Tempat yang pertama kali didatangi oleh Arumi adalah kantor polisi. Konon, polisi lah yang kemudian meminta Komnas Perlindungan Anak dan Kak Seto untuk membantu menangani kasus Arumi ini. Sejauh ini memang tidak ada penganiayaan yang diderita oleh Arumi yang dilakukan orangtuanya atau pun anggota keluarga yang lain. Namun menjadi jelas terutama di media televisi tentang bagaimana sebenarnya orang-orang di sekitar Arumi memperlakukannya. Nampaknya Arumi telah dieksploitasi oleh keluarga untuk menjadi sapi perahan, baik untuk menghasilkan uang, mau pun untuk mendapatkan popularitas. Menurut keluarga (termasuk juga yang bukan keluarga inti), apa yang sudah dijalankan (yaitu menjadi artis yang bekerja siang dan malam, bahkan hingga pagi) oleh Arumi adalah sesuatu yang baik dan akan diteruskan meski harus dengan pemaksaan terhadap Arumi. Keluarga Arumi gagal menangkap apa yang sebenarnya diinginkan Arumi atau apa yang menurut Arumi baik untuk dirinya sendiri. Keluarga dan Arumi gagal berkomunikasi.

Bahkan setelah Arumi kabur pun, keluarga masih menjalankan komunikasi yang buruk dengan Arumi. Keluarga, bahkan seenaknya melecehkan beberapa pemikiran-pemikiran Arumi, misalnya tentang siapa teman yang boleh dipilih oleh Arumi. Keluarga bahkan dengan sembrono membiarkan adik Arumi yang masih berumur 14 tahun untuk mencaci teman yang telah dipilih Arumi di depan media. Padahal Arumi dalam wawancara-wawancara jauh sebelum ia kabur, tidak pernah berbicara buruk tentang keluarganya. Bahkan Arumi menunjukkan tidak ada apa-apa di dalam keluarganya.

Tentu saja itu membuat Arumi melihat tidak adanya perubahaan yang berarti setelah ia kabur. Keluarga tetap berpikir bahwa yang benar adalah keluarga, Arumi hanya terpengaruh oleh orang-orang luar atau Arumi belum cukup pintar untuk memiliki pemikiran sendiri.

Arumi ternyata anak yang cerdas dan tidak terlihat oleh keluarganya. Kaburnya Arumi bagai guntur bagi siapa saja yang mengenal Arumi, karena tiba-tiba Arumi berubah total. Kemarin, 19 Mei, Arumi menolak kunjungan keluarganya di tempat pelariannya dengan memberikan selembar kertas bertulisantangan Arumi sendiri yang kira-kira berisi seperti ini.

“Saya tidak mau keluar (maksudnya dari kamar) dan saya tidak mau bertemu (maksudnya tidak mau bertemu utusan keluarga), karena belum ada kesepakatan. Jangan paksa saya atau saya akan mengambil jalan lain”.

Good luck, Arumi!

Sunday, May 09, 2010

STATUS FB dan KARYA SASTRA

Albert Camus dari Wikipedia


Sebenarnya setiap hari saya menulis. Sayang tidak semua tulisan saya itu bisa saya tampilkan di sini, karena beberapa alasan. Tidak semua tulisan saya itu menggambarkan diri saya, meski demikian sejauh ini belum ada yang memintuntuk tujuan kriminal yang tentu akan saya tolak.

Sudah tiga minggu setelah saya kembali memiliki FB Account. Dan dalam tiga minggu ini tidak banyak status yang saya buat. Mungkin cuma tiga status saja. Saya tidak tahu harus menulis apa di tempat yang hanya bisa memuat beberapa kata itu.

Sebenarnya hampir setiap hari muncul beberapa gagasan untuk menjadi tulisan. Sayang tidak tiap hari pula saya bisa mewujudkannya menjadi tulisan. Padahal beberapa tulisan seperti film review ditulis dengan cara mengalir saja. Hanya setelah film review itu selesai, saya melakukan riset sedikit agar tidak ada data atau fakta yang salah. Idealnya saya membuat sebuah film review untuk setiap film yang saya tonton. Meski film itu jelek, saya yakin bisa menjadi tulisan yang menarik, karena mengungkap kesalahan-kesalahan yang dibuat film itu.

Kembali ke FB status. Saya baru saja melihat sebuah status teman saya. Isinya cuma keluhannya tentang seorang yang dikenalnya. Statusnya tidak kasar. Pilihan katanya bagus dan menggambarkan suasana hatinya dengan baik. Namun bagi saya isi status itu terlalu dangkal. Tidak menginspirasikan kebaikan atau sesuatu yang besar.

FaceBook sejak saya kenal lebih dari setahun yang lalu sebenarnya telah menyegarkan ingatan saya pada sebuah buku sastra yang saya baca di awal tahun 80-an, yaitu "Orang Asing" atau L'√Čtranger dalam bahasa aslinya, karya Albert Camus. Buku ini adalah sebuah novel yang bernuansa filsafat. Kata-kata dan kalimat di dalam novel ini mengalir lugas sekaligus absurd, namun memiliki kedalaman berpikir yang luar biasa. Novel ini telah merubah banyak cara berpikir saya di tahun 80-an itu. Sedangkan membaca FB Status sering hanya membuat saya dongkol, karena kemana aja sih para penulis status FB ini selama ini? Apakah mereka tidak pernah membaca satu saja karya sastra supaya statusnya agak lumayan?

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyatakan revolusi di Indonesia dulu bisa terjadi berkat adanya karya-karya sastra Indonesia yang dibaca secara luas oleh masyarakat Indonesia. Melalui karya-karya sastra ide-ide besar tentang kemanusiaan, bangsa, kemerdekaan, dan negara disebarkan ke dalam benak banyak orang. Pendidikan hanya bagian dari sastra untuk terbangunnya dan tersebarnya ide-ide besar tentang kemanusiaan itu dan seterusnya.

Sekarang, jika premis itu benar, saya tidak melihat dalam 2 dekade terakhir ini karya-karya sastra besar yang bisa menghancurkan watak korup bangsa ini. Tidak heran jika FB Status yang saya baca hanya bikin saya dongkol. Tidak heran jika korup menjadi watak paling menonjol dari yang disebut orang Indonesia. Tidak heran jika kita diwakili dan dipimpin oleh para baboon sialan.

Saturday, May 08, 2010

GHOST WRITER, TENTANG BUSUKNYA POLITISI


Dua Sabtu yang lalu, saya menonton sebuah film berjudul “Ghost Writer”. Kursi penonton terisi tak sampai seperempatnya, tidak seperti film “2012” yang bahkan harus antri untuk 2 pertunjukan berikutnya. Film ini, sebagaimana yang sudah saya baca reviewnya, adalah film karya Roman Polanski tentang kebusukan politisi, meski bisa film ini dilihat sebagai tentang ghost writer (penulis sebuah memoirs yang sebenarnya, namun namanya tidak dicetak). Tokoh utama dalam film ini adalah mantan British Prime Minister, Adam Lang. Menurut BBC tokoh Adam Lang ini adalah gambaran dari mantan British Prime Minister yang asli, yaitu Tony Blair.

Film ini sangat bagus sekali menggambarkan betapa busuknya kehidupan politisi. Tapi jangan lupa, kisah bagaimana ghost writer bekerja di dalam film ini juga menarik. Apa yang muncul di (terutama) media tentang seorang politisi ternyata adalah palsu. Adam Lang yang charming, cerdas dan suka berakting pada masa mudanya telah didorong oleh CIA untuk memasuki dunia politik di Inggris. Kegilaan dunia politik ini digambarkan film ini dengan mengungkap salah satu perekrut Adam Lang untuk masuk ke dunia politik adalah Ruth yang kemudian menjadi istri Adam Lang sepanjang hidupnya.

Satu kepalsuan dan kepalsuan lain dari seorang politisi digambarkan melalui proses pembuatan memoirs Adam Lang yang ternyata lebih banyak menyembunyikan kisah hidup yang sebenarnya dari Adam Lang. Bahkan dalam memoirs itu nama Ruth, istri Adam Lang hanya disebut 2 kali. Tujuannya adalah untuk menenggelamkan peran Ruth yang agen CIA itu dalam kehidupan politik Adam Lang di Inggris. Namun karena penasaran, sang ghost writer berhasil mengetahui jaringan kerja intelejen antar 2 negara ini.

Tentu kisah seperti ini amat menarik, karena terjadi di negara mana saja, apalagi di negara berkembang. “Politik itu busuk” memang juga terasa di Indonesia. Apa yang terjadi akhir-akhir ini antara DPR dan Pemerintah serta Lembaga-Lembaga Negara lainnya membuktikan itu.

Entah bagaimana caranya, mengelola sebuah negeri dengan cara atau dengan sebuah sistem yang sama sekali baru, misalnya tidak dengan sistem demokrasi yang ternyata lebih banyak busuknya itu. Harus diakui bahwa wakil rakyat atau pemimpin yang betul-betul mewakili rakyat tidak bisa diperoleh melalui sistem demokrasi yang sekarang ini kita aplikasikan.

Barangkali teknologi informasi nanti bisa memberikan jawaban bagi kelemahan sistem demokrasi sekarang atau memberikan jawaban bagi persoalan sistem pengelolaan negeri ini.

Fuck politician!

Thursday, April 29, 2010

KORUPSI, SEBUAH KUTUKAN UNTUK NEGERI INI?

Korupsi. Seolah kata itu baru saja populer beberapa bulan terakhir ini, padahal kata itu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Kata korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptus, dan dalam bahasa Inggris corrupt yang berarti merusak, sehingga corruption atau korupsi berarti juga kerusakan.

Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://plato.stanford.edu/entries/corruption/ , menyebut latar belakang korupsi bukan hanya soal perbuatan mencuri uang atau memperkaya diri sendiri atau kelompoknya, tapi juga perbuatan penyalahgunaan kekuasaaan atau jabatan. Dalam beberapa kasus korupsi yang terjadi adalah bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan. Nah, di Indonesia kasus korupsi yang terjadi beberapa bulan terakhir ini untuk tujuan apa?

Economic corruption is an important form of corruption; however, it is not the only form of corruption. There are non-economic forms of corruption, including many types of police corruption, judicial corruption, political corruption, academic corruption, and so on. Indeed, there are at least as many forms of corruption as there are human institutions that might become corrupted. Further, economic gain is not the only motivation for corruption. There are a variety of different kinds of attractions that motivate corruption. These include status, power, addiction to drugs or gambling, and sexual gratification, as well as economic gain.

Kita sering melihat korupsi hanya sebagai sebuah perbuatan pencurian uang negara. Korupsi kurang terlihat berdampak kepada kehidupan sehari-hari kita. Padahal korupsi berdampak sangat luas. Korupsi bahkan sebenarnya mengancam keselamatan Bumi. Bayangkan jika karena korupsi di Pertamina (yang tak kunjung dibongkar) dan lembaga-lembaga yang berkaitan, Indonesia terus menggunakan minyak Bumi sebagai sumber energinya. Bayangkan kerusakan yang disumbangkan Indonesia untuk global warming. Padahal Indonesia kaya dengan sumber energi alternatif, seperti matahari atau panas bumi.

Beberapa kejadian akhir-akhir ini semakin menjelaskan perilaku korup para pemimpin negeri ini yang juga telah mengancam kehidupan masyarakat yang beradab atau yang seharusnya dimuliakan. Lihat tindakan Pemprov DKI yang memaksa dengan kekerasan untuk “melenyapkan” sebuah situs sejarah penyebaran agama di daerah Tanjung Priok. Padahal di tempat itu juga sudah menjadi tempat diadakannya kegiatan-kegiatan ritual agama selama puluhan tahun. Fauzi Bowo sebagai kepala pengelolaan kota Jakarta merasa lebih pintar dari para ahli pariwisata, ahli sejarah dan ahli agama apa pun dengan memaksa dengan kekerasan untuk merubah situs itu menjadi hanya sebuah tugu kecil di dalam sebuah terminal peti kemas semata. Padahal masih banyak cara dan tempat untuk membangun terminal peti kemas di daerah lain di Tanjung Priok. Padahal juga terminal peti kemas di Tanjung Priok bukan sebuah gagasan yang bagus jika sepanjang tahun jalan raya Tanjung Priok – Cilincing – Cakung selalu dalam keadaan hancur.

INTERPOL di dalam situsnya, http://www.interpol.int/public/corruption/default.asp , menyatakan bahwa korupsi mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. “Corruption undermines political, social and economic stability. It threatens security and damages trust and public confidence in systems which affect people’s daily lives. Although corruption frequently occurs at local or national level, its consequences are global; its hidden costs immense.”

Oleh karena itu tulisan ini adalah catatan tentang bagaimana dampak korupsi terlihat sangat nyata di jalanan kota-kota besar, seperti Jakarta. Berjuta-juta orang harus bergelut, melindas, menyikut atau menginjak satu sama lainnya, bahkan bertaruh nyawa setiap pagi dan sore di jalanan kota Jakarta yang centang perenang, amburadul, acak-acakan, gara-gara korupsi di negeri ini.

Jalan raya kota besar, apalagi jalan raya ibukota sebuah negeri adalah sebuah potret yang akurat tentang kinerja pemerintahnya. Korupsi di negeri ini, sebagaimana yang katanya sedang diberantas, nampak jejaknya dengan jelas di jalan raya kota Jakarta, misalnya dalam bentuk kondisi permukaan jalan atau kondisi rambu-rambu atau lampu lalu-lintas yang tidak pernah dalam kondisi baik. Begitu juga kemacetan dan amburadulnya lalu-lintas di Jakarta menggambarkan bagaimana pemerintah bekerja dalam menegakkan hukum dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, misalnya kebutuhan pada tranportasi umum yang layak.

Angkutan umum justru dianggap sebagai pengelola kota Jakarta sebagai biang keladi atau penyebab kemacetan lalu-lintas. Angkutan umum tidak disiplin. Mereka berhenti di mana saja dan menyerobot apa saja untuk bisa lebih cepat untuk mendapatkan penumpang. Padahal, coba anda berada pada posisi pengemudi angkutan umum, seperti bis, metromini, angkot atau mikrolet. Beban hidup mereka sudah terlalu berat untuk mereka pikul, sementara itu mereka juga harus sekaligus memikul beban sebagai alat pemerintah dalam menyediakan transportasi umum bagi masyarakat luas. Beban hidup mereka antara lain adalah rumah yang layak, biaya sekolah anak-anak, biaya kesehatan, yang tidak termasuk biaya untuk rekreasi atau pun biaya untuk mendapatkan pendidikan tambahan agar bisa memiliki daya saing dibanding orang lain. Atau bahkan biaya untuk memperbaiki spritualitas mereka. Dengan beban hidup sebegitu besar kita mau berharap mereka bisa menjadi agen pemerintah yang baik dalam menyediakan transportasi umum? Tentu itu gila!

Transportasi umum seharusnya dianggap sebuah investasi bagi sebuah aktivitas ekonomi sebuah daerah. Jika aktivitas ekonomi lancar, maka pemerintah pun bisa diuntungkan. Sehingga jika tidak ada korupsi, pemerintah seharusnya mensubsidi transportasi umum dengan cara memberi tunjangan bagi para pengemudi angkutan umum, seperti tunjangan rumah, kesehatan, dan pendidikan. Besarnya tunjangan bagi para pengemudi angkutan umum ini tentu tidak akan lebih besar dari besar pemborosan bahan bakar yang terbuang pada saat terjadi kemacetan di jalan-jalan raya. Menurut Kompas (5/11/2007), kemacetan ini telah menimbulkan kerugian material sebesar 42 triliun rupiah. Apalagi jika mempertimbangkan sumbangan yang diberikan oleh kemacetan pada global warming.

Akibat dari gagalnya pemerintah dalam menyediakan transportasi umum ini, berjuta-juta orang memilih untuk menggunakan sepeda motor dengan amat sangat terpaksa sekali. Padahal sebenarnya mengendarai sepeda motor pada jam-jam macet bukan kegiatan yang nyaman atau membanggakan. Karena resikonya besar untuk mengalami berbagai kecelakaan dan sakit karena terkena polusi langsung di jalanan. Namun berjuta-juta orang itu telah memilih menggunakan sepeda motor karena sistem transportasi umum yang tersedia amat tidak handal dan bahkan relatif mahal dan terutama tidak layak karena tidak pernah berada pada prioritas teratas dari kerja pemerintah.

Mengendarai sepeda motor bukan hanya menghemat ratusan ribu rupiah setiap bulannya, tetapi juga bisa menghemat waktu. Lautan sepeda motor di jalan raya yang amburadul ini tentu akan otomatis hilang jika transportasi umum tersedia secara baik. Jadi silahkan salahkan siapa yang membuat sebuah situasi jalan raya Jakarta dan sekitarnya menjadi amburadul, sehingga orang memilih menggunakan sepeda motor untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Dan silahkan juga membayangkan di tahun depan berapa ribu motor lagi yang akan bertambah untuk membuat anda gila karena melengkapi kesemrawutan jalanan Jakarta.

Selain persoalan transportasi umum, persoalan pemeliharaan jalan adalah persoalan korupsi yang dampaknya setiap hari langsung dirasakan oleh masyarakat. Di mana-mana jalan rusak bertebaran. Tidak peduli di jalan protokol sekali pun. Tentu jalan rusak ini selalu diperbaiki oleh Pemerintah. Namun justru di sanalah masalahnya. Karena uang selalu dihamburkan untuk memperbaiki jalan yang selalu rusak. Tidak ada jalan yang bertahan lebih dari setahun. Tidak sulit memahami bagaimana pemerintah merawat jalan raya, karena begitu terlihat jelas di jalanan. Mereka akan menunggu hingga kondisi begitu rusak dalam hitungan bulan dan tanpa peduli korban sudah berjatuhan agar pekerjaan dapat dilakukan sekaligus bukan sedikit-sedikit pada saat muncul lubang baru yang masih kecil. Biasanya mereka bahkan memberikan satu lapisan aspal baru setebal beberapa centimeter di atas seluruh permukaan jalan, rusak atau tidak rusak sehingga jalan semakin tahun semakin tinggi hingga trotoir harus disesuaikan (diperbaiki) lagi dengan ketinggian jalan. Bisa anda bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan dengan cara perbaikan ini dan siapa yang memperoleh keuntungan dari cara kerja perbaikan jalan seperti ini. Bahkan pada saat pekerjaan perbaikan dilakukan mereka tidak akan perduli apakah pada saat musim hujan atau tidak, padahal jika saat musim hujan perbaikan jalan akan memakan waktu yang lebih lama yang artinya ketidaknyamanan yang lebih panjang bagi pengguna jalan.

Rambu, baik tanda lalu-lintas hingga lampu lalu-lintas sering dalam kondisi rusak atau asal-asalan. Padahal kondisi itu menghasilkan ketidakpastian aturan sehingga jalan menjadi acak-acakan dan membahayakan pengguna jalan. Seharusnya tidak boleh ada satu pun, misalnya lampu-lintas yang boleh rusak dalam waktu lebih lama dari 1 jam. Di Jakarta berapa lampu lalu-lintas yang mati dari 10 lampu lalu-lintas? Lampu lalu-lintas yang mati itu bisa berlangsung hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Di mana pun orang tahu sebuah alat harus memiliki jaminan untuk terus-menerus bisa berfungsi pada periode tertentu dan diperlukan sistem perawatan yang tertentu pula. Pembuat dan pemasok dari lampu lalu-lintas itu harus diberi tanggung jawab untuk ini, bukan cuma asal membuat dan menjual lampu-lintas saja. Entah di mana fungsi KPK selama ini?

Banyak jalan raya digunakan oleh untuk tempat berdagang atau menjalankan usaha seperti bengkel dan lain-lain. Ini menggambarkan ketidakmampuan pemerintah dalam mencari jalan keluar bagi sektor informal untuk berkembang secara tertib. Juga menggambarkan pemerintah yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga miskin di kota-kota besar, sekaligus tidak mampu mengatur arus urbanisasi. Jika Pemerintah bisa dan sudah menyediakan lapangan kerja dan tempat yang layak bagi sektor informal ini, tentu jalan raya harus ditertibkan dengan keras dan tegas dari penggunaan yang melenceng, seperti berdagang.

Penegakan hukum di sebuah negeri juga langsung terlihat di jalan raya. Jika dipasang sebuah rambu untuk tidak parkir, maka hukum di tempat itu harus terus-menerus ditegakkan. Jalan raya di sekitar sekolah dan tempat ibadah harus menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum lalu-lintas, karena sekolah dan tempat ibadah adalah 2 tempat di mana orang belajar menjadi lebih baik dan di mana orang berserah-diri kepada Tuhan, bukan untuk melanggar aturan. Demikian juga jalan raya di sekitar lembaga atau instansi pemerintah harus menjadi contoh penegakan hukum lalu-lintas. Sementara itu aturan di jalan tol juga harus ditegakkan, seperti aturan kecepatan, agar tidak muncul kecenderungan pada ketidakpatuhan bagi pengguna jalan yang lain. Demikian juga larangan penggunaan bahu jalan yang kerap dilanggar tanpa ditegakkan.

Meski pun KPK sudah dibentuk bertahun-tahun yang lalu dan pemberantasan korupsi sudah digembar-gemborkan melalui televisi dan media lainnya, tetapi apakah sebenarnya yang dipahami oleh banyak orang tentang korupsi itu? Lihat apa yang dilakukan Departemen Perhubungan di jalan-jalan di kota-kota sekitar Jakarta, seperti Bekasi. Mereka dengan seragam Dishub menghentikan kendaraan umum atau kendaraan pengangkut barang seperti pick-up dan truk dan meminta uang seperti “jagoan pasar”. Entah uang itu untuk apa dan kemana dikumpulkan. Sangat jelas, bahwa Departemen Perhubungan amat kacau-balau dalam mengartikan korupsi. Departemen Perhubungan tentu telah ikut mendorong tumbuhnya pungutan-pungutan liar di jalanan. Selain mengganggu kelancaran lalu-lintas, uang yang dikumpulkan mudah diselewengkan entah ke mana. Departemen Perhubungan yang memungut uang jalanan ini katanya dipimpin oleh menteri, yang katanya lagi adalah pembantu presiden. Sedangkan presiden katanya adalah orang yang gembar-gembor memberantas korupsi di negeri ini.

Pungutan ini juga termasuk pungutan yang bernama “tarif tol” yang tujuannya sejak dulu telah diperdebatkan. Apalagi tarif tol ini selalu naik dalam jangka waktu yang relatif pendek, namun tidak sebanding dengan mutu jalan dan pelayanannya. Pengelola jalan tol selalu berkilah bahwa biaya pemeliharaan selalu naik dan tidak sebanding dengan pendapatan. Padahal pendapatan pengelola jalan tol tidak pernah dibuka secara transparan.

Pemilihan presiden baru saja digelar tahun lalu. SBY dan Partai Demokratnya kembali memimpin di Indonesia. Namun kasus-kasus korupsi besar justru menyeruak ke publik yang dilakukan oleh jajaran terpenting dari pemerintahannya yaitu jajaran ekonomi, seperti kasus Century, Gayus Tambunan dan Ramayana Department Store. Sehingga tidak mengherankan jika jalan raya kita masih amburadul dan memalukan karena melukiskan apa yang terjadi di pemerintahan ini.

Pasangan presiden SBY dan Boediono nampaknya akan terus membuat anda malu menjadi bangsa Indonesia, karena setiap hari berjam-jam bergumul di kemacetan dan amburadulnya pengelolaan jalan akibat korupsi yang merajalela. Apakah kita akan dibiarkan terus-menerus kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih produktif karena energi kita habis dibantai di jalanan? Apakah kita akan terus-menerus kehilangan kesempatan menjadi manusia yang lebih baik, karena harus saling sikat di jalan raya? Apakah kita akan terus-menerus menunduk malu ketika wisatawan mancanegara datang dan melihat jalan raya kita yang menggambarkan rendahnya derajat bangsa ini?

Nampaknya korupsi di negeri ini adalah watak bangsa Indonesia di (bukan sejak) jaman dahulu sekali yang muncul kembali. Berabad-abad Indonesia hanya memiliki satu struktur masyarakat, yaitu penguasa dan rakyat jelata hingga abad 20 ketika muncul kesadaran tentang “kemerdekaan”. Di jaman dahulu tidak pernah ada sistem politik yang menjadikan rakyat sebagai pendamping atau partner para raja dan bangsawan dalam mengelola sebuah wilayah, kecuali rakyat dijadikan kerbau untuk diperas habis. Feodalisme yang menjadi bagian utama dari sejarah bangsa Indonesia barangkali adalah akar dari perilaku korup di negeri ini. Portugis, Belanda dan Jepang bukan bangsa yang lebih buruk dari kita, namun hanya melengkapi watak bengis, perampok, penindas, pemeras dari bangsa Indonesia ini.

Untung saja ada pengaruh peradaban Islam (Sarekat Islam) dan renaissance Eropa (Boedhi Oetomo) di permulaan abad 20 yang telah memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia untuk membangun gerakan kemerdekaan. Saat itu berbagai etnis dari berbagai wilayah menyatukan diri dengan sukarela dan bukan dengan motif ekonomi atau pun motif kekuasaan.

Sayang, kini watak kita kembali ke jaman sebelum gerakan kemerdekaan itu. Sekarang muncul orang-orang dan kelompok-kelompok yang berwatak feodal atau korup yang mengatasnamakan “demokrasi” merajalela menipu, merampok dan memeras rakyat agar mereka terus memiliki kekuasaan. Lihat saja bagaimana mereka menunjukkan rasa amat bersuka-cita ketika terpilih misalnya menjadi presiden, menteri, wakil rakyat, kapolri, jagung atau jabatan-jabatan lain. Seolah-olah inilah rahmat Tuhan kepada mereka. Seolah-olah Tuhan telah menunjuk mereka untuk menjadi yang terbaik tanpa salah meski menipu, merampok atau memeras rakyat.

Jadi jangan terlalu berharap kita akan segera memberantas korupsi dalam waktu 5 atau 10 tahun ini, bahkan dalam beberapa dekade ini. Watak korup sudah berada di dalam gen kita, masih butuh berabad-abad lagi dari sebuah evolusi panjang untuk menghapus gen yang merusak itu, kecuali muncul sebuah revolusi kebudayaan sebagaimana terjadi pada pergerakan kemerdekaan sebelumnya.

Lihat saja ilustrasi berikut ini. Jika kita menyebut pemimpin kita korup, apakah yang lainnya tidak korup? Ternyata korup semua. Para pemimpin ternyata sudah dibekali oleh aturan atau undang-undang yang mencukupi untuk bertindak korup. Lihat misalnya Dirjen Pajak yang tidak bisa diaudit oleh BPK kecuali diizinkan oleh Menteri Keuangan, karena diatur oleh Undang-undang ( http://www.pajakonline.com/engine/artikel/art.php?artid=4272 ). Lihat juga misalnya kasus wajib pajak Ramayana Department Store yang bisa dibebaskan oleh Menteri Keuangan dari jerat hukum, karena memang ada aturannya. Siapa pembuat aturan atau undang-undang itu, tentu saja para wakil rakyat kita “yang mulia” itu. Praktek “demokratis” ini kemudian dilengkapi dengan perilaku kotor kepolisian, kejaksaan, dan para hakim yang siap mengukur kejahatan hanya dari berapa suap yang bisa disediakan.

Korupsi di Indonesia seperti sebuah kutukan kepada bangsa ini. Sehingga amat naif jika diserahkan hanya kepada KPK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum…. kepolisian, kejaksaan atau menteri, dan apalagi pada seorang presiden yang lemah dan tambun.

Jojo Rahardjo

DEMOKRASI ADALAH A PIECE OF SHIT

• Demokrasi adalah ketika katanya rakyat yang memimpin.
• Demokrasi adalah ketika satu orang tiran bernama Suharto digantikan dengan sekian ratus tiran.
• Demokrasi adalah ketika seekor baboon disulap menjadi pemimpin dan wakil rakyat.
• Demokrasi adalah ketika sebuah partai politik atau presiden memenangkan pemilu, meski cuma dipilih oleh kurang dari 10% rakyat.
• Demokrasi adalah ketika politik menjadi barang dagangan berharga milyaran rupiah yang laku keras.
• Demokrasi adalah ketika pemilu dan pilkada menghabiskan biaya trilyunan rupiah setiap periode.
• Demokrasi adalah ketika gerombolan executive bertengkar di televisi dengan gerombolan legislative.
• Demokrasi adalah ketika gerombolan executive diberi oleh gerombolan legislative perangkat undang-undang untuk menjadi penindas.
• Demokrasi adalah ketika gerombolan legislative berebut suap dengan polisi, jaksa dan hakim.
• Demokrasi adalah ketika anda bebas bicara atau memaki, meski tidak peduli dengan rakyat yang tak diurus.
• Demokrasi adalah katanya praktek kehidupan bernegara yang telah teruji puluhan tahun di negara yang katanya maju.
• Demokrasi adalah lelucon buat negeri ini yang disampaikan oleh para penipu dan penindas.

Thursday, April 15, 2010

TIKUS JALANAN DAN TIKUS TRUNOJOYO

Pagi itu, Jumat, 9 April, jam 04:00 pagi, dua orang sepupu saya bergegas menaiki sepeda motornya bernomor E XXXX RI dari rumah saya di kawasan Kalimalang untuk kembali pulang ke kotanya di Indramayu setelah 5 hari bekerja di Jakarta sebagai tukang listrik. Kira-kira 1 jam kemudian, mereka memasuki wilayah Cikarang. Di sebuah lampu merah mereka didatangi 3 orang yang menurut mereka adalah polisi, karena 3 orang ini mengaku polisi dan bergaya serta berbicara seperti polisi, sebagaimana yang mereka ceritakan kepada saya. Tiga orang yang mereka sangka polisi itu sebenarnya menggunakan jaket sehingga menutupi baju di baliknya apakah seragam kepolisian atau bukan dan tentu saja nama mereka juga tidak terlihat. Tiga orang ini meminta untuk melihat STNK dan SIM. Tanpa menyebut apa kesalahannya, tiga orang ini kemudian bersikeras untuk “menahan” motor milik sepupu saya ini, padahal STNK dan SIM sudah ditunjukan kepada 3 orang ini. Karena dikepung seperti penjahat oleh 3 orang yang mengaku polisi ini akhirnya sepupu saya berusaha “berdamai” dan akhirnya 3 orang yang mengaku polisi ini menerima “perdamaian” dengan uang dari sepupu saya sebesar Rp200.000,- tanpa menahan motor sepupu saya.

Tentu mendengar cerita ini saya amat marah, karena sepupu saya ini rakyat kecil yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya sebagai tukang listrik di kotanya, Indramayu. Sepupu saya ini sedang mendapat rezeki yang lumayan karena mendapat order memperbaiki instalasi listrik beberapa rumah di Jakarta. Namun hasil kerja kerasnya yang tidak seberapa harus dirampas 3 orang sialan ini. Saya amat marah, karena mengapa sepupu saya tidak menelpon saya, dan mengapa mereka tidak meminta pertolongan dari orang-orang sekitar, karena mungkin saja 3 orang ini bukan polisi tetapi penjahat yang kerjanya merampok atau memeras orang-orang seperti sepupu saya yang mungkin bodoh karena dari kota kecil seperti Indramayu. Penjahat seperti ini beroperasi di pagi buta atau di tengah malam ketika polisi lain lengah. Meski mungkin juga mereka adalah polisi nakal yang aksinya tidak mau kalah dengan aksi jenderal-jenderal di jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan yang kerjanya menerima suap atau memeras koruptor. Tikus-tikus jalanan seperti ini tentu bukan rahasia lagi. Mereka berkeliaran mencari mangsa dari kota kecil hingga kota besar.

Melalui telpon dari Indramayu, sepupu saya yang pasrah berkata pada saya, biar aja, nanti juga mereka mendapat balasannya. Lalu saya bertanya pada sepupu saya, balasan dari mana? Coba lihat tikus-tikus yang lebih besar dari 3 orang itu Indonesia! Mereka yang disebut koruptor, polisi kotor, jaksa busuk, parasit di Dirjen Pajak, bandit kabinet yang merajalela sejak jaman Suharto dulu yang katanya represif hingga ke jaman sekarang yang katanya demokratis! Berapa orang yang mendapat balasan yang setimpal? Hanya sedikit sekali. Kebanyakan dari mereka tetap bisa hidup nyaman, damai, tanpa gangguan, menikmati harta haramnya. Tuhan barangkali sudah lelah mengurus tikus-tikus itu di Indonesia. Hanya kita yang bisa menghajar atau memberi balasan yang setimpal. Begitu kata saya pada sepupu saya. Meski sebenarnya menghajar polisi kotor di jalanan hanya akan sedikit sekali pengaruhnya dibanding menghajar jenderal-jenderal di Trunojoyo sebagaimana yang dilakukan Susno Duadji. Tikus-tikus jalanan itu cuma meniru jenderal-jenderalnya di Trunojoyo, sehingga jangan tunggu sampai kita bersih dulu untuk menghajar tikus-tikus di Trunojoyo. Kalau tidak, kapan lagi? Atau jika ada yang meminta Susno atau kita untuk bersih dulu itu, dia mungkin salah satu tikus yang tidak ingin dihajar.

Ayo sikat tikus-tikus keparat !!

Wednesday, March 24, 2010

GREEN ZONE VERSUS BOM BUNUH DIRI

filHollywood memang kadang mengejutkan. Sebuah film baru saja diedarkan awal Maret 2010 di seluruh dunia. Green Zone, begitu judul film baru itu, bercerita tentang apa yang selama ini menjadi perdebatan di seluruh dunia, yaitu alasan mengapa Amerika menginvasi Irak?

Film itu membeberkan kembali ingatan orang di seluruh dunia yang mungkin hampir lupa, mengenai tuduhan mantan presiden Amerika, Bush, bahwa Saddam Hussein memiliki senjata WMD (Weapons of Mass Destruction) yang disembunyikan di wilayah Irak ternyata tidak terbukti atau hanya isapan jempol Bush semata. Berdasarkan tuduhan ini lah Irak diserang dan diduduki oleh Amerika. Padahal seharusnya alasannya adalah karena Saddam adalah seorang tyran yang kejam terhadap rakyatnya sendiri.

Film yang justru dibuat oleh orang-orang Amerika sendiri ini, seakan menjebloskan bangsa Amerika menjadi bangsa pembohong dan haus perang. Karena itu, beberapa pihak memandang film ini sebagai film anti Amerika, sebagiamana seorang movie reviewer, Kyle Smith, menyebut film ini sebagai "appallingly anti-American." Namun film ini menyegarkan kembali ingatan kita tentang bagaimana PBB sendiri tidak dapat menemukan apa yang dituduhkan oleh Bush itu. Pasukan Amerika digambarkan selalu gagal menemukan di mana WMD disembunyikan di Irak.
Film ini bisa menjadi salah satu alasan yang amat kuat untuk mematahkan cara pandang para suicide bomber atau terorist, karena melalui film ini, terlihat perang Irak bukan perang antara Amerika dengan Irak, atau Amerika dengan umat Islam, atau juga perang bangsa barat dengan bangsa timur, tetapi sebuah perang yang dikobarkan oleh segelintir orang gila, yaitu Bush dan gerombolannya.

Di dalam film ini digambarkan seorang komandan pasukan Amerika yang tugasnya mencari di mana WMD disembunyikan. Pasukan ini bekerja berdasarkan informasi yang diberikan oleh intelejen yang anehnya informasi yang diberikan selalu salah, atau WMD tidak pernah ditemukan. Karena penasaran, penyelidikan komandan ini terhadap mengapa informasi yang diberikan ini selalu salah ternyata secara mengejutkan membawanya kepada sebuah jaringan kebohongan yang berujung di Pentagon hingga White House.

Film ini terinspirasi dari sebuah buku non-fiction berjudul “Imperial Life in the Emerald City” yang ditulis oleh seorang journalist dari The Washington Post, Rajiv Chandrasekaran. Sayang film ini kekurangan konflik kejiwaan yang seharusnya dialami oleh komandan ini karena harus membeberkan kebohongan pemerintahan Amerika ke seluruh dunia dengan menulis surat ke seluruh media terkenal di dunia. Sebagai komandan pasukan Amerika tentu saja ini tindakan penghianatan atau tidak patriotik. Konflik kejiwaan seperti ini tidak digambarkan di dalam film ini. Tapi itu menjadi tidak penting, karena mungkin film ini maksudnya memang sekedar ingin mempertontonkan kebohongan itu semata, bukan bermaksud untuk menjadi film yang bercerita dengan bagus mengenai profile seorang komandan pasukan Amerika.

Sutradara film ini, Paul Greengrass (Inggris) dan aktornya, Matt Damon (Amerika), tentu saja hanya wakil dari salah satu dari sekian juta orang Amerika dan Inggris, bahkan juga sekian ratus juta orang di seluruh dunia yang tidak menyukai atau tidak menyetujui perang di Irak. Tidak semua orang Amerika, atau tidak semua orang yang berkulit putih, atau beragama bukan Islam adalah musuh, karena ternyata mereka juga tidak berpihak pada Bush dan gerombolannya.

Film ini, sekali lagi, menjadi salah satu alasan yang tepat, bahwa bom bunuh diri yang selama ini dilakukan oleh orang-orang yang merasa berada di jalan Allah SWT adalah salah. Film ini pantas dijadikan alat untuk mengedukasi masyarakat kita yang mudah terjerumus pada radikalisme sempit atau terorisme.

Tulisan ini memang bermaksud untuk menggembosi terorisme yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku atau berkeyakinan berada di jalan Allah SWT. Mereka ini termasuk orang-orang yang mengiringi penguburan terorist yang tewas dengan memekikkan nama-nama Allah SWT dan menyebut terorist dengan sebutan mujahid (pejuang di jalan Allah SWT). Oleh karena itu saya menambahkan satu kisah di bawah ini yang diambil dari catatan sejarah Islam mengenai kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang pada periode awal pasca wafatnya Nabi Muhammad. Celakanya kelompok ini yakin berada di jalan Allah SWT ketika melakukan kekerasan itu. Kisah di bawah ini sebenarnya telah saya tulis untuk sebuah kerangka yang berbeda di tulisan yang lain.

ABDURRAHMAN IBN MULJAM, TERORIST YANG “BERADA DI JALAN ALLAH SWT”

Di sebuah pagi, di bulan Ramadhan, ketika orang-orang baru saja selesai bersahur, Ali ibn Abi Thalib ditebas kepalanya di sebuah mesjid di tahun ke-40 Hijriah ketika sedang melakukan shalat shubuh. Ali ibn Abu Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad dan Khalifah atau pemimpin ummat Islam yang ke-4 setelah wafatnya Nabi Muhammad beberapa tahun sebelumnya. Penebas kepala Ali itu bernama Abdurrahman ibn Muljam, seorang yang dikenal amat rajin beribadah siang dan malam, bahkan hapal Al-Quran. Kerajinannya dalam beribadah melebihi kebanyakan orang. Jidatnya menghitam karena terlalu banyak sujud. Ibn Muljam ini bukan orang baru di lingkungan Nabi Muhammad, bahkan ia adalah salah satu staf di pemerintahan Khulafaur-Rasyidin. Siapa pun yang mengenal ibn Muljam tidak akan ragu untuk menyebutnya sebagai orang yang bakal menghuni surga. Namun demikian sejarah juga mencatat, meski Ibn Muljam ini seorang yang rajin beribadah, tetapi ia adalah seorang yang dangkal dalam memahami Islam.

Ibn Muljam yakin berada di jalan Allah SWT ketika mengeksekusi Ali. Pembunuhan ini bisa disebut sebagai kasus terorisme pertama yang dilakukan oleh seorang muslim (saya tidak menyebut semua muslim itu teroris). Ibn Muljam bahkan terus meyakini memegang “kebenaran” hingga saat dihukum mati. “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Begitu teriak Ibn Muljam (Tiar Anwar Bachtiar, http://persis.or.id/?p=895 ).

Ibn Muljam membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, karena Ali dianggap telah berkhianat dari hukum Allah setelah Ali berdamai dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (muslim juga) yang selama ini meradang. Mu’awiyah dan beberapa sahabat Nabi Muhammad sebelumnya menuntut kepada Ali untuk menuntaskan kasus pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan (Khalifah sebelum Ali). Pembunuhan Utsman ini sebenarnya didalangi oleh kelompok yang kemudian disebut sebagai Khawarij (semacam organisasi politik garis keras). Khawarij ini juga telah memicu beberapa perang antar kelompok muslim sendiri dan Ibn Muljam adalah salah satu anggotanya yang kemudian direkrut untuk menjadi eksekutor pembunuhan Ali.

Kesholehan Ibn Muljam amat tidak diragukan lagi. Begitu juga para pelaku bom bunuh diri di Indonesia atau teroris di seluruh dunia. Mereka dikenal santun dan murah hati. Namun kedangkalan pikirannya mampu menghapus segala kesholehannya dan menggantikannya dengan perbuatan setan untuk mencederai dan membunuhi orang-orang yang tidak berdosa atau tidak tahu apa-apa, bahkan juga orang-orang yang sebenarnya ikut memerangi kejahatan. Para teroris ini sering memilih tempat umum, di mana terdapat lebih banyak anak-anak, ibu-ibu dan orang-orang tidak berdosa lainnya dibanding orang-orang yang mereka anggap musuh mereka. Para Khawarij modern ini sebenarnya para pengecut yang kerjanya merekrut para remaja atau orang-orang muda yang tentu juga dangkal pikirannya untuk dengan gampang direkrut menjadi suicide bomber, sementara itu para perekrut ini tidak mau ikut menjadi pengebom bunuh diri, bahkan beberapa di antara mereka mati bersembunyi di kamar mandi saat polisi menyerbu mereka.

Jadi buat orang-orang yang gampang bersumpah dengan nama Allah SWT untuk berjuang di jalan Allah SWT dengan cara suicide bomber, berhati-hatilah, karena mereka lebih mirip dengan orang yang sedang kerasukan setan, dibanding orang religius yang sedang mendekatkan diri pada Tuhan.

Terorisme yang dilakukan oleh para Khawarij dulu dan Khawarij modern itu adalah contoh tentang bagaimana kesholehan atau perbuatan baik yang sudah dilakukan seseorang sepanjang hidupnya, bukan satu-satunya ukuran untuk menilai satu kejahatan yang dilakukannya kemudian.

Jojo Rahardjo

Monday, March 22, 2010

ABDURRAHMAN IBN MULJAM BERADA DI JALAN ALLAH SWT, BEGITU JUGA PARA PEMIMPIN INDONESIA ???

Di sebuah pagi, di bulan Ramadhan, ketika orang-orang baru saja selesai bersahur, Ali ibn Abi Thalib ditebas kepalanya di sebuah mesjid di tahun ke-40 Hijriah ketika sedang melakukan shalat shubuh. Ali ibn Abu Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad dan Khalifah atau pemimpin ummat Islam yang ke-4 setelah wafatnya Nabi Muhammad beberapa tahun sebelumnya. Penebas kepala Ali itu bernama Abdurrahman ibn Muljam, seorang yang dikenal amat rajin beribadah siang dan malam, bahkan hapal Al-Quran. Kerajinannya dalam beribadah melebihi kebanyakan orang. Jidatnya menghitam karena terlalu banyak sujud. Ibn Muljam ini bukan orang baru di lingkungan Nabi Muhammad, bahkan ia adalah salah satu staf di pemerintahan Khulafaur-Rasyidin. Siapa pun yang mengenal ibn Muljam tidak akan ragu untuk menyebutnya sebagai orang yang bakal menghuni surga. Namun demikian sejarah juga mencatat, meski Ibn Muljam ini seorang yang rajin beribadah, tetapi ia adalah seorang yang dangkal dalam memahami Islam.

Ibn Muljam yakin berada di jalan Allah SWT ketika mengeksekusi Ali. Pembunuhan ini bisa disebut sebagai kasus terorisme pertama yang dilakukan oleh seorang muslim (saya tidak menyebut semua muslim itu teroris). Ibn Muljam bahkan terus meyakini memegang “kebenaran” hingga saat dihukum mati. “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Begitu teriak Ibn Muljam (Tiar Anwar Bachtiar, http://persis.or.id/?p=895 ).

Ibn Muljam membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, karena Ali dianggap telah berkhianat dari hukum Allah setelah Ali berdamai dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (muslim juga) yang selama ini meradang. Mu’awiyah dan beberapa sahabat Nabi Muhammad sebelumnya menuntut kepada Ali untuk menuntaskan kasus pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan (Khalifah sebelum Ali). Pembunuhan Utsman ini didalangi oleh kelompok Khawarij (semacam organisasi politik garis keras). Khawarij ini juga telah memicu beberapa perang antar kelompok muslim sendiri dan Ibn Muljam adalah salah satu anggotanya yang kemudian direkrut untuk menjadi eksekutor pembunuhan Ali.

Kesholehan Ibn Muljam amat tidak diragukan lagi. Begitu juga para pelaku bom bunuh diri di Indonesia atau teroris di seluruh dunia. Mereka dikenal santun dan murah hati. Namun kedangkalan pikirannya mampu menghapus segala kesholehannya dan menggantikannya dengan perbuatan setan untuk mencederai dan membunuhi orang-orang yang tidak berdosa atau tidak tahu apa-apa, bahkan juga orang-orang yang sebenarnya ikut memerangi kejahatan. Para teroris ini sering memilih tempat umum, di mana terdapat lebih banyak anak-anak, ibu-ibu dan orang-orang tidak berdosa lainnya dibanding musuh-musuh mereka. Para Khawarij modern ini sebenarnya para pengecut yang kerjanya merekrut para remaja atau orang-orang muda yang tentu juga dangkal pikirannya untuk dengan gampang direkrut menjadi “pengantin” atau pengebom bunuh diri, sementara itu para perekrut ini tidak mau ikut menjadi pengebom bunuh diri, bahkan beberapa di antara mereka mati bersembunyi di kamar mandi saat polisi menyerbu mereka.

Jadi buat orang-orang yang gampang bersumpah dengan nama Allah, berhati-hatilah, karena bagi saya atau orang-orang seperti saya, mereka lebih mirip dengan orang yang sedang kerasukan setan, dibanding orang religius yang sedang mendekatkan diri pada Tuhan. Mereka yang saya maksud adalah pejabat negara yang bersumpah dengan nama Allah karena sedang dicurigai atau dituduh melakukan kejahatan terhadap negeri ini. Mereka juga sekaligus berkoar-koar, bahwa mereka lebih memiliki “kebenaran” dibanding siapa pun. Padahal bukan sumpah yang diharapkan keluar dari moncong mereka, karena mereka sesungguhnya pejabat negara yang dituntut sepanjang waktu untuk terbuka dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka juga dituntut untuk tidak arogan atau merasa sebagai orang yang tepat di tempatnya, karena bukan ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu politik, ilmu hukum, atau ilmu agama yang mereka pelajari dan praktekkan bertahun-tahun yang menjadi ukuran baik atau benarnya apa yang mereka kerjakan, tapi moral yang berkembang di masyarakat lah yang menjadi ukuran.

Terorisme yang dilakukan oleh para Khawarij dulu dan Khawarij modern itu adalah hanya sebuah contoh ekstrim tentang bagaimana kesholehan atau perbuatan baik yang sudah dilakukan seseorang sepanjang hidupnya, bukan satu-satunya ukuran untuk menilai satu kejahatan yang diduga dilakukannya.

Di bawah ini adalah contoh ucapan para pejabat negara yang ingin terlihat religius.

"Di segala zaman, Tuhan selalu pada pihak kebenaran," kata Wakil Presiden Boediono (http://nasional.kompas.com/read/2010/03/04/10045551/Boediono.Tuhan.Selalu.Berpihak.pada.Kebenaran ).

Presiden Yudhoyono: "Kebenaran dan keadilan akan datang. Barangkali terlambat, tapi Insya Allah akan datang karena itu kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa" (http://www.tribunbatam.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=38829&Itemid=1122 ).

"Demi Allah saya bersumpah untuk memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Semoga Allah memberi petunjuk pada saya," demikian kata Sri Mulyani saat disumpah Ketua Pansus Century Idrus Marham (http://www.kabarbisnis.com/keuangan/nasional/288700-Sri_Mulyani_bersumpah__Demi_ALLAH_.html ).

Sekali lagi, “kebenaran”, entah apa pun artinya itu, ternyata tidak terletak pada orang-orang yang nampak religius, tapi terletak entah di mana….

Jojo Rahardjo