Tuesday, April 19, 2005
Monday, November 01, 2004
PESAING LAYANAN DBS (DIRECT BROADCASTING SATELITE)
Media Indonesia, 11 Desember 1997
Oleh: JoJo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
ASPACTEL atau Asia Pasific Telecommunication di arena PRJ banyak juga menampilkan perusahaan-perusahaan yang menyediakan infrastruktur multimedia di samping perusahaan penyedia layanan telekomunikasi. Beberapa perusahaan asing yang memproduksi kabel fibre optic muncul di arena ini untuk pertama kali di Indonesia. Menurut mereka pameran ini saat yang tepat untuk menjajagi pasar Indonesia. Memang, Indonesia kini tengah membentang jaringan telekomunikasi dengan menggunakan kabel serat optik. Pay TV yang disiarkan dengan cara pendistribusian lewat kabel pun sekarang marak ditawarkan oleh beberapa perusahaan.
Dari Pameran ini juga tersaji seluk-beluk penyiaran telivisi satelit, misalnya lewat stand PT. Pasifik Satelit Nusantara. Sayang Matahari Lintas Cakrawala pengelola televisi satelit Indovision tidak ikut dalam pameran ini.
Namun ada sistem baru dalam penyiaran TV dan komunikasi data yang teknologinya berkembang pesat di belahan bumi yang lain, terutama Amerika yang tidak muncul dalam pameran kali ini, yakni Wireless Cable. Cuma ada satu perusahaan di Indonesia yang sudah menawarkan teknologi ini untuk akses ke internet, yaitu Ratelindo dari Bakri Communication. Itu pun juga dengan kecepatan yang hanya 19.2 kbps. Layanan baru ini menarik karena di masa depan Ratelindo bisa menawarkan kecepatan yang lebih tinggi. Karena teknologi ini sangat prospektif saya ingin mengulasnya untuk mengiringi pameran yang sedang berlangsung hingga 3 Desember ini.
Wireless Cable TV atau Wireless Cable saja di Amerika juga disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar lebih dari dua milyar Dollar Amerika setahun. Wireless Cable lebih dikenal sebagai jenis perusahaan jasa yang menyediakan layanan siaran TV Bayar (Pay TV). Namun Wireless Cable memiliki layanan yang lebih luas seperti yang biasa ditawarkan oleh Direct Broadcasting Satelite (DBS), yakni juga untuk komunikasi data (internet atau file transfer) dan layanan interactive, Pay Per View atau Video on Demand. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis yang sekarang masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless Cable juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless Cable menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless Cable TV ini.
Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless Cable ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, Powertel, SK Telecom, Videotron, General Instruments dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan ini sekarang melayani lebih dari 250 perusahaan penyedia layanan Wireless Cable di 90 negara di seluruh dunia. Dari 90 negara itu tidak terdapat nama Indonesia. Demikian juga pada Pameran ASPACTEL ’97 baru-baru ini.
Satu perusahaan Wireless Cable pada tahun 1984 di Amerika sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Karena itu industri ini tumbuh begitu pesat. Pada 1997 ini Wireless Cable telah memiliki pelanggan berjumlah 9 juta pelanggan di 90 negara di dunia. Sementara itu pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) baru berjumlah 5,8 juta pelanggan.
Wireless Cable bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996). Wireless Cable dapat dijadikan sarana untuk meneruskan siaran TV satelit yang peralatannya penerimanya masih terasa mahal. Wireless Cable juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel fibre optic atau coaxial, seperti yang dilakukan Indovision beberapa waktu yang lalu di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia) yang kini belum terdengar lagi kabarnya. Namun sayangnya Sistem yang mahal, tidak praktis ini dan kelihatannya bakal ditinggalkan oleh Peter Gontha itu, sekarang juga digunakan oleh perusahaan Multimedia Nusantara yang baru saja berdiri untuk mendistribusikan kanal-kanal siaran TV-nya melalui kabel-kabel di beberapa daerah elite di Jakarta.
Layanan Baru yang Ditawarkan Wireless Cable TV
Satu stasiun Wireless Cable dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital. Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view atau video on demand), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat jalur telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).
Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression sudah menjadi standar yang digunakan untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak dan kualitas gambar dan suara yang tinggi. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Bahkan Satelit Cakrawarta telah diluncurkan tengah bulan Novembar lalu, rencananya awal tahun 1998 kanal yang tersedia akan bertambah menjadi 40 kanal. Setelah melalui DBS, TV dengan banyak kanal tahun lalu telah dicoba oleh satu perusahaan yang dikelola oleh Peter Gontha di beberapa perumahan di Jabotabek dengan menggunakan distribusi melalui kabel. Bulan Desember ini menyusul satu perusahaan lagi yaitu Multimedia Nusantara juga akan mendistribusikan 30 kanalnya lewat kabel.
Pada pameran Asia Pasific Telecommunication 29 November - 3 December 1997 di arena PRJ baru-baru ini, bahkan PT Pasifik Satelit Nusantara juga sedang berencana untuk menyediakan layanan siaran TV banyak channel seperti Indovision, yakni siaran DBS juga.
"It’s a great concern to me because the intent of the Telecommunications Reform Act of 1996 was to do what you’re doing, and that is to provide more competition". Demikian dikatakan oleh Senator John McCain pada 12 Agustus 1997 untuk menyambut 10 tahun Wireless Cable Association. Dari pernyataan itu nampak di Amerika persaingan dalam industri ini begitu perlu untuk didorong. Mereka percaya semakin banyak perusahaan yang terjun dan semakin banyak teknologi yang digunakan di Industri ini akan semakin baik layanan yang diterima pelanggan. Bagitu juga dengan Indonesia?
JoJo Rahardjo
Oleh: JoJo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
ASPACTEL atau Asia Pasific Telecommunication di arena PRJ banyak juga menampilkan perusahaan-perusahaan yang menyediakan infrastruktur multimedia di samping perusahaan penyedia layanan telekomunikasi. Beberapa perusahaan asing yang memproduksi kabel fibre optic muncul di arena ini untuk pertama kali di Indonesia. Menurut mereka pameran ini saat yang tepat untuk menjajagi pasar Indonesia. Memang, Indonesia kini tengah membentang jaringan telekomunikasi dengan menggunakan kabel serat optik. Pay TV yang disiarkan dengan cara pendistribusian lewat kabel pun sekarang marak ditawarkan oleh beberapa perusahaan.
Dari Pameran ini juga tersaji seluk-beluk penyiaran telivisi satelit, misalnya lewat stand PT. Pasifik Satelit Nusantara. Sayang Matahari Lintas Cakrawala pengelola televisi satelit Indovision tidak ikut dalam pameran ini.
Namun ada sistem baru dalam penyiaran TV dan komunikasi data yang teknologinya berkembang pesat di belahan bumi yang lain, terutama Amerika yang tidak muncul dalam pameran kali ini, yakni Wireless Cable. Cuma ada satu perusahaan di Indonesia yang sudah menawarkan teknologi ini untuk akses ke internet, yaitu Ratelindo dari Bakri Communication. Itu pun juga dengan kecepatan yang hanya 19.2 kbps. Layanan baru ini menarik karena di masa depan Ratelindo bisa menawarkan kecepatan yang lebih tinggi. Karena teknologi ini sangat prospektif saya ingin mengulasnya untuk mengiringi pameran yang sedang berlangsung hingga 3 Desember ini.
Wireless Cable TV atau Wireless Cable saja di Amerika juga disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar lebih dari dua milyar Dollar Amerika setahun. Wireless Cable lebih dikenal sebagai jenis perusahaan jasa yang menyediakan layanan siaran TV Bayar (Pay TV). Namun Wireless Cable memiliki layanan yang lebih luas seperti yang biasa ditawarkan oleh Direct Broadcasting Satelite (DBS), yakni juga untuk komunikasi data (internet atau file transfer) dan layanan interactive, Pay Per View atau Video on Demand. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis yang sekarang masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless Cable juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless Cable menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless Cable TV ini.
Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless Cable ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, Powertel, SK Telecom, Videotron, General Instruments dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan ini sekarang melayani lebih dari 250 perusahaan penyedia layanan Wireless Cable di 90 negara di seluruh dunia. Dari 90 negara itu tidak terdapat nama Indonesia. Demikian juga pada Pameran ASPACTEL ’97 baru-baru ini.
Satu perusahaan Wireless Cable pada tahun 1984 di Amerika sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Karena itu industri ini tumbuh begitu pesat. Pada 1997 ini Wireless Cable telah memiliki pelanggan berjumlah 9 juta pelanggan di 90 negara di dunia. Sementara itu pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) baru berjumlah 5,8 juta pelanggan.
Wireless Cable bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996). Wireless Cable dapat dijadikan sarana untuk meneruskan siaran TV satelit yang peralatannya penerimanya masih terasa mahal. Wireless Cable juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel fibre optic atau coaxial, seperti yang dilakukan Indovision beberapa waktu yang lalu di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia) yang kini belum terdengar lagi kabarnya. Namun sayangnya Sistem yang mahal, tidak praktis ini dan kelihatannya bakal ditinggalkan oleh Peter Gontha itu, sekarang juga digunakan oleh perusahaan Multimedia Nusantara yang baru saja berdiri untuk mendistribusikan kanal-kanal siaran TV-nya melalui kabel-kabel di beberapa daerah elite di Jakarta.
Layanan Baru yang Ditawarkan Wireless Cable TV
Satu stasiun Wireless Cable dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital. Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view atau video on demand), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat jalur telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).
Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression sudah menjadi standar yang digunakan untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak dan kualitas gambar dan suara yang tinggi. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Bahkan Satelit Cakrawarta telah diluncurkan tengah bulan Novembar lalu, rencananya awal tahun 1998 kanal yang tersedia akan bertambah menjadi 40 kanal. Setelah melalui DBS, TV dengan banyak kanal tahun lalu telah dicoba oleh satu perusahaan yang dikelola oleh Peter Gontha di beberapa perumahan di Jabotabek dengan menggunakan distribusi melalui kabel. Bulan Desember ini menyusul satu perusahaan lagi yaitu Multimedia Nusantara juga akan mendistribusikan 30 kanalnya lewat kabel.
Pada pameran Asia Pasific Telecommunication 29 November - 3 December 1997 di arena PRJ baru-baru ini, bahkan PT Pasifik Satelit Nusantara juga sedang berencana untuk menyediakan layanan siaran TV banyak channel seperti Indovision, yakni siaran DBS juga.
"It’s a great concern to me because the intent of the Telecommunications Reform Act of 1996 was to do what you’re doing, and that is to provide more competition". Demikian dikatakan oleh Senator John McCain pada 12 Agustus 1997 untuk menyambut 10 tahun Wireless Cable Association. Dari pernyataan itu nampak di Amerika persaingan dalam industri ini begitu perlu untuk didorong. Mereka percaya semakin banyak perusahaan yang terjun dan semakin banyak teknologi yang digunakan di Industri ini akan semakin baik layanan yang diterima pelanggan. Bagitu juga dengan Indonesia?
JoJo Rahardjo
Labels:
Cable TV,
DBS,
John McCain,
multimedia,
Pay TV,
pay-per-view
Teknologi Wireless System untuk Membangun Industri Siaran TV di Indonesia
Media Indonesia, Kamis 15 Mei 1997
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
Wireless System bisa membantu penetrasi lima TV swasta di Indonesia dengan biaya investasi yang lebih murah. Penetrasi yang luas (ke desa-desa) selain menjadi tambahan income dari iklan juga barangkali bisa menumbuhkan secara tidak langsung industri production house (rumah produksi). Acara-acara lokal bisa diproduksi dengan melibatkan, secara lebih jauh, sumber daya lokal di daerah-daerah (karena tersedia banyak kanal dengan murah). Jika ini terjadi industri siaran TV di Indonesia bisa diharapkan untuk berkembang seperti di Amerika yang acara produksi lokalnya bisa berkembang seperti acara yang diproduksi oleh sebuah network TV. Artinya proses produksi dari industri TV di Indonesia tidak akan terpusat di Jakarta saja, tetapi proses produksi juga terjadi di lokal daerah. Ini juga berarti mengurangi pengeluaran devisa negara karena membeli acara-acara dari luar. Dari persaingan antar lokal itu akan muncul acara lokal yang baik dan laku diekspor ke negara lain, seperti impor sinetron ke Indonesia dari negara-negara Asia, seperti Philipina, Singapore, Malaysia atau dari negara-negara Amerika Latin.
Paling tidak pada saat itu kita bisa bilang: nah, Indonesia sekarang sudah bisa menjual otaknya seperti negara-negara lain, tidak hanya mengobral sumber daya alamnya saja seperti hutan, emas dan lain-lain.
KOMPRESI DIGITAL
Setelah dibicarakan tentang apa dan bagaiamana wireless system, ada baiknya bila diketahui juga bagaimana sebenarnya gambar digital dibuat dan apa itu kompresi digital.
Pada dasarnya gambar analog dibagi dalam ratusan ribu elemen gambar (pixel) berbentuk segi empat sangat kecil. Setiap pixel memiliki kode angka untuk mengidentifikasikan warna, intensitasnya (tingkat keterangan cahaya) dan letaknya.
Contohnya kode 1110011 mengidentifikasikan sebuah pixel yang berada 4 kotak dari kiri, dan 3 kotak dari bawah, berwarna merah dan tingkat intensitas medium.
Jika seluruh pixel dari sebuah gambar telah seluruhnya di-convert (dicatat), gambar itu dapat diwakili dalam sebuah string berisi catatan yang terdiri dari karakter (1) dan nol (0). Sebagai gambaran mengenai besarnya string ini, biasanya setiap pixel membutuhkan delapan digit karakter 1 dan 0. Sebuah gambar dengan 300.000 pixel membutuhkan 2.400.000 bit (karakter 1 dan 0) atau 2.4 Megabit. Sebagai perbandingan, sebuah disket kecil cuma bisa menampung 1.5 Megabit informasi.
Ini merupakan sebuah informasi dengan data yang banyak sekali, terutama jika informasi ini adalah infomasi video (gambar bergerak) yang harus disimpan sebanyak 60 gambar atau frame setiap detik (rata-rata sebuah informasi video terdiri dari 60 frame per detiknya). Sehingga setiap detiknya harus disimpan sebanyak 140.000.000 bit atau 140 Megabit.
Namun dari 140 Megabit itu, banyak dari informasi dari sebuah frame yang sama dengan frame yang lain. Dengan membandingkan satu frame dengan frame lainnya didapatkan informasi dari pixel yang berbeda, sehingga hanya pixel yang berbeda yang dicatat. Pixel yang sama tidak dicatat dan akan muncul dengan bentuk yang tetap. Sehingga jumlah informasi dari satu detik video dapat dikurangi. Contoh paling mudah adalah gambar video dari sebuah pidato presiden. Kalau latar belakang dari presiden adalah sebuah dinding, maka informasinya akan tetap sama, sedangkan kepala, mata dan mulut presiden saja yang berubah-ubah. Pixel yang berubah-ubah inilah yang dicatat.
Terobosan teknologi digital compressed inilah yang membuat kita bisa menikmati video di CD ROM, Video Compact Disc. Sedangkan Wireless System, Digital Broadcast Satelite bisa mengirimkan lebih banyak gambar yang hasilnya adalah kemampuan memancarkan sekaligus puluhan bahkan ratusan channel (kanal) TV dan dengan kualitas yang luar biasa.
Jojo Rahardjo
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
Wireless System bisa membantu penetrasi lima TV swasta di Indonesia dengan biaya investasi yang lebih murah. Penetrasi yang luas (ke desa-desa) selain menjadi tambahan income dari iklan juga barangkali bisa menumbuhkan secara tidak langsung industri production house (rumah produksi). Acara-acara lokal bisa diproduksi dengan melibatkan, secara lebih jauh, sumber daya lokal di daerah-daerah (karena tersedia banyak kanal dengan murah). Jika ini terjadi industri siaran TV di Indonesia bisa diharapkan untuk berkembang seperti di Amerika yang acara produksi lokalnya bisa berkembang seperti acara yang diproduksi oleh sebuah network TV. Artinya proses produksi dari industri TV di Indonesia tidak akan terpusat di Jakarta saja, tetapi proses produksi juga terjadi di lokal daerah. Ini juga berarti mengurangi pengeluaran devisa negara karena membeli acara-acara dari luar. Dari persaingan antar lokal itu akan muncul acara lokal yang baik dan laku diekspor ke negara lain, seperti impor sinetron ke Indonesia dari negara-negara Asia, seperti Philipina, Singapore, Malaysia atau dari negara-negara Amerika Latin.
Paling tidak pada saat itu kita bisa bilang: nah, Indonesia sekarang sudah bisa menjual otaknya seperti negara-negara lain, tidak hanya mengobral sumber daya alamnya saja seperti hutan, emas dan lain-lain.
KOMPRESI DIGITAL
Setelah dibicarakan tentang apa dan bagaiamana wireless system, ada baiknya bila diketahui juga bagaimana sebenarnya gambar digital dibuat dan apa itu kompresi digital.
Pada dasarnya gambar analog dibagi dalam ratusan ribu elemen gambar (pixel) berbentuk segi empat sangat kecil. Setiap pixel memiliki kode angka untuk mengidentifikasikan warna, intensitasnya (tingkat keterangan cahaya) dan letaknya.
Contohnya kode 1110011 mengidentifikasikan sebuah pixel yang berada 4 kotak dari kiri, dan 3 kotak dari bawah, berwarna merah dan tingkat intensitas medium.
Jika seluruh pixel dari sebuah gambar telah seluruhnya di-convert (dicatat), gambar itu dapat diwakili dalam sebuah string berisi catatan yang terdiri dari karakter (1) dan nol (0). Sebagai gambaran mengenai besarnya string ini, biasanya setiap pixel membutuhkan delapan digit karakter 1 dan 0. Sebuah gambar dengan 300.000 pixel membutuhkan 2.400.000 bit (karakter 1 dan 0) atau 2.4 Megabit. Sebagai perbandingan, sebuah disket kecil cuma bisa menampung 1.5 Megabit informasi.
Ini merupakan sebuah informasi dengan data yang banyak sekali, terutama jika informasi ini adalah infomasi video (gambar bergerak) yang harus disimpan sebanyak 60 gambar atau frame setiap detik (rata-rata sebuah informasi video terdiri dari 60 frame per detiknya). Sehingga setiap detiknya harus disimpan sebanyak 140.000.000 bit atau 140 Megabit.
Namun dari 140 Megabit itu, banyak dari informasi dari sebuah frame yang sama dengan frame yang lain. Dengan membandingkan satu frame dengan frame lainnya didapatkan informasi dari pixel yang berbeda, sehingga hanya pixel yang berbeda yang dicatat. Pixel yang sama tidak dicatat dan akan muncul dengan bentuk yang tetap. Sehingga jumlah informasi dari satu detik video dapat dikurangi. Contoh paling mudah adalah gambar video dari sebuah pidato presiden. Kalau latar belakang dari presiden adalah sebuah dinding, maka informasinya akan tetap sama, sedangkan kepala, mata dan mulut presiden saja yang berubah-ubah. Pixel yang berubah-ubah inilah yang dicatat.
Terobosan teknologi digital compressed inilah yang membuat kita bisa menikmati video di CD ROM, Video Compact Disc. Sedangkan Wireless System, Digital Broadcast Satelite bisa mengirimkan lebih banyak gambar yang hasilnya adalah kemampuan memancarkan sekaligus puluhan bahkan ratusan channel (kanal) TV dan dengan kualitas yang luar biasa.
Jojo Rahardjo
Labels:
multimedia,
production house,
TV lokal,
wireless system
WIRELESS SYSTEM, Teknologi Paling Aplikatif pada Industri Informasi.
Media Indonesia, Kamis, 1 Mei 1997
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
Beberapa waktu yang lalu di harian ini saya menulis mengenai Era Pay TV di Indonesia (Media Indonesia tanggal 18 April 1996). Di dalamnya saya menggambarkan teknologi baru yang telah dikembangkan untuk memancarkan siaran TV dan juga sebagai sarana untuk data communication, yaitu Wireless System. Karena ekonomis, teknologi ini sekarang diakui telah mencatat sejarah baru sistem penyiaran TV di Amerika. Apalagi setelah disempurnakan dengan teknologi MPEG2 atau digital compression (lihat box) telah menjadikan Wireless System bisa memancarkan hingga sekaligus ratusan kanal dan dengan kualitas penerimaan yang tinggi.
Aplikasi untuk Industri TV di Indonesia
Jika diterapkan di Indonesia teknologi ini sebenarnya menjawab kebutuhan lima TV swasta Indonesia yang terus berlomba-lomba menambah areal liputan siarannya di daerah-daerah. Setiap stasiun TV swasta terus menambah jumlah stasiun relay di daerah-daerah, karena penetrasi yang luas menjadi penting untuk menjaring iklan sebanyak-banyaknya. Kendati stasiun relay kini dibangun dengan bekerja sama antar lima stasiun, satu stasiun relay membutuhkan investasi sebesar kira-kira lima milyar Rupiah. Belum ditambah dengan biaya pengoperasiannya setiap bulan. RCTI misalnya, berencana untuk memiliki 300 stasiun relay. Padahal dengan Wireless System biaya untuk membangun stasiun Wireless System cukup dengan USD 200.000.
Heartland Wireless Communications, Inc., yang mengaku perusahaan Pay TV dengan Wireless System terbesar di Amerika, hanya menawarkan USD 50 untuk mulai berlangganan yang termasuk didalamnya sewa peralatan dan biaya instalasi ditambah gratis iuran bulan pertama.
Wireless System
Wireless System yang di Amerika yang mulanya disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar dua milyar Dollar Amerika setahun. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis. Sekarang pun masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless System juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless System menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless System ini.
Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless System ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, dan General Instruments. Sedangkan Pasific Monolithics, yang terletak di jantung Lembah Silicon di Amerika adalah perusahaan yang terbesar dalam memproduksi peralatan Wireless System. Pasific Monolithics melayani lebih dari 150 perusahaan penyedia siaran Wireless System di 40 negara di seluruh dunia.
Wireless System sebenarnya sudah ada sejak tahun 1984 di Amerika. Waktu itu Wireless System sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Industri ini tumbuh begitu pesatnya sejak dihapuskannya pembatasan bagi Wireless System pada 1992 untuk ikut menyiarkan acara-acara top dari jaringan TV broadcast biasa. Dari hanya 200.000 pelanggan tiba-tiba tumbuh sebesar 250% menjadi 750.000 pelanggan pada akhir tahun 1994. Menurut Presiden Wireless Cable Association International, Andrew Kreig, Wireless System saat ini telah mencapai 5 juta pelanggan tersebar di 80 negara di dunia.
Wireless System adalah sistem yang paling ekonomis yang pernah dikembangkan untuk pemancaran siaran TV. Wireless System bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996, juga Mengukur Bisnis TV Digital Peter Gontha, SWA 5 Maret 1997). Wireless System menjawab mahalnya investasi yang dikeluarkan jaringan TV broadcast biasa untuk mendirikan sebuah satu stasiun relay di daerah supaya areal cakupannya meluas (seperti lima TV swasta di Indonesia). Atau Wireless System juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel coaxial, seperti yang dilakukan Indovision di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia).
Layanan Baru yang Bisa ditawarkan TV Swasta
Satu stasiun Wireless System dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital! Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat kabel telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).
Interactive TV sebenarnya sudah diaplikasikan oleh beberapa stasiun TV swasta Indonesia, namun untuk aplikasi yang sederhana yakni sebagai sarana bermain game, seperti Jitu, Gol Gol Gol dan lain-lain. Dengan Wireless System dapat disediakan interactive TV yang lebih menarik, yaitu menyediakan acara (biasanya film) yang bisa dipilih (pay-per-view). Pelanggan hanya akan membayar film yang dipesannya saja. Di Amerika, pay-per-view ini telah menurunkan pendapatan usaha rental film (Laser Disk dan Kaset) karena melalui pay-per-view, orang tidak perlu ke luar rumah untuk meminjam dan mengembalikan film dengan harga yang sama.
Untuk membangun Pay-per-view di Indonesia cukup bekerjasama dengan misalnya dengan DirecTV di Amerika yang telah memiliki perlengkapan pay-per-view. Film yang dipesan dapat ditransfer dari DirectTV melalui satelit kemudian dipancarkan ke rumah pemesan melalui Wireless. Kendati secara teknologi hal ini memungkinkan, namun di Indonesia barangkali pay-per-view ini akan terbentur pada soal peraturan, karena ini menyangkut soal serbuan "budaya asing" ke Indonesia yang sebenarnya juga sudah terjadi lewat serbuan "budaya asing" lewat Laser Disc, kaset dan terakhir lewat murahnya Video CD bajakan. Padahal lewat pay-per-view, "serbuan" ini lebih bisa dikontrol atau diseleksi dibanding menyeleksi dan mengontrolnya lewat rental dan pasar gelap.
Meski demikian Wireless System ini memiliki kekurangan, yaitu siarannya tidak boleh terhalang oleh gedung atau bukit untuk mendapatkan mutu siaran yang maksimal. Juga radius siarannya hanya 75 sampai 90 miles atau sekitar 130 km. Namun demikian kekurangan itu bisa diatasi dengan dengan peralatan repeater untuk memperbaiki siaran di daerah yang terhalang (daerah bayangan).
Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression (lihat box) sudah menjadi standar untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Nanti, setelah satelit Indostar diluncurkan, kanal yang tersedia dan kualitas akan bertambah lebih dari 19 kanal yang sekarang sudah tersedia. Indovision saat ini sebagai perusahaan siaran Pay TV lewat satelit (DBS) memang belum menjadi ancaman bagi lima TV swasta jika melihat target pemirsanya yang jauh berbeda. Juga besarnya harga peralatan penerima siaran Indovision (antena, receiver dan decoder). Meski demikian sebagai bisnis, Indovision adalah bisnis yang prospektif karena memang memiliki target penonton yang sangat jelas, yaitu golongan dengan status ekonomi menengah ke atas. Apalagi harga peralatan penerima siaran TV digital lewat satelit Indostar akan lebih murah dari yang tersedia sekarang.
Jojo Rahardjo
Oleh: Jojo Rahardjo, bekerja di stasiun TV
Beberapa waktu yang lalu di harian ini saya menulis mengenai Era Pay TV di Indonesia (Media Indonesia tanggal 18 April 1996). Di dalamnya saya menggambarkan teknologi baru yang telah dikembangkan untuk memancarkan siaran TV dan juga sebagai sarana untuk data communication, yaitu Wireless System. Karena ekonomis, teknologi ini sekarang diakui telah mencatat sejarah baru sistem penyiaran TV di Amerika. Apalagi setelah disempurnakan dengan teknologi MPEG2 atau digital compression (lihat box) telah menjadikan Wireless System bisa memancarkan hingga sekaligus ratusan kanal dan dengan kualitas penerimaan yang tinggi.
Aplikasi untuk Industri TV di Indonesia
Jika diterapkan di Indonesia teknologi ini sebenarnya menjawab kebutuhan lima TV swasta Indonesia yang terus berlomba-lomba menambah areal liputan siarannya di daerah-daerah. Setiap stasiun TV swasta terus menambah jumlah stasiun relay di daerah-daerah, karena penetrasi yang luas menjadi penting untuk menjaring iklan sebanyak-banyaknya. Kendati stasiun relay kini dibangun dengan bekerja sama antar lima stasiun, satu stasiun relay membutuhkan investasi sebesar kira-kira lima milyar Rupiah. Belum ditambah dengan biaya pengoperasiannya setiap bulan. RCTI misalnya, berencana untuk memiliki 300 stasiun relay. Padahal dengan Wireless System biaya untuk membangun stasiun Wireless System cukup dengan USD 200.000.
Heartland Wireless Communications, Inc., yang mengaku perusahaan Pay TV dengan Wireless System terbesar di Amerika, hanya menawarkan USD 50 untuk mulai berlangganan yang termasuk didalamnya sewa peralatan dan biaya instalasi ditambah gratis iuran bulan pertama.
Wireless System
Wireless System yang di Amerika yang mulanya disebut MMDS (Multi-point Multi-channel Distribution Service) kini adalah industri yang bernilai sebesar dua milyar Dollar Amerika setahun. Awalnya, system ini digunakan untuk komunikasi data bisnis. Sekarang pun masih digunakan oleh sistem komunikasi data oleh kebanyakan Bank, untuk ATM misalnya. Wireless System juga digunakan secara luas oleh operator telephone selular dan pager. Wireless System menggunakan pemancaran gelombang mikro atau microwave transmission, sehingga sistem ini membutuhkan alat tambahan pada pesawat TV untuk menerima siaran MMDS atau Wireless System ini.
Banyak perusahaan elektronik yang telah terjun ke dalam industri peralatan Wireless System ini. Di antaranya adalah : People's Choice TV, PacTel, NYNEX, Thomson (RCA), Zenith, dan General Instruments. Sedangkan Pasific Monolithics, yang terletak di jantung Lembah Silicon di Amerika adalah perusahaan yang terbesar dalam memproduksi peralatan Wireless System. Pasific Monolithics melayani lebih dari 150 perusahaan penyedia siaran Wireless System di 40 negara di seluruh dunia.
Wireless System sebenarnya sudah ada sejak tahun 1984 di Amerika. Waktu itu Wireless System sudah bisa menyediakan 33 channel (kanal) analog. Industri ini tumbuh begitu pesatnya sejak dihapuskannya pembatasan bagi Wireless System pada 1992 untuk ikut menyiarkan acara-acara top dari jaringan TV broadcast biasa. Dari hanya 200.000 pelanggan tiba-tiba tumbuh sebesar 250% menjadi 750.000 pelanggan pada akhir tahun 1994. Menurut Presiden Wireless Cable Association International, Andrew Kreig, Wireless System saat ini telah mencapai 5 juta pelanggan tersebar di 80 negara di dunia.
Wireless System adalah sistem yang paling ekonomis yang pernah dikembangkan untuk pemancaran siaran TV. Wireless System bisa menjawab mahalnya peralatan pemancar dan penerima siaran DBS yang harus dibeli oleh pelanggan (lihat tulisan saya Di Era Siaran DBS, TV Swasta Tergusur? Media Indonesia 6 Juni 1996, juga Mengukur Bisnis TV Digital Peter Gontha, SWA 5 Maret 1997). Wireless System menjawab mahalnya investasi yang dikeluarkan jaringan TV broadcast biasa untuk mendirikan sebuah satu stasiun relay di daerah supaya areal cakupannya meluas (seperti lima TV swasta di Indonesia). Atau Wireless System juga menjawab tidak praktisnya membangun siaran TV yang didistribusikan lewat jaringan kabel coaxial, seperti yang dilakukan Indovision di beberapa perumahan di Jabotabek (lihat Era Pay TV di Indonesia).
Layanan Baru yang Bisa ditawarkan TV Swasta
Satu stasiun Wireless System dapat menyediakan 33 kanal siaran analog atau 100 hingga 300 kanal siaran digital! Selain bisa digunakan untuk kanal-kanal siaran TV, kanal ini juga bisa digunakan untuk membangun Interactive TV (pay-per-view), atau kanal untuk access ke Internet dengan kecepatan mengirim data sebesar 36 Megabit per detik (lewat kabel telepon paling tinggi cuma 28,8 kilobit per detik).
Interactive TV sebenarnya sudah diaplikasikan oleh beberapa stasiun TV swasta Indonesia, namun untuk aplikasi yang sederhana yakni sebagai sarana bermain game, seperti Jitu, Gol Gol Gol dan lain-lain. Dengan Wireless System dapat disediakan interactive TV yang lebih menarik, yaitu menyediakan acara (biasanya film) yang bisa dipilih (pay-per-view). Pelanggan hanya akan membayar film yang dipesannya saja. Di Amerika, pay-per-view ini telah menurunkan pendapatan usaha rental film (Laser Disk dan Kaset) karena melalui pay-per-view, orang tidak perlu ke luar rumah untuk meminjam dan mengembalikan film dengan harga yang sama.
Untuk membangun Pay-per-view di Indonesia cukup bekerjasama dengan misalnya dengan DirecTV di Amerika yang telah memiliki perlengkapan pay-per-view. Film yang dipesan dapat ditransfer dari DirectTV melalui satelit kemudian dipancarkan ke rumah pemesan melalui Wireless. Kendati secara teknologi hal ini memungkinkan, namun di Indonesia barangkali pay-per-view ini akan terbentur pada soal peraturan, karena ini menyangkut soal serbuan "budaya asing" ke Indonesia yang sebenarnya juga sudah terjadi lewat serbuan "budaya asing" lewat Laser Disc, kaset dan terakhir lewat murahnya Video CD bajakan. Padahal lewat pay-per-view, "serbuan" ini lebih bisa dikontrol atau diseleksi dibanding menyeleksi dan mengontrolnya lewat rental dan pasar gelap.
Meski demikian Wireless System ini memiliki kekurangan, yaitu siarannya tidak boleh terhalang oleh gedung atau bukit untuk mendapatkan mutu siaran yang maksimal. Juga radius siarannya hanya 75 sampai 90 miles atau sekitar 130 km. Namun demikian kekurangan itu bisa diatasi dengan dengan peralatan repeater untuk memperbaiki siaran di daerah yang terhalang (daerah bayangan).
Di Amerika, di mana kompetisi begitu ketatnya, jumlah kanal yang ditawarkan sebuah stasiun Pay TV menjadi faktor kunci untuk memenangkan persaingan. Karena itu digital compression (lihat box) sudah menjadi standar untuk mendapatkan jumlah kanal yang banyak. Di Indonesia siaran Pay TV dengan banyak kanal itu sudah dimulai oleh Indovision lewat satelit Palapa C2. Nanti, setelah satelit Indostar diluncurkan, kanal yang tersedia dan kualitas akan bertambah lebih dari 19 kanal yang sekarang sudah tersedia. Indovision saat ini sebagai perusahaan siaran Pay TV lewat satelit (DBS) memang belum menjadi ancaman bagi lima TV swasta jika melihat target pemirsanya yang jauh berbeda. Juga besarnya harga peralatan penerima siaran Indovision (antena, receiver dan decoder). Meski demikian sebagai bisnis, Indovision adalah bisnis yang prospektif karena memang memiliki target penonton yang sangat jelas, yaitu golongan dengan status ekonomi menengah ke atas. Apalagi harga peralatan penerima siaran TV digital lewat satelit Indostar akan lebih murah dari yang tersedia sekarang.
Jojo Rahardjo
Friday, October 29, 2004
CAKRAWARTA 1, INDOVISION, DAN AKSES INTERNET
Selamat mengorbit Satelit Cakrawarta 1. Semoga akan dan tetap berfungsi dengan baik. Lalu layanan apa yang bisa kita peroleh dari satelit ini?
Media Indonesia, 4 Desember 1997
Jojo Rahardjo, penulis bekerja di stasiun TV Swasta
Saat ini nampak bisnis dalam memberikan layanan satelit di berbagai tempat di dunia semakin diminati banyak orang. Dengan satelit banyak yang bisa diberikan kepada banyak orang, seperti layanan hiburan, komunikasi data, dan telekomunikasi. Khusus untuk layanan hiburan menurut SkyReport.Com perusahaan riset dan berita mengenai layanan satelit, saat ini ada 5,8 juta pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) dari sejumlah perusahaan DBS di seluruh dunia. Jumlah pelanggan terbesar dimiliki oleh DirecTV pelopor DBS dari Amerika. Pelanggan perusahaan yang memiliki 175 channel ini diperkirakan pada bulan ini akan mencapai 3 juta pelanggan. Kedua terbesar adalah PrimeStar dengan 1,8 juta pelanggan. Sisanya adalah USSB, DISH, dan lain-lain.
SIARAN TV SATELIT DIGITAL INDOVISION
DBS yang sering juga disebut DTH (Direct To Home) adalah siaran televisi yang ditangkap langsung dari satelit oleh antena televisi. DBS pertama kali dipancarkan dengan sistem analog seperti yang dilakukan oleh Indovision sebelum beralih ke digital. Pada saat itu antena yang digunakan harus besar dan dengan jumlah channel yang lebih sedikit. Sedangkan Digital DBS mampu menyediakan puluhan bahkan ratusan saluran dengan kualitas gambar seperti Laser Disc atau suara seperti Compac Disc, padahal ditangkap hanya dengan sebuah antena kecil saja. Sistem Digital ini telah dikembangkan dan dipasarkan dengan sukses sejak tahun 1994 di Amerika dan di bahagian lain di seluruh dunia. Peralatan yang harus dimiliki untuk menangkap siaran DBS yang digital itu sering disebut dengan DSS (Digital Satelite System). Meski demikian biaya instalasi di rumah pelanggan tidak lebih mahal dari biaya instalasi untuk siaran satelit dengan sistem sebelumnya.
Berbeda dengan peralatan penangkap siaran televisi satelit sebelumnya, Digital DBS hanya memerlukan antena piring yang besarnya bervariasi sebesar lebih kurang 18 inchi atau kurang dari 50 centimeter, tergantung pada merek pembuat peralatan DSS itu. Kecilnya antena piring ini dimungkinkan oleh penggunaan high power satelite yang menggunakan transponder Ku-band bukan C-band. PT Malicak untuk sistem Digital DBS Indovision baru saja meluncurkan satelit Cakrawarta 1 yang menyediakan transponder Ku-Band. Sebelum dengan Cakrawarta 1, Indovision menggunakan Satelit Palapa C2 yang memiliki beberapa transponder Ku-band. Dengan satelit Cakrawarta 1 ini Indovision pada akhir tahun1997 akan menyediakan 40 saluran digital. Kelak setelah seluruh satelit Cakrawarta diluncurkan Indovision akan menyediakan lebih dari 100 channel. Sementara itu dalam waktu dekat ini Layanan Indovision akan ditambah dengan beberapa layanan lain seperti akses ke internet melalui satelit atau Video on Demand atau juga disebut Pay Per View karena harus bayar untuk setiap satu tayangan yang ditonton. Selain antena piring untuk menangkap siaran digital DBS diperlukan dua alat lain: digital set-top decoder box dan sebuah remote control.
Dengan remote control pelanggan bisa mendapatkan fungsi on-screen menu untuk melacak dan memilih pilihan-pilihan acara yang tersedia. Pemirsa juga dapat memesan sajian pay per view dari ratusan pilihan film terbaik setiap saat diinginkan. Remote control juga digunakan untuk membatasi acara-acara yang bisa ditonton untuk mencegah anak-anak menonton acara orang dewasa misalnya.
PAY PER VIEW
Satu contoh Pay per View adalah rencanan ditayangkannya The Rolling Stones pada 12 December 1997 ini oleh DirecTV secara langsung. Pelanggan harus membayar seharga USD19.95. Kalau untuk film-film lepas biasanya harga satu filmnya adalah cuma USD1 saja, lebih murah dari yang ditawarkan oleh Pay TV lain atau dengan sistem distribusi melalui kabel. Pay Per View sekarang memang populer karena dirasakan lebih nyaman, karena tidak repot untuk keluar rumah jika menyewa melalui rental film. Setelah sekian tahun layanan Pay Per View di Amerika para pengusaha rental film mengeluh karena porsi pendapatan mereka telah diambil perusahaan penyedia layananan Pay Per View ini.
AKSES INTERNET
Jika anda adalah individual atau organisasi yang membutuhkan access internet secara serius tanpa mau mengalami delay atau menunggu lama ketika proses downloading tidak lama lagi anda akan dapat menikmati layanan DirectDuo melalui Indovision seperti yang disediakan DirecTV. DirecDuo adalah layanan TV Satelit dan sekaligus Internet Access melalui satelit. Kecepatan downloadnya luar biasa, mencapai 400 kbps, atau 28 kali lebih cepat dari modem rata-rata yang sekarang anda gunakan.
Di samping DirecDuo, DirecTV di Amerika juga menyediakan layanan terpisah hanya untuk akses ke internet dan layanan komunikasi data, yaitu DirectPC tanpa siaran TV atau disebut juga Turbo Internet Service seharga US$329.95. Karena kecepatannya yang tinggi, aplikasinya bisa sangat luas dari access ke internet biasa hingga untuk komunikasi data (mentransfer atau men-download file-file) dari satu tempat tempat lain. Biasanya layanan seperti ini digunakan oleh perusahaan misalnya Bank yang banyak mengkomunikasikan datanya dengan kantor cabang di daerah atau dengan partner bisnisnya.
HARGA PAKET LAYANAN TV SATELIT YANG DITAWARKAN
Untuk memberi gambaran mengenai perbandingan biaya berlangganan perbulan, Indovision dengan DirecTV di Amerika adalah seperti berikut.
Paket Platinum seharga US$ 47.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks dan 14 commercial-free movie channels. Paket Gold seharga US$39.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks. Paket Silver seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 14 commercial-free movie channels. Paket Plus Encore seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 8 Encore movie channels.
Masih ada paket-paket terpisah yang lebih murah yang ditawarkan oleh DirecTV Seperti misalnya Playboy TV seharga US$ 7,99 per 12 jam atau US$ 12,99 per bulan. Spice seharga US$ 5,99 per 90 menit untuk acara-acara primetime dari 24 network di antaranya ABC, NBC, CBS, FOX, PBS
PESAING BISNIS LAYANAN SATELIT
Teknologi layanan satelit berupa penyiaran televisi dan komunikasi data terus berkembang dengan cepat. Perusahaan penyedia siaran TV dan penyedia layanan komunikasi data terus berlomba-lomba untuk menggunakan teknologi terakhir. Wireless System yang telah berkembang beberapa tahun terakhir ini, sekarang mulai menggantikan kabel-kabel coaxial dan fibreoptic pada siaran TV dengan jaringan distribusi kabel (TV Kabel). Teknologi ini justru menurunkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dan pelanggan. Di Jakarta sebuah perusahaan patungan antara beberapa perusahaan besar dengan nama Multimedia Nusantara mencoba terjun ke dalam bisnis Pay TV dengan sistem distribusi melalui kabel. Sayang justru sistem ini yang sebenarnya memerlukan investasi lebih besar daripada sistem yang menggunakan teknologi wireless sistem yaitu sistem distribusi siaran kepada pelanggan melalui pemancaran gelombang mikro. Wireless System sekarang dengan teknologi digital compression bahkan mampu menyediakan channel lebih banyak seperti TV Satelit dibanding TV Kabel dengan sistem distribusi kabel.
Perusahaan Multimedia Nusantara saat ini harus menanam di dalam tanah atau membentangkan di antara tiang telpon atau listrik. Setelah kabel-kabel terpasang perusahaan harus memelihara kabel, dan suatu waktu nanti bahkan mengganti yang rusak dengan yang baru. Sedang pembangunan Wireless Cable, yang lebih instant, sederhana dan tidak akan terganggu apakah Wireless Cable berada di rural, urban atau sub-urban. Instalasi antenna, converter dan signal repeater, jauh lebih murah, sehingga Wireless Cable berarti low construction cost. Investasi pada instalasi (pembangunan) Wireless Cable akan lebih terkonsentrasi pada peralatan yang akan digunakan pelanggan bukan pada network yang dibuat perusahaan. Jadi investasi yang akan ditanam oleh perusahaan dihitung secara proporsional berdasarkan perkiraan calon pelanggan. Tidak berdasarkan daerah di mana kabel-kabel akan dibentangkan lebih dahulu sebelum pelanggan tertarik untuk menjadi pelanggan.
Dengan Wireless System hanya membutuhkan paling banyak US$ 2 juta di daerah urban untuk target pelanggan rata-rata. Ini karena investasi dikeluarkan hanya pada peralatan yang akan dimiliki/digunakan oleh pelanggan. Biaya ini hanya muncul jika sudah ada calon pelanggan. Namun pada sistem distribusi dengan membentangkan kabel, perusahaan harus investasi untuk jaringannya sebesar paling tidak 60 juta US$ sebelum mulai mencari pelanggan. Sejak akhir tahun 1995 wireless system telah dikenal sebagai siaran TV dengan kualitas Direct Broadcasting Satelite, namun dengan ongkos lebih murah dari TV Kabel. Beberapa pengamat memperkirakan pelahan TV Kabel konvensional akan ditinggalkan untuk beralih pada Wireless Cable karena beberapa kelebihannya. Sayang belum terdengar di Indonesia sistem ini akan digunakan oleh satu perusahaan Pay TV misalnya mengingat luasnya aplikasi yang bisa ditawarkan oleh sistem ini seluas yang ditawarkan oleh perusahaan layanan satelit.
Jojo Rahardjo
Media Indonesia, 4 Desember 1997
Jojo Rahardjo, penulis bekerja di stasiun TV Swasta
Saat ini nampak bisnis dalam memberikan layanan satelit di berbagai tempat di dunia semakin diminati banyak orang. Dengan satelit banyak yang bisa diberikan kepada banyak orang, seperti layanan hiburan, komunikasi data, dan telekomunikasi. Khusus untuk layanan hiburan menurut SkyReport.Com perusahaan riset dan berita mengenai layanan satelit, saat ini ada 5,8 juta pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) dari sejumlah perusahaan DBS di seluruh dunia. Jumlah pelanggan terbesar dimiliki oleh DirecTV pelopor DBS dari Amerika. Pelanggan perusahaan yang memiliki 175 channel ini diperkirakan pada bulan ini akan mencapai 3 juta pelanggan. Kedua terbesar adalah PrimeStar dengan 1,8 juta pelanggan. Sisanya adalah USSB, DISH, dan lain-lain.
SIARAN TV SATELIT DIGITAL INDOVISION
DBS yang sering juga disebut DTH (Direct To Home) adalah siaran televisi yang ditangkap langsung dari satelit oleh antena televisi. DBS pertama kali dipancarkan dengan sistem analog seperti yang dilakukan oleh Indovision sebelum beralih ke digital. Pada saat itu antena yang digunakan harus besar dan dengan jumlah channel yang lebih sedikit. Sedangkan Digital DBS mampu menyediakan puluhan bahkan ratusan saluran dengan kualitas gambar seperti Laser Disc atau suara seperti Compac Disc, padahal ditangkap hanya dengan sebuah antena kecil saja. Sistem Digital ini telah dikembangkan dan dipasarkan dengan sukses sejak tahun 1994 di Amerika dan di bahagian lain di seluruh dunia. Peralatan yang harus dimiliki untuk menangkap siaran DBS yang digital itu sering disebut dengan DSS (Digital Satelite System). Meski demikian biaya instalasi di rumah pelanggan tidak lebih mahal dari biaya instalasi untuk siaran satelit dengan sistem sebelumnya.
Berbeda dengan peralatan penangkap siaran televisi satelit sebelumnya, Digital DBS hanya memerlukan antena piring yang besarnya bervariasi sebesar lebih kurang 18 inchi atau kurang dari 50 centimeter, tergantung pada merek pembuat peralatan DSS itu. Kecilnya antena piring ini dimungkinkan oleh penggunaan high power satelite yang menggunakan transponder Ku-band bukan C-band. PT Malicak untuk sistem Digital DBS Indovision baru saja meluncurkan satelit Cakrawarta 1 yang menyediakan transponder Ku-Band. Sebelum dengan Cakrawarta 1, Indovision menggunakan Satelit Palapa C2 yang memiliki beberapa transponder Ku-band. Dengan satelit Cakrawarta 1 ini Indovision pada akhir tahun1997 akan menyediakan 40 saluran digital. Kelak setelah seluruh satelit Cakrawarta diluncurkan Indovision akan menyediakan lebih dari 100 channel. Sementara itu dalam waktu dekat ini Layanan Indovision akan ditambah dengan beberapa layanan lain seperti akses ke internet melalui satelit atau Video on Demand atau juga disebut Pay Per View karena harus bayar untuk setiap satu tayangan yang ditonton. Selain antena piring untuk menangkap siaran digital DBS diperlukan dua alat lain: digital set-top decoder box dan sebuah remote control.
Dengan remote control pelanggan bisa mendapatkan fungsi on-screen menu untuk melacak dan memilih pilihan-pilihan acara yang tersedia. Pemirsa juga dapat memesan sajian pay per view dari ratusan pilihan film terbaik setiap saat diinginkan. Remote control juga digunakan untuk membatasi acara-acara yang bisa ditonton untuk mencegah anak-anak menonton acara orang dewasa misalnya.
PAY PER VIEW
Satu contoh Pay per View adalah rencanan ditayangkannya The Rolling Stones pada 12 December 1997 ini oleh DirecTV secara langsung. Pelanggan harus membayar seharga USD19.95. Kalau untuk film-film lepas biasanya harga satu filmnya adalah cuma USD1 saja, lebih murah dari yang ditawarkan oleh Pay TV lain atau dengan sistem distribusi melalui kabel. Pay Per View sekarang memang populer karena dirasakan lebih nyaman, karena tidak repot untuk keluar rumah jika menyewa melalui rental film. Setelah sekian tahun layanan Pay Per View di Amerika para pengusaha rental film mengeluh karena porsi pendapatan mereka telah diambil perusahaan penyedia layananan Pay Per View ini.
AKSES INTERNET
Jika anda adalah individual atau organisasi yang membutuhkan access internet secara serius tanpa mau mengalami delay atau menunggu lama ketika proses downloading tidak lama lagi anda akan dapat menikmati layanan DirectDuo melalui Indovision seperti yang disediakan DirecTV. DirecDuo adalah layanan TV Satelit dan sekaligus Internet Access melalui satelit. Kecepatan downloadnya luar biasa, mencapai 400 kbps, atau 28 kali lebih cepat dari modem rata-rata yang sekarang anda gunakan.
Di samping DirecDuo, DirecTV di Amerika juga menyediakan layanan terpisah hanya untuk akses ke internet dan layanan komunikasi data, yaitu DirectPC tanpa siaran TV atau disebut juga Turbo Internet Service seharga US$329.95. Karena kecepatannya yang tinggi, aplikasinya bisa sangat luas dari access ke internet biasa hingga untuk komunikasi data (mentransfer atau men-download file-file) dari satu tempat tempat lain. Biasanya layanan seperti ini digunakan oleh perusahaan misalnya Bank yang banyak mengkomunikasikan datanya dengan kantor cabang di daerah atau dengan partner bisnisnya.
HARGA PAKET LAYANAN TV SATELIT YANG DITAWARKAN
Untuk memberi gambaran mengenai perbandingan biaya berlangganan perbulan, Indovision dengan DirecTV di Amerika adalah seperti berikut.
Paket Platinum seharga US$ 47.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks dan 14 commercial-free movie channels. Paket Gold seharga US$39.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks. Paket Silver seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 14 commercial-free movie channels. Paket Plus Encore seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 8 Encore movie channels.
Masih ada paket-paket terpisah yang lebih murah yang ditawarkan oleh DirecTV Seperti misalnya Playboy TV seharga US$ 7,99 per 12 jam atau US$ 12,99 per bulan. Spice seharga US$ 5,99 per 90 menit untuk acara-acara primetime dari 24 network di antaranya ABC, NBC, CBS, FOX, PBS
PESAING BISNIS LAYANAN SATELIT
Teknologi layanan satelit berupa penyiaran televisi dan komunikasi data terus berkembang dengan cepat. Perusahaan penyedia siaran TV dan penyedia layanan komunikasi data terus berlomba-lomba untuk menggunakan teknologi terakhir. Wireless System yang telah berkembang beberapa tahun terakhir ini, sekarang mulai menggantikan kabel-kabel coaxial dan fibreoptic pada siaran TV dengan jaringan distribusi kabel (TV Kabel). Teknologi ini justru menurunkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dan pelanggan. Di Jakarta sebuah perusahaan patungan antara beberapa perusahaan besar dengan nama Multimedia Nusantara mencoba terjun ke dalam bisnis Pay TV dengan sistem distribusi melalui kabel. Sayang justru sistem ini yang sebenarnya memerlukan investasi lebih besar daripada sistem yang menggunakan teknologi wireless sistem yaitu sistem distribusi siaran kepada pelanggan melalui pemancaran gelombang mikro. Wireless System sekarang dengan teknologi digital compression bahkan mampu menyediakan channel lebih banyak seperti TV Satelit dibanding TV Kabel dengan sistem distribusi kabel.
Perusahaan Multimedia Nusantara saat ini harus menanam di dalam tanah atau membentangkan di antara tiang telpon atau listrik. Setelah kabel-kabel terpasang perusahaan harus memelihara kabel, dan suatu waktu nanti bahkan mengganti yang rusak dengan yang baru. Sedang pembangunan Wireless Cable, yang lebih instant, sederhana dan tidak akan terganggu apakah Wireless Cable berada di rural, urban atau sub-urban. Instalasi antenna, converter dan signal repeater, jauh lebih murah, sehingga Wireless Cable berarti low construction cost. Investasi pada instalasi (pembangunan) Wireless Cable akan lebih terkonsentrasi pada peralatan yang akan digunakan pelanggan bukan pada network yang dibuat perusahaan. Jadi investasi yang akan ditanam oleh perusahaan dihitung secara proporsional berdasarkan perkiraan calon pelanggan. Tidak berdasarkan daerah di mana kabel-kabel akan dibentangkan lebih dahulu sebelum pelanggan tertarik untuk menjadi pelanggan.
Dengan Wireless System hanya membutuhkan paling banyak US$ 2 juta di daerah urban untuk target pelanggan rata-rata. Ini karena investasi dikeluarkan hanya pada peralatan yang akan dimiliki/digunakan oleh pelanggan. Biaya ini hanya muncul jika sudah ada calon pelanggan. Namun pada sistem distribusi dengan membentangkan kabel, perusahaan harus investasi untuk jaringannya sebesar paling tidak 60 juta US$ sebelum mulai mencari pelanggan. Sejak akhir tahun 1995 wireless system telah dikenal sebagai siaran TV dengan kualitas Direct Broadcasting Satelite, namun dengan ongkos lebih murah dari TV Kabel. Beberapa pengamat memperkirakan pelahan TV Kabel konvensional akan ditinggalkan untuk beralih pada Wireless Cable karena beberapa kelebihannya. Sayang belum terdengar di Indonesia sistem ini akan digunakan oleh satu perusahaan Pay TV misalnya mengingat luasnya aplikasi yang bisa ditawarkan oleh sistem ini seluas yang ditawarkan oleh perusahaan layanan satelit.
Jojo Rahardjo
Subscribe to:
Posts (Atom)
