Saya politikus? Ha..ha..ha.. saya lebih suka disebut sastrawan mbeling yang memotret situasi di sekitar saya dalam bentuk tulisan....
Welcome to my blog, anyway!

Search This Blog

Wednesday, June 10, 2009

JAKSA KONYOL BIKIN ULAH DI KASUS PRITA MULYASARI

MediaKonsumen, Rabu, 10 Juni 2009

Kasus Ibu Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional Alam Sutera Tangerang Selatan tentu menarik perhatian kita semua. Bukan hanya pembaca MediaKonsumen ini, tetapi kasus Prita pasti menarik perhatian banyak orang yang hampir pasti pernah berurusan dengan rumah sakit. Apalagi sejak lebih dari sepuluh tahun belakangan ini semakin banyak saja bermunculan rumah-rumah sakit yang mengklaim dirinya sebagai bertaraf internasional, tapi ternyata cuma tarifnya saja yang internasional, sedangkan mutu layanannya tetap ndeso dan minteri.

Sudah banyak kisah-kisah pilu dari pasien yang merasa tidak mendapatkan layanan yang sepatutnya, bahkan keluarga pasien diterkam hutang kepada rumah sakit meskipun sakit pasien bertambah parah bahkan tewas. Sebagian dari kasus pilu ini muncul di media massa, namun bukannya berhenti atau berkurang, tetapi rumah-rumah sakit itu ternyata semakin arogan dan malah over confidence di kasus Prita.
Memang pada awalnya kasus Prita diangkat sebagai kasus kebebasan berpendapat yang dengan mudah bisa dirampas dengan menggunakan UU ITE. Namun belakangan melalui berbagai wacana, ternyata UU ITE pasal 21 ayat 3 tidak dapat digunakan untuk membatasi orang untuk berpendapat di media elektronik apalagi digunakan untuk memenjarakan orang. Ada undang-undang lain dan peraturan lain yang bisa membuat UU ITE pasal 27 ayat 3 ini tidak diterapkan dalam kasus Prita, misalnya UU Perlindungan Konsumen. Pasal dari UU ITE ini dikenakan secara konyol oleh Jaksa yang menangani kasus Prita. Jaksa Agung telah menyebut jaksa yang menangani kasus ini sebagai tidak profesional. Sayangnya ketidakprofesionalan jaksa ini mengapa berpihak pada yang besar dan punya duit?

Saya amat tidak yakin ketika pertama kali membaca e-mail tentang kasus Prita, bahwa ada seorang Ibu ditahan karena menulis keluhan di sebuah mailing list (akhirnya tulisan itu muncul di mana-mana, termasuk di MediaKonsumen ini dan Detik). Ibu itu ditahan karena sedang diperkarakan oleh RS Omni. Saya tidak yakin ada sebuah rumah sakit besar berani “bermain-main” dalam soal citranya, karena ini akan menjadi bumerang bagi rumah sakit itu. Tapi ternyata memang rumah sakit Omni memang sedang “bermain-main” dengan citranya. Namun saya menjadi tidak heran setelah melihat berita di Suara Merdeka CyberNews tanggal 5 Juni lalu: http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=30015 mengenai bagaimana RS Omni memperlakukan jaksa dan polisi di rumah sakitnya, yaitu pelayanan gratis sebagaimana yang diberitakan. Barangkali RS Omni merasa sudah memiliki jaksa dan polisi yang pasti memihaknya jika ada pasien mencoba “main-main” dengan RS Omni.

Hampir mirip dengan apa yang dilakukan Ibu Prita, saya pernah “menjelek-jelekan” Citibank di berbagai media, namun saya tidak pernah diperkarakan oleh Citibank sebagai telah mencemarkan namabaiknya. Sebagaimana yang sudah saya tulis di MediaKonsumen ini dalam beberapa tulisan, saya pernah mengeluhkan bagaimana Citibank menerapkan perhitungan bunga kepada pemegang kartu kreditnya. Bahkan saya memperkarakannya ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Ternyata di dalam sidang, BPSK memutuskan Citibank berada di pihak yang benar. Sayang, saya tidak punya waktu dan energi untuk meneruskan berperkara dengan Citibank, padahal saya yakin masih banyak kesalahan Citibank yang belum diperkarakan, seperti tidak memenuhi hak saya atas informasi yang saya minta. Meski kalah, dan telah menulis banyak kejelekan Citibank di MediaKonsumen ini dan tersebar di berbagai media, tetapi Citibank “tidak berani” memperkarakan saya sebagai telah mencemarkan namabaiknya sebagaimana RS Omni lakukan terhadap Ibu Prita. Itu karena akan jadi bumerang bagi Citibank, sebagaimana itu sekarang menjadi bumerang bagi RS Omni.

Kasus Prita bagi saya adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita yang selalu setiap hari ingin membangun sikap kritis sebagai konsumen. Jika kita akan membeli jasa atau barang apa pun, sebaiknya kita melakukan sedikit riset kecil terlebih dahulu. Internet dan MediaKonsumen telah mempermudah kita melakukan riset kecil itu. Meski kadang hasil riset yang kita lakukan tidak memenuhi harapan. Sebagai contoh adalah ketika saya sedang mencari layanan Mobile Internet yang paling baik. Ternyata saya menemukan di MediaKonsumen atau melalui googling semua produk Mobile Internet selalu ada keluhannya. Bahkan yang mahal sekali pun, seperti Telkomsel Flash tidak mau (tidak bisa) menjawab pertanyaan dan keluhan saya di nomor telpon yang disediakan, di alamat e-mail yang disediakan dan termasuk di MediaKonsumen ini.

Saya berharap Kasus Prita akan membuat kita semakin rajin menulis di MediaKonsumen ini atau di media mana pun untuk menunjukkan bahwa konsumen memiliki hak untuk berpendapat atau bahkan membentuk opini terhadap sebuah perusahaan, produk atau jasa. Sehingga tidak akan ada lagi perusahaan arogan seperti RS Omni yang terlalu percaya diri telah memiliki polisi atau jaksa-jaksa konyol yang akan membela mereka hingga ke liang kubur ketika seorang Prita Mulyasari menulis di sebuah mailing list.

Ini bukan jaman Suharto lagi, ini jaman Teknologi Informasi, bung!

Jojo Rahardjo

ADAM DAN HAWA DI DALAM FILM "KNOWING"

MediaKonsumen, Jumat, 29 Mei 2009

Saya baru menonton film yang sebelumnya saya kira sebuah film misteri, film tentang kejadian supranatural atau film science-fiction. Akhir-akhir ini saya memang jarang membaca ulasan-ulasan tentang film yang beredar. Sehingga beberapa waktu yang lalu saya memilih secara asal sebuah film yang berjudul “Knowing”. Namun demikian sebelumnya saya sempat membaca sinopsis film ini di website Cinema 21 yang menggambarkan film ini adalah sebuah fiksi supranatural mengenai ramalan tentang bencana-bencana di Bumi yang bakal terjadi.

Kisahnya bermula di tahun 1958 di sebuah sekolah dasar di Amerika. Seorang anak perempuan bernama Lucinda, tidak membuat gambar tentang masa depan sebagaimana yang diperintahkan oleh ibu gurunya. Ia malah menulis sederet angka-angka acak tanpa makna sehalaman penuh dan bolak-balik. Tugas membuat gambar itu dimaksudkan oleh sekolah untuk menjadi sebuah kenang-kenangan dari sekolah itu tentang imajinasi apa yang dapat dibuat seorang anak.
Gambar-gambar ini kemudian disimpan dalam sebuah tabung kedap udara dan dikubur atau disimpan di dalam tanah untuk dibuka kembali 50 tahun kemudian, yaitu di tahun 2009.

50 tahun kemudian tabung itu dibuka kembali dan halaman berisi deretan angka-angka yang dibuat Lucinda diberikan kepada seorang anak laki-laki, Caleb yang bersekolah di tempat yang sama. John Koestler, ayah Caleb secara tak sengaja melihat halaman berisi angka-angka milik anaknya ini dan tertarik untuk mencari tahu arti deretan angka-angka ini. Karena John adalah seorang profesor astrofisika dan dengan melakukan Googling, tidak sulit bagi John untuk menemukan bahwa deretan angka-angka itu adalah angka-angka yang menunjukkan tahun-tahun dan tanggal kejadian beberapa bencana di Bumi beserta angka jumlah korban dalam 50 tahun terakhir ini. Artinya saat deretan angka-angka ini ditulis, bencana-bencana itu belum terjadi namun sudah dituliskan di kertas itu atau diramalkan. Namun ketika John mencoba mendiskusikannya dengan teman sejawatnya, temannya menganggap angka-angka itu cuma ”kebetulan” belaka. Deretan angka-angka itu cuma mirip dengan tanggal-tanggal kejadian bencana dan jumlah korbannya, karena menurut dia hanya separuh dari deretan angka-angka itu yang bermakna seperti itu. Sementara sisanya tidak memiliki arti apa-apa. Menurut temannya, John hanya masih sedih dan bingung dengan kematian istrinya beberapa tahun lalu. Kondisi depresi ini mungkin membuat John kehilangan kemampuan berpikir jernih ketika melihat sederetan angka-angka aneh itu. Pada babak ini, penonton dibuat penasaran dengan apa selanjutnya yang akan muncul.

Singkat cerita, John akhirnya menemukan arti dari sisa deretan angka-angka yang sebelumnya tidak memiliki makna itu, yaitu ternyata adalah nomor kordinat lokasi di permukaan bumi atau longitude dan latitude (angka lintang utara-selatan dan bujur barat-timur) yang menunjukkan lokasi di mana bencana-bencana itu terjadi selama 50 tahun terakhir ini. Sehingga lengkap lah ramalan bencana-bencana itu, kecuali masih ada 3 bencana lagi yang belum terjadi. Bencana apa itu? Dan akan kah bencana-bencana itu berhubungan langsung dengan tokoh-tokoh di dalam film ini?

Sejak awal hingga tiga perempat bagian, film ini biasa-biasa saja. Karena yang baru atau original cuma deretan angka-angka itu. Film ini cuma seperti film-film misteri biasa atau science-fiction (X-Files the series, atau Contact the movie) atau film-film mengenai kejadian supranatural. Saya berharap film ini misalnya mengenai sesuatu pengungkapan yang berani tentang fakta sejarah yang terkubur lama, misalnya seperti di film Passion of the Christ.

Tapi Film ini menjadi lebih menarik di bagian akhir, setelah muncul sosok mirip manusia, tetapi digambarkan seperti sosok bercahaya. Tentu berkat teknologi special effect sekarang, sosok ini digambarkan sebagai makhluk yang terbentuk dari cahaya, bukan sosok yang bercahaya. Pembuat film ini nampaknya memang sengaja ingin penontonnya melihat sosok ini bergerak dan berperilaku seperti cahaya. Mungkin maksudnya agar kita menafsirkan sebagai malaikat atau makhluk ET yang jauh lebih extraordinary atau advance daripada yang digambarkan di film-film sebelumnya seperti di film Extra Terrestrial atau film Artificial Intellingence. Tokoh bercahaya ini menjadikan film ini mulai berbeda arahnya. Namun demikian film ini bukan “Contact” yang penuh dialog “ketuhanan” meski pun dengan bahasa science. Ada memang beberapa adegan di dalam film Knowing ini yang dialognya hanya akan menyentuh penonton yang memiliki kepekaan terhadap soal-soal determinism atau takdir di dalam ilmu fisika. Simak sebuah dialog di dalam film ini: “The teory of Randomness said, it’s all simply coincidence. There is no grand meaning”.

Lebih menarik lagi pada bagian paling akhir, karena ternyata film ini seperti mau mengolok-ngolok kepercayaan umat manusia yang usia kepercayaan itu sudah beribu-ribu tahun lamanya, terutama sejak jaman Nabi Ibrahim (Nabi yang diakui oleh 3 nabi setelahnya, Musa, Isa, dan Muhammad). Selama ini kita kita dijejali sejak kecil kepercayaan tentang bagaimana kehidupan manusia bermula, yaitu bermula dari Adam dan Hawa. Sebagai bumbunya, kadang Adam diceritakan dibuat dari tanah liat kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Lalu Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam. Cerita-cerita seperti itu akrab dengan kita sejak kecil. Cerita itu tentu bukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang bisa dicarikan bukti empiriknya, tetapi lebih seperti kisah-kisah yang sering diselipkan di dalam ajaran agama. Meski demikian ada juga versi dari agama yang dibuat lebih bernuansa science mengenai asal-muasal manusia atau mengenai Adam dan Hawa ini.

Konsep Adam dan Hawa di dalam film ini sebenarnya memang bukan konsep yang original, karena sudah ada perdebatan panjang bernuansa science di luar dunia fiksi dan film mengenai konsep Adam dan Hawa. Namun penyelipan konsep ini ke dalam sebuah film ternyata bisa menjadi sebuah film yang menghibur dan penonton tidak menduga arah cerita hingga menjelang bagian akhir film ini. Penonton dibuat mengira sedang menonton sebuah film misteri biasa atau film tentang supranatural biasa atau science-fiction. Tetapi di bagian akhir penonton dibuat surprise, karena ternyata film ini base on sebuah konsep lama mengenai asal-muasal manusia atau konsep Adam dan Hawa. Tetapi mungkin bisa juga pembuat film ini hanya menyelipkan kisah Adam dan Hawa agar film ini menjadi menarik. Nampaknya itu yang memang diharapkan oleh pembuat film ini seperti yang dikatakan oleh pembuat film ini: “Knowing will be the kind of film that starts conversations that continue long after the audiences have left the theater”.

Cerita di film ini memang tidak rumit, bahkan terkesan ragu-ragu dalam mengambil tema cerita. Film ini pada bagian akhirnya juga boleh disebut sebagai film tentang kiamat di Bumi seperti film Armagedon atau film Deep Impact, tetapi sejak awal penonton dibuat terkecoh ke dalam misteri deretan angka. Hanya di bagian akhir film ini saja tergambar bagaimana planet Bumi hancur dan kehidupan di dalamnya musnah oleh adanya badai matahari besar. Tidak ada dialog yang panjang mengenai bagaimana kiamat itu akan terjadi dan tidak seperti Armagedon dan Deep Impact, tidak ada perjuangan untuk mencegah kiamat itu.

Bagian akhir film ini bercerita tentang bagaimana kehidupan di Bumi yang akan binasa yang disebabkan oleh adanya badai matahari yang luar biasa besar di tahun 2009 ini (sebenarnya memang ada ramalan astrophisic bahwa di tahun 2012 nanti akan ada badai matahari besar namun tidak mengakibatkan kiamat). Radiasi sinar matahari akan menjebol athmospher sehingga permukaan Bumi langsung menyala terbakar. Hanya akan sedikit organisme yang bisa bertahan hidup dalam kondisi terpapar radiasi langsung matahari ini, bahkan hingga 1,5 km di bawah permukaan Bumi. Situasi ini mungkin sama dengan banyak gambaran kiamat dari beberapa agama. Cuma bedanya, kiamat ini bisa diramalkan tanggal dan jamnya. Lalu bagaimana dengan kelangsungan hidup manusia? Ini kah Hari Akhir, Judgement Day, Doomsday, Hari Kiamat?

Ternyata sudah ada 2 orang yang dipilih sejak lama untuk menjadi penerus umat manusia yang akan musnah di bumi tadi. Mereka dipilih oleh makhluk-makhluk bercahaya tadi. Sebagaimana sudah disebut sebelumnya, pembuat film ini mungkin ingin penonton berpikir makhluk-makhluk itu adalah malaikat, meski menurut kacamata science, mereka adalah para aliens yang peduli dengan kelangsungan kehidupan manusia, namun dengan kecerdasan sangat advance ini lah mungkin mereka boleh disebut sebagai malalikat (yang akhirnya memiliki moral yang tinggi). Aliens ini telah memilih 2 orang pria dan wanita untuk menjadi “Adam dan Hawa” dari sekian milyar manusia di Bumi untuk melanjutkan kegiatan beranak-pinak umat manusia di planet lain yang digambarkan oleh film ini mirip dengan paradise sebagaimana gambaran tentang paradise dari beberapa agama.

Saya mungkin memang cenderung cynical, sehingga saya menganggap film ini adalah olok-olok buat kita yang percaya pada kisah Adam dan Hawa tanpa mempertimbangkan science tentang asal-muasal alam semesta, Bumi, dan umat manusia di planet Bumi ini. Meski olok-olok, tapi saya kasih acungan jempol, karena film ini memiliki sense of humour yang tinggi karena bisa mempermainkan kita di dua pertiga film dan memberi kejutan yang cerdas di bagian akhir.

20 April 2009

Jojo Rahardjo

ANTASARI, POLITIK DAN POLISI

MediaKonsumen, Jumat, 29 Mei 2009

Antasari tersangka otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen?

Nampaknya banyak media lebih suka mengumbar motif pembunuhan ini adalah soal berebut perempuan dibanding motive yang lain. Mungkin karena tuntutan pasar. Meskipun Antasari sudah ditangkap, kepolisian tentu saja masih belum yakin dengan motive pembunuhan ini. Juga tentu saja bukti-bukti belum tersedia.

Lebih seru lagi kalau ternyata Antasari dijebak (atau lebih tepat dijerumuskan) ke dalam peristiwa pembunuhan ini karena urusan pemberantasan korupsi. Bisa jadi, Antasari dijerumuskan karena ada yang sakit hati karena telah menjadi korban Antasari atau karena sedang terancam oleh Antasari.

Antasari, bagaimanapun adalah seorang yang kontroversial. Antasari sebelum jadi ketua KPK pernah di Kejagung dan pernah bikin beberapa kegemparan yang bisa disebut juga sebagai tidak bersih.

Di tengah kontroversi itu, Antasari di KPK memberantas beberapa kasus korupsi (sebagian kecil saja) di Indonesia. Yang menarik, dulu, SBY entah kenapa pernah berkomentar aneh waktu KPK menangkap Amin Nasution. Komentarnya kira-kira begini: "memberantas korupsi jangan dengan cara menjebak". Komentar SBY ini terkesan asal bunyi dan terkesan nggak mendukung pemberantasan korupsi. Padahal ternyata kemudian terungkap Amin memang telah diburu dan dikuntit berbulan-bulan lamanya hingga tertangkap basah lagi jadi maling.

Antasari juga tidak diragukan lagi pernah berseteru hebat dengan baboon-baboon yang ada di gedung bundar saat kasus Artalita Suryani dan sejumlah jaksa agung muda “tertangkap” melakukan hubungan "terlalu intim". Artalita ini adalah kaki-tangan Syamsul Nursalim, salah satu perampok BLBI dan Jaksa Urip Tri Gunawan yang tertangkap tangan sedang makan suap waktu itu adalah ketua tim 35 yang menangani kasus dana BLBI Sjamsul Nursalim dan Anthony Salim (lihat tulisan saya sebelumnya di: http://jojor.blogspot.com/2008/06/kenaikan-bbm-dan-kejaksaan-agung.html ).

Saya jadi ingat seorang kriminolog Indonesia beberapa waktu yang lalu yang memberikan analisa tentang pembunuhan Nasrudin ini. Sayangnya saya lupa di mana saya baca itu. Dia bilang, di setiap negeri yang sedang menjelang peristiwa nasional seperti pemilu, sering terjadi kasus-kasus yang mengerikan seperti pembunuhan berlatar belakang politik. Nampaknya ada orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan yang dalam keadaan panik mudah sekali mengeluarkan watak psikopat-nya. Sigid Haryo (jika terbukti sebagai salah satu otak) adalah salah satu psikopat itu.

Sedangkan kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menduga Nasrudin memang tipe pejabat yang mengutamakan lobi dalam memuluskan pekerjaannya. Hal ini misalnya tecermin dari intensitasnya bermain golf dan kerap mendapatkan proyek dengan cara kolusi. "Jadi, Nasrudin ini memang agak preman. Istrinya tiga. Pasti orientasi orang ini bukan kencan, tapi untuk lobi," ujar Adrianus, Rabu (6/5), kepada Kompas.com ( http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/06/10012234/antasari.diduga.habisi.nasrudin.karena.terancam ).

Antasari pun mengendus hal ini dan merasa terancam. Jika korban membongkar kisah asmaranya dengan seorang caddy muda, bukan saja reputasi dan jabatannya yang melayang, komisi antikorupsi yang dipimpinnya pun akan tercoreng.

Mantan Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI ini pun berusaha membungkam korban dengan berbagai cara. "AA mengerti karakter Nasrudin sehingga tidak berani bermain-main," ujarnya.

Tapi ingat! Ada hal yang lebih amat mengerikan dari peristiwa pembunuhan ini, yaitu terlibatnya seorang Kombes Polisi, mantan Kapolres Jakarta Selatan, WW. Jika perwira polisi ini memang betul menjadi kordinator lapangan dalam pembunuhan ini, maka di mana lagi rasa aman bisa diperoleh oleh orang biasa seperti saya? Mengapa seorang perwira polisi, mudah sekali untuk dijerumuskan atau dimanipulasi untuk melakukan sebuah perbuatan yang bisa menjadi bencana nasional yaitu hilangnya rasa aman dan kepastian hukum ( http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/08/04195686/Kombes.Wiliardi.Merasa.Dijebak ).

Mari kita lihat kelanjutannya di media! Tapi saya ingatkan jangan berharap anda akan mendapatkan kebenarannya dalam waktu dekat ini atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Ini politik, bung!

Jojo Rahardjo

Monday, August 18, 2008

MUSIM PANEN BAGI KONSULTAN POLITIK DAN MEDIA

MediaKonsumen: http://www.mediakonsumen.com/Artikel2991.html

Majalah Fortune memperkirakan total dana kampanye di Amerika tahun ini akan mencapai USD 3 miliar. Itu sebabnya seorang konsultan politik Indonesia, Rizal Malarangeng di Jawa Pos, 25 Mei 2008 menegaskan: “Demokrasi memang mahal, bung!”

Lalu, berapa besar biaya kampanye di Indonesia?

Jika rata-rata biaya beriklan secara excessive di sebuah stasiun TV per harinya adalah 500 Juta Rupiah, maka per bulan adalah 15 Milyar Rupiah. Sutrisno Bachir dan Rizal Malarangeng adalah contoh 2 calon yang beriklan di TV secara excessive. Itu hanya untuk satu stasiun TV saja. Silahkan kalikan dengan 10 stasiun TV, misalnya. Angka ini hanya untuk di media TV, belum termasuk media lain seperti, radio, Internet, bioskop, baliho, spanduk, bendera, kalender, brosur, kaos, dan material kampanye lainnya. Kampanye tahap awal ini hanya sekedar untuk menciptakan awareness. Tahap berikutnya adalah adalah tahap komunikasi nilai-nilai dan platform. Biaya ratusan milyar rupiah ini hanya habis dalam beberapa bulan saja, bukan 1 tahun. Jadi bayangkan dalam 1 tahun berapa biaya yang dikeluarkan oleh seorang calon pemimpin di negeri ini, dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh beberapa orang calon, misalnya 5 orang calon. Lebih dari 1 trilyun rupiah!

Soal seperti ini, memang soal yang baru dan telah menjadi wacana beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak tulisan dan diskusi dibuat mengenai ini. Kebanyakan sudut pandangnya adalah ilmu, misalnya ilmu komunikasi, marketing, manajemen, politik, psikologi atau gabungan dari semua ilmu itu. Tulisan di bawah ini juga dari sebuah sudut pandang, yaitu ‘sudut pandang hati’ yang mencoba mewakili hati kebanyakan masyarakat dari golongan bawah.

Besarnya biaya kampanye calon presiden yang dipertontonkan belakangan ini, mungkin tidak mengganggu orang-orang yang terlibat dalam dunia politik. Tapi di tengah morat-maritnya negeri ini, pertunjukan itu sungguh tidak elegan. Apalagi seperti terjadi di negara mana pun, sumber dana kampanye seringkali dari korporasi atau dari kelompok-kelompok yang ingin memiliki pengaruh di pemerintahan yang akan terpilih nanti. Di Indonesia, Kampanye tahap awal sudah dimulai, meski tidak resmi. Pada tahap inilah sering sumber dana kampanye yang berjumlah sangat besar justru tidak memiliki asal-asul yang jelas. Padahal kita harus prihatin karena beberapa soal di bawah ini.

1. Penyumbang siluman itu (sebenarnya tidak cukup siluman, karena biasanya mereka adalah korporasi atau kelompok) akan meminta balas jasa jika si calon terpilih. Ini tentu bisa menjadi praktek pemerintahan atau legislasi yang korup.
2. Calon adalah seorang yang tidak cukup dikenal di masyarakat tetapi memaksakan diri.
3. Uang ratusan milyar rupiah tidak dimanfaatkan untuk menjadi solusi bagi persoalan mendasar negeri ini, yakni membuka lapangan kerja atau membantu membiayai pendidikan.
4. Calon adalah seorang yang sejak awal tidak peka dengan persoalan-persoalan besar masyarakat.
5. Calon adalah seorang kerbau yang mau dicocok-hidungnya oleh para konsultan politik.
6. Calon tidak memilih cara yang meski lebih panjang, tetapi lebih murah, elegan, natural dan bermanfaat agar dikenal oleh masyarakat, misalnya dengan menulis selama bertahun-tahun sebelumnya dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tahun 2008 ini adalah tahap awal bagi para calon pemimpin, tahap menanamkan awareness, sehingga kita belum bisa melihat kampanye platform atau program para calon pemimpin itu. Tapi justru itu lah “pameran” kelemahan para calon pemimpin itu sudah dilangsungkan. Hampir semua calon yang menghambur-hamburkan uangnya di TV itu adalah orang yang sebelumnya sudah cukup dikenal melalui media TV, namun bukan sebagai pahlawan atau memiliki prestasi menonjol sebagai pemimpin di negeri ini.

Wiranto, Bachir, Prabowo, Rizal, Sutiyoso dan lain-lain yang sibuk memoles citranya adalah orang-orang yang sebelumnya atau sepanjang hidup mereka tidak diberitakan sebagai orang yang concern dengan persoalan sehari-hari masyarakat di bawah, misalnya penciptaan lapangan kerja. Padahal di mana-mana, di seluruh dunia, di negeri mana pun, sering ukuran keberhasilan seorang pemimpin negeri diukur dari keberhasilannya dalam menciptakan lapangan kerja. GeorgeW. Bush di negeri yang dikenal makmur, ternyata dianggap gagal sebagai pemimpin bahkan memalukan rakyatnya karena menyuburkan pengangguran berkat politik luar negerinya yang haus perang.

Mengapa lapangan kerja? Karena rakyat butuh kesejahteraan, apalagi di Indonesia. Jika rakyat sejahtera, pemimpin mungkin boleh “melenggang” sebagai penguasa. Kalau tidak memiliki catatan yang baik sebagai insan yang menyejahterakan rakyat, apakah bisa dipercaya menjadi pemimpin yang akan memberikan kesejahteraan? Meski demikian, konstituen biasanya terlalu bodoh dan ilmu politik serta ilmu komunikasi sudah sedemikian maju hingga seorang calon tanpa rapor bagus pun bisa terus maju hingga menjadi pemimpin.

Jika praktek demokrasi di Amerika sering menjadi acuan para konsultan politik Indonesia, maka saya pun ingin mengajukan Obama sebagai acuan saya. Tetapi itu jika Obama bisa terlepas dari keraguan banyak pihak di dunia ketiga mengenai tekanan military industrial complex, karena salah satu sumber dana Obama berasal dari perusahaan-perusahaan minyak seperti Exxonmobile (Amien Rais, DetikNews.com). Obama, dalam masa kampanye pendahuluan atau primary sudah menyampaikan program-programnya. Salah satu programnya yang menunjukkan “kejeliannya” pada soal-soal yang aktual, adalah mengenai krisis energi karena kaitannya dengan beberapa soal dunia lainnya, seperti global warming, climate change, investasi usaha dan lapangan kerja baru dan di sektor baru pula. Di dalam satu programnya, Obama menegaskan akan menanamkan investasi lebih besar dari pemerintah sebelumnya di sektor energi yang berasal dari sumber alternatif yang bukan berasal dari fosil, seperti minyak bumi, batubara, gas alam dan uranium. Energi dari sumber alternatif yang juga disebut renewal energy atau tidak bisa habis ini bisa berasal dari berbagai sumber, seperti angin, gelombang laut, panas bumi, hingga sinar matahari. Penanaman modal di sektor ini selain untuk mengatasi persoalan mahalnya minyak dunia, sekaligus juga akan membantu mencegah global warming dan membuka lapangan kerja baru dan di sektor yang baru pula.

Karena saya seorang blogger, maka melalui riset kecil yang tentu dengan Google (ha…ha…ha…), saya menemukan informasi tentang perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia yang mengembangkan pemanfaatan energi dari sumber alternatif. Salah satunya dan yang paling menonjol adalah pemanfaatan sinar matahari untuk menjadi energi listrik dengan menggunakan Solar Panel atau Solar Cell. Salah satu perusahaan yang mengembangkan itu adalah Ameco, perusahaan solar energy di Selatan California sejak tahun 1974. Ameco, menjadi salah satu perusahaan energi swasta komersial yang menjual peralatan solar panel dan juga menjual jasa penyediaan listrik yang berasal dari sinar matahari (www.solarexpert.com/pvbasics2.html).

Sekarang, beberapa perusahaan listrik matahari di Amerika itu menawarkan sekitar 5 Juta Rupiah untuk sebuah solar panel yang bisa menghasilkan listrik 500 watt di rumah-rumah. Peralatan ini mampu bertahan paling tidak selama 10 tahun biaya dengan perawatan yang minimal. PhotoVoltaic (solar panel) systems have no moving parts, require virtually no maintenance, and have cells that last for decades (www.solarexpert.com/pvbasics2.html). Jika rata-rata rumah dengan 1300 watt di Indonesia menghabiskan 300 ribu rupiah perbulan untuk tagihan listrik, setidaknya bisa dihemat 150 Ribu Rupiah perbulan dan 15 Juta Rupiah selama 100 bulan (8 tahun lebih). Kemudian kalikan lagi dengan jutaan rumah di seluruh Indonesia. Perusahaan Amerika ini juga menyediakan solar panel untuk kawasan pemukiman (residential), apartemen, gedung perkantoran dan niaga atau kawasan industri.

Teknologi ini sebenarnya bukan teknologi tinggi lagi di masa ini. Teknologi ini ditemukan puluhan tahun yang lalu. Solar panel yang paling kecil dan dimanfaatkan secara komersial sebenarnya sudah kita kenal sejak tahun 70-an, yaitu pada peralatan calculator. Bahkan Indonesia pun sudah akrab dengan teknologi Solar Panel dan pemanfaatannya pada skala yang tidak main-main. PLN sudah pernah dan berhasil menyediakan listrik matahari ini di daerah-daerah terpencil. Sejumlah instansi dan lembaga pemerintah, seperti BPPT pun sudah akrab dengan pemanfaatan teknologi ini. Tetapi mengapa pemerintah tidak memaksimalkan pemanfaatan teknologi ini? Jawabannya tentu berputar-putar di sekitar lingkaran setan dunia usaha dan praktek korup para pemimpin negeri ini.

Krisis energi adalah persoalan dunia. Artinya persoalan ini terjadi di mana-mana. Bukan hanya karena persediaan energi fosil menipis dan menjadi mahal, atau karena praktek setan industri minyak dunia, tetapi juga karena eksplorasi dan penggunaannya mengakibatkan global warming. Di Indonesia, masyarakat kelas bawah sudah lama merasakan mahalnya tagihan listrik dan mahalnya transportasi dan tentu juga mahalnya barang-barang karena bergantung pada minyak sebagai sumber energi dalam melakukan kegiatan usaha dan kegiatan sehari-hari.

Apa yang dinyatakan Ameco dalam situsnya www.solarexpert.com/pvbasics2.html seharusnya bisa membuat hidung investor di sektor energi kembang kempis: Siemens Solar alone has shipped over 130 megawatts of modules since its inception, and the use of solar power is projected to grow at 10-15% per year from now until the year 2010. This is over three to five times the rate of growth of the Gross National Product of the United States!

Sayangnya hingga hari ini belum ada calon pemimpin atau politikus yang dengan cepat atau lebih dini menyebut energy crisis sebagai salah satu program mereka. Bahkan harapan saya, untuk mewakili kalangan bawah, adalah munculnya calon yang sudah memiliki solusi saat ini juga pada persoalan ini. Salah satu solusi seperti ini bisa dijadikan model berkampanye yang tidak menghambur-hamburkan uang di tengah kemelaratan rakyat saat ini. Sayangnya juga adalah para konsultan politik Indonesia tidak atau belum menawarkan model kampanye seperti ini yang sesungguhnya lebih cocok di Indonesia.

Penerapan solar panel di Indonesia bahkan bisa memberi citra bagi calon pemimpin sebagai pemberi solusi pada beberapa persoalan seperti di bawah ini:

1. keluar dari jerat monopoli PLN sebagai satu-satunya penyedia listrik
2. menghemat uang masyarakat yang dikeluarkan dalam membeli listrik
3. menggiatkan penggunaan kendaraan (alat transportasi) listrik
4. ikut mencegah kerusakan lingkungan
5. menciptakan lapangan kerja baru di sektor penyediaan energi matahari.

Ini hanya salah satu contoh tentang pilihan dari bentuk atau cara-cara berkampanye bagi para calon legislatif atau pemimpin di Indonesia. Berinvestasi di sektor energi matahari ini tentu akan diliput oleh media, sehingga calon itu bisa menghemat biaya dalam melakukan kampanye untuk membangun awareness. Tentu masih ada pilihan-pilihan lain, jika memang para colon legislatif dan pemimpin itu mau dipandang sebagai pemberi solusi, bukan bagian dari masalah yang berkepanjangan di Indonesia.

Saya tentu percaya, bahwa konsultan politik memang sudah saatnya diperlukan di negeri ini. Paling tidak untuk membentuk politikus atau pemimpin yang lebih elegan. Terutama kita memerlukan pemimpin yang dibentuk oleh konsultan politik untuk memiliki kepekaan terhadap situasi atau persoalan yang berkembang dan yang akan datang. Pemimpin yang dibentuk untuk tidak menggunakan kekerasan tetapi menggunakan komunikasi, bukan seperti para gubernur yang giat menghalau kaum urban dan kaum miskin kota. Pemimpin yang mengandalkan pada hasil riset ilmiah dalam mengelola wilayahnya, bukan seperti membangun Banjir Kanal Timur di Jakarta. Pemimpin yang memiliki satu tim ahli besar yang terdiri dari para profesional di bidangnya. Pemimpin yang mampu mengembangkan sistem untuk menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat. Semua ini memang bisa dibentuk oleh konsultan politik.

Tetapi jika konsultan politik bekerja dengan orientasi uang, maka konsultan politik akan mengusung seorang calon durjana untuk menjadi pemimpin. Konsultan politik akan tidak peduli sebesar apa pun biaya yang dikeluarkan calon durjana untuk membeli semua slot di berbagai jenis media untuk memoles citra seorang calon incompeten, busuk, bahkan jahat untuk maju ke pemilihan. Bahkan konsultan politik akan mampu memanipulasi citra korup pemimpin yang menjadi kliennya agar terus bertahan berkuasa.

Sebuah contoh dari perusahaan konsultan politik adalah perusahaan Lingkaran Survey Indonesia yang dipimpin oleh teman saya semasa kuliah dulu, Denny JA. LSI sebagai perusahaan konsultan politik meski baru beberapa tahun didirikan telah menjadi ‘king maker’ (mengutip majalah Men’s Obsession). Ada 12 gubernur serta 23 bupati dan walikota yang berhasil lolos Pilkada dengan bantuan Denny. Apakah Denny JA sebagai salah satu king maker bisa menjadi sebuah langkah awal nan besar menuju Indonesia yang lebih baik? Itu pertanyaan gatal yang bisa terjawab di tahun-tahun mendatang.

Sekarang memang musim durian. Sayang duriannya terlalu mahal buat masyarakat kecil. Indonesia memiliki 33 provinsi ditambah 440 kabupaten dan kota. Maka ada sekitar 473 musim durian di berbagai lokasi di seluruh Indonesia. Belum lagi pemilihan anggota legislatif pusat dan daerah. Demokrasi ternyata bukan hanya mahal, tetapi hanya sebuah permainan berebut pengaruh di antara yang punya duit…. Rakyat kecil memangnya tahu apa?

Dirgahayu Republik Indonesia!

Penulis pernah bekerja sebagai Marketing Research Executive di sebuah stasiun TV

Saturday, July 26, 2008

PENERIMAAN SISWA BARU SMA DI JAKARTA,REALTIME ONLINE SYSTEM?

MediaKonsumen: http://www.mediakonsumen.com/Artikel2785.html

Meski Penerimaan Siswa Baru (PSB) SMA di Jakarta sudah lewat, namun laporan di bawah ini masih relevan untuk menyambut datangnya Hari Anak Nasional (HAN) tanggal 23 Juli nanti.

Hari Senin, 30 Juni 2008, jam 09:00, saya datang ke SMA 68, di jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat untuk mengantarkan seorang keponakan saya baru saja lulus SMP di luar Jakarta. Ia ingin bersekolah di satu SMA Negeri di Jakarta. Sebagaimana disyaratkan oleh Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta (Dinas Dikmenti) di dalam websitenya, http://www.dikmentidki.psb-online.or.id/ , calon siswa dari luar Jakarta harus melakukan proses pra-pendaftaran terlebih dahulu di beberapa sekolah yang ditentukan. Untuk keponakan saya, pra-pendaftaran dilakukan di SMA 68 di jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Di dekat pintu masuk saya diberikan nomor urut oleh panitia PSB. Setelah itu saya melihat beberapa kerumunan orang yang jumlahnya kira-kira beberapa ratus orang. Karena saya tidak melihat petunjuk mengenai langkah-langkah proses pra-pendaftaran selanjutnya, terpaksa saya bertanya sana-sini mengenai di mana saya bisa mendapatkan formulir untuk saya isi. Itu kekisruhan pertama.

Ketika mencari dimana letak formulir disediakan, ternyata sedang terjadi keributan antara orangtua para calon siswa dengan panitia PSB. Mereka sedang protes kepada panitia, karena panitia menolak Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) yang mereka bawa. Panitia menetapkan SKHUN yang harus diberikan adalah yang dikeluarkan oleh Dinas Dikmenti, padahal Dinas Dikmenti tidak atau belum mengeluarkan SKHUN kepada siswa SMP di luar Jakarta yang baru lulus. Hanya siswa lulusan SMP Jakarta saja yang sudah menerima SKHUN dari Dinas Dikmenti. Di luar Jakarta, pihak sekolah lah yang mengeluarkan SKHUN. Memang aneh, jika Dinas Dikmenti membuat jadwal pra-pendaftaran pada tanggal 30 Juni, 1, 2 dan 3 Juli, serta mensyaratkan adanya SKHUN, tetapi ternyata pihak Dinas Dikmenti belum mengeluarkan atau mengirimkan SKHUN kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke SMA. Para orang tua siswa ini bersikeras agar panitia mau menerima SKHUN yang dikeluarkan dari sekolah yang mereka bawa. Jika SKHUN dari Diknas belum mereka terima, itu bukan salah para siswa. Apalagi, di dalam petunjuk pendaftaran dari Dinas Dikmenti tidak disebutkan SKHUN adalah dari Dinas Dikmenti. Apakah mereka harus pulang ke kota-kota asal mereka, atau pergi beramai-ramai ke Dinas Dikmenti untuk meminta SKHUN? Suasana jadi lebih panas, karena pihak panitia PSB di SMA 68 itu harus bertanya lebih dahulu ke Dinas Dikmenti. Pukul 10:00 lewat akhirnya Dinas Dikmenti memperbolehkan proses pra-pendaftaran dilanjutkan tanpa SKHUN dari Dinas Dikmenti.

Proses PSB SMA di Jakarta sudah beberapa tahun terakhir ini menggunakan online system. Biasanya istilah online system digunakan untuk menunjukkan terpadunya sebuah sistem dengan memanfaatkan jaringan komputer, sehingga data yang sudah disimpan dan ‘data baru’ yang akan diproses berlangsung terpadu. Proses terpadu itu membuat sistem ini juga disebut realtime karena proses berlangsung seketika dan hasilnya dapat diakses seketika dan dari komputer mana saja dalam jaringan itu.

Namun anehnya pada PSB online ini, proses pra-pendaftaran (sekali lagi, proses pra-pendaftaran ini hanya untuk siswa lulusan SMP dari luar Jakarta) harus dengan menunjukkan SKHUN, padahal bukankah data siswa lulusan SMP (termasuk data SKHUN) sudah ada di Dinas Dikmenti? Nampaknya panitia PSB memasukkan kembali (mengetik lagi) data yang ada pada SKHUN yang diterimanya pada saat proses pra-pendaftaran ke komputer, lalu mengirim data itu ke pusat…. Setelah itu baru diproses. Itu namanya kerja dua kali dan tidak online yang sebenarnya dan buang-buang waktu juga tenaga.

Menurut saya, seharusnya pra-pendaftaran atau pendaftaran sekali pun hanya dengan menggunakan Nomor Ujian Nasional, karena nomor ujian ini sudah ada di Dinas Dikmenti. Jadi dengan memasukkan nomor ujian, panitia PSB bisa melihat semua informasi calon siswa, termasuk nilai NEM dan nilai-nilai 4 mata pelajaran yang diuji pada ujian nasional, sehingga proses pendaftaran bisa dilakukan secara online dalam arti sebenarnya. Bukankah sebagaimana yang disebut oleh Dikmenti sendiri proses seleksi siswa dalam PSB ini berdasarkan nilai-nilai Ujian Nasional yang dimiliki oleh calon siswa dan sudah disimpan oleh Dikmenti? Dengan begitu tidak perlu ada proses memasukkan kembali data siswa.

Kekisruhan cara kerja panitia PSB bertambah setelah nomor urut yang diterima pada saat pertama kali datang menjadi tidak berlaku. Ini terjadi setelah ribut-ribut soal SKHUN seperti yang sudah disebutkan di atas. Akhirnya saya baru bisa menyelesaikan proses pra-pendaftaran itu pada jam 15:00, hanya untuk mendapatkan nomor registrasi pra-pendaftaran. Luar biasa online!

Kekisruhan seputar SKHUN ini ternyata terjadi juga di tempat pra-pendaftaran lain, yaitu di SMA 54, Jatinegara, Jakarta Timur. Anehnya, dua sekolah yang saya sebutkan ini adalah dua sekolah yang terkenal dengan kualitasnya yang baik. Nampaknya kekisruhan ini terjadi di semua tempat pra-pendaftaran. Di dua tempat ini tidak ada informasi mengenai langkah-langkah pra-pendaftaran yang diletakkan pada tempat yang mudah terbaca. Begitu juga informasi-informasi penting yang harus diketahui oleh para pendaftar. Akibatnya banyak orang berkerumun di depan loket atau di depan meja panitia, karena takut ketinggalan informasi. Kerumunan ini menyulitkan para pendaftar yang baru datang untuk mendekati panitia. Suasana ini mirip di pasar ayam tradisional.

Untungnya kekisruhan tidak terjadi pada saat proses pendaftaran tanggal 4,5 dan 7 Juli, meski nampaknya juga ada proses pengetikan data siswa kembali (dua kali kerja). Proses pendaftaran berlangsung cukup cepat dan hasilnya langsung muncul di jaringan komputer Dikmenti DKI yang bisa diakses melalui Internet.

Saya prihatin, karena keponakan saya pada usianya yang masih dini harus menyaksikan dan mengalami sebuah sistem pendaftaran sekolah yang lagi-lagi masih amburadul, padahal katanya pendaftaran yang online dan realtime. Menurut website Dinas Dikmenti, sistem online dan realtime ini dibuat dengan bekerja sama dengan Telkom Solution.

Saya sarankan agar di tahun depan proses pendaftaran PSB menggunakan sistem yang online dan realtime yang sesungguhnya. Jika prosesnya online, tentu proses pendaftaran bisa dilakukan melalui website Dinas Dikmenti dan dengan menggunakan satu identifikasi saja, yaitu Nomor Ujian Nasional misalnya. Proses pendaftaran tidak harus atau tidak perlu dengan mendatangi tempat pendaftaran. Dengan begitu para calon siswa SMA ini sudah diajarkan bagaimana menggunakan energi dan waktunya secara efisien dan sekaligus terbiasa dengan apa yang disebut atau dinamakan online yang sesungguhnya.